Tenaga Kerja Lokal itu “Stupid”

Aksi kerusuhan yang terjadi di Batam pada siang hari ini boleh dibilang membuat saya sedikit prihatin. Bukan hanya prihatin karena jumlah kerugian yang ditimbulkan cukup besar, tapi lebih cenderung prihatin karena faktor pemicunya — yang menurut berita, disebabkan oleh salah satu tenaga kerja ekspatriat disana yang menyebut tenaga kerja lokal “stupid”.

Memang tidak semua tenaga kerja ekspatriat yang ada di Indonesia bersikap dan bertutur kata arogan seperti yang terjadi di Batam, sehingga kemudian memicu keributan. Selama ini saya mengenal cukup banyak ekspatriat yang rendah hati dan sangat santun dalam segala tingkah lakunya. Mereka selalu memperlakukan siapapun di tempat kerjanya, terutama tenaga kerja lokal, dengan respek dan menganggap tenaga kerja lokal sebagai partner kerja yang kedudukannya setara dengan dirinya.

Namun memang tidak bisa dipungkiri, banyak sekali orang asing — terutama yang belum pernah bekerja di Indonesia sebelumnya — punya pandangan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat menarik untuk membangun karir. Kasarannya dengan gaji per bulan US$4000, mereka bisa hidup dengan amat sangat layak di Indonesia, dibandingkan menerima gaji US$6000 di Amerika, tapi hanya sekedar bisa dipakai untuk hidup dengan standar orang Amerika pada umumnya, dalam arti tidak kekurangan tapi juga tidak bisa dikatakan berlebih.

Yang lebih menarik lagi, banyak juga orang asing yang belum pernah bekerja sebelumnya di Indonesia tersebut ternyata sama sekali tidak mengetahui kualitas atau level kualifikasi tenaga kerja lokal. Mereka selalu beranggapan bahwa kualifikasi mereka selalu lebih baik dan standar kompetensi mereka selalu lebih tinggi dibandingkan tenaga kerja lokal, sehingga jelas pantas untuk dibayar lebih mahal.

Sebagai gambaran, dulu saya pernah bertemu dengan orang asing dari salah satu negara Eropa yang ingin bekerja di Indonesia untuk level direktur keuangan atau CFO. Ketika saya membaca CV-nya, ternyata posisi terakhir di negara asalnya adalah manajer keuangan. Ketika saya menanyakan apa alasannya dia merasa pantas menduduki level direktur, dia menjawab bahwa pengalamannya cukup panjang di beberapa negara Eropa dan dia merasa sanggup membawa kemampuannya tersebut ke posisi yang levelnya lebih tinggi di Indonesia.

Saya waktu itu hanya manggut-manggut, meskipun dalam hati saya berpikir bahwa dengan kemampuan seperti yang dimilikinya, saya yakin bisa mencari 10 orang tenaga kerja lokal dari database saya dengan kualifikasi jauh lebih baik dan dengan ekspektasi gaji yang mungkin hanya separuh dari ekspektasi gaji orang asing tersebut.

Memang kadang ditemui kasus seperti itu, dimana orang asing yang belum pernah bekerja di Indonesia merasa terlampau percaya diri dengan kemampuannya sehingga menganggap dirinya akan jadi yang terhebat di Indonesia.

Tapi jangan dilupakan juga kalau tenaga kerja Indonesia itu sebetulnya memiliki kemampuan dan kompetensi yang sama sekali tidak kalah dibandingkan dengan tenaga kerja asing, terutama untuk beberapa job function, seperti misalnya di keuangan, teknologi informasi, penjualan, pemasaran, dan beberapa job function lainnya.

Hanya yang membedakan secara kontras adalah tenaga kerja Indonesia harus diakui memang agak kurang pandai dalam menonjolkan kompetensinya, terutama kalau dirinya dibandingkan dengan kompetensi tenaga kerja asing.

Saya tidak tahu, mungkin faktor bahasa juga menjadi salah satu faktor penghambat, karena jelas untuk berargumen dalam bahasa Inggris tenaga kerja Indonesia akan lebih ‘blibet’ untuk mengemukakan pendapatnya dibandingkan dengan tenaga kerja asing. Mungkin lain halnya kalau harus berargumen dalam bahasa Indonesia, atau bahasa gaul misalnya.

Tapi sebetulnya yang mau saya sampaikan dalam tulisan ini adalah sebuah dorongan atau motivasi, bahwa level kompetensi tenaga kerja Indonesia itu sebetulnya tidak kalah dibandingkan dengan tenaga kerja asing. Saya sudah membaca ribuan CV tenaga kerja lokal dan saya juga sudah membaca tidak sedikit CV yang dimiliki tenaga kerja ekspatriat, percayalah kalau sebetulnya gap yang ada dalam hal pengalaman kerja maupun kompetensi itu ternyata jauh lebih sempit dibandingkan apa yang dibayangkan banyak orang sebelumnya. Bukti sederhana: toh tidak sedikit orang Indonesia yang berhasil mencapai berbagai posisi senior di perusahaan-perusahaan luar negeri, kan?

Jadi jangan pernah minder dengan tenaga kerja ekspatriat! Perbaiki kefasihan dalam berbahasa Inggris, bangun rasa percaya diri anda dan anggaplah bahwa anda setara dengan mereka sehingga mutual respect pun bisa terbangun.

Nah, kalau begini ceritanya… ya jelas sama sekali tidak ada alasan toh untuk menyebut tenaga kerja lokal “stupid” — apapun alasannya?

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

11 thoughts on “Tenaga Kerja Lokal itu “Stupid”

  1. katrok

    yups yups yups … . . .

    Setuju pak, tadinya saya berfikir bahwa ekpatriat2 itu lebih cerdas daripada kita, setelah saya bekerja satu ruangan dengan beebrapa ekpatriat tidak tahunya sama aja, malah dalam beberapa perumusan masalah n solusi, saya lebih bisa katakan banyak orang lokal yang lebih cerdas.

    tapi saya akui mereka memang lebih rajin, n lebih loyal
    (tapi saya kira wajar la wong gaji mereka 10X lipat (mungkin lebih) gaji tenaga kerja lokal)

    hahahaha . . .

    [Reply]

    Reply
  2. Lusia

    Selama bertahun tahun saya bekerja langsung dengan beberapa expatriat, saya mengetahui betul kalau tidak semua tenaga asing se “wah” seperti yang ada di bayangan kebayakan orang Indonesia.Bahkan ada beberapa expatriat yang baru join dengan kedudukan tinggi harus di training dulu oleh orang Indonesia, setelah di training mereka di kasih wewenang untuk memutuskan. Ironis kan?

    Kendala tenaga kerja local adalah :
    – Bahasa Inggris
    – Kepercayaan diri, kebanyakan kita sudah merasa “ngeri” kalo liat orang asing, dan gak berani ngomong selain “OK, OK, OK ”
    – Mental yang lebih senang di jajah. Terkadang orang kita nya sendiri yang membuat mereka menjadi raja, lihat saja kalau kita pergi ke mall, reaksi beberapa pelayan akan beda bila counternya di liat liat oleh orang Bule, dan judes pada saat counternya di liat liat orang Indonesia. Begitu juga orang HRD apa pun request dari karyawan asing ” owh yes yes yes” request yang sama dari tenaga local ” owh gak bisaaaa ! ”
    – Sifat orang Indonesia yang selalu manut dan kurang punya “self promotion”

    Kendala yang diluar kontrol kita
    – Perusahaan tempat bekerja adalah perusahaan punya orang asing, dan hanya percaya orang asing untuk posisi manager ke atas, walaupun orang asing tsb di negaranya yaah cuma biasa biasa saja. Ini tidak lepas dari keadaan negara Indonesia yang masih “terjajah” secara ekonomi, atau malah memberikan diri untuk di jajah, banyak SDA Indonesia di kuasai (di kasih kan ke) asing dan asing jadi bosnya kita jadi kulinya. Ini PR pemerintah Indonesia.
    – Mutu pendidikan Indonesia masih sangat jauh di banding mutu pendidikan negara negara lain, atau ada yang memberikan mutu baik tapi harus keluar uang tinggi sekali, sedangkan keadaan ekonomi Indonesia secara rata rata masih rendah, dan hanya orang orang tertentu bisa menikmati mutu pendidikan bagus. Ini lagi lagi PR pemerintah Indonesia.
    – Kenyataan kalau Indonesia adalah negara ketiga, dan masih banyak di pandang sebelah mata oleh bangsa bangsa lain.

    Marilah kita semua meningkatkan etos kerja membangun rasa percaya diri yang kuat, tapi tetap santun dan bermartabat.

    [Reply]

    Reply
  3. Mark

    Kendala yang diluar kontrol kita- Perusahaan tempat bekerja adalah perusahaan punya orang asing, dan hanya percaya orang asing untuk posisi manager ke atas, walaupun orang asing tsb di negaranya yaah cuma biasa biasa saja. Ini tidak lepas dari keadaan negara Indonesia yang masih “terjajah” secara ekonomi, atau malah memberikan diri untuk di jajah, banyak SDA Indonesia di kuasai (di kasih kan ke) asing dan asing jadi bosnya kita jadi kulinya. Ini PR pemerintah Indonesia.- Mutu pendidikan Indonesia masih sangat jauh di banding mutu pendidikan negara negara lain, atau ada yang memberikan mutu baik tapi harus keluar uang tinggi sekali, sedangkan keadaan ekonomi Indonesia secara rata rata masih rendah, dan hanya orang orang tertentu bisa menikmati mutu pendidikan bagus. Ini lagi lagi PR pemerintah Indonesia.- Kenyataan kalau Indonesia adalah negara ketiga, dan masih banyak di pandang sebelah mata oleh bangsa bangsa lain.
    +1

    [Reply]

    Reply
  4. Yoseph

    Bekerja di lingkungan yg ada expat dan orang lokalnya di level yg sama, membuat saya mengerti bahwa orang kita juga tdk kalah pintar, cerdas dan punya kompetensi yg bagus serta well-updated di bidangnya dibanding expat. Expat juga ada yg sok pintar, merasa lebih unggul dan tidak pernah mau belajar dari orang lokal, meskipun jelas2 bidang yg ia kerjakan mengharuskannya belajar dari orang lokal sbg partner-nya. Expat spt ini biasanya tdk bertahan lama, terseleksi dan tereliminasi dgn sendirinya dari bisnis perusahaan kami.

    Benar bahwa kebanyakan kendala adalah di soal bahasa/komunikasi. Namun ada beberapa upaya yg akhirnya membuat justru expat yg harus belajar bagaimana mengerti orang Indonesia berbahasa dan berkomunikasi. Dgn ini gap bahasa bisa diperkecil.

    Pengalaman lain, ada 2 orang teman yg bekerja di PMA yg berbeda di Indonesia. Pada saat mereka resign setelah bekerja bertahun2 ternyata penggantinya adalah expat. Ini kebalikan dari yg biasanya terjadi, yaitu expat resign kemudian digantikan oleh orang lokal.

    Menjadi unggul dan sesedikit mungkin bergantung kepada –apalagi mendewakan– expat saya pikir bisa diterapkan mulai dari diri sendiri, lalu ditularkan kepada keluarga, sahabat dan rekan2 sekerja selingkungan. Dgn cara ini semoga bangsa kita lebih menghargai sumberdaya lokalnya, termasuk bagaimana mendidik dan mengembangkan kompetensinya. Pendidikan bagus, sumberdaya pun akan bagus. Semoga.

    [Reply]

    Reply
  5. Bastian

    Respon saya telat, tapi mudah-mudahan berguna…

    Saya adalah seorang expatriate asal Indonesia, ini saat ini bekerja untuk sebuah MNC, bertugas untuk mengepalai IT di Jepang dan Korea; dan beberapa proyek ERP di Asia.

    Menjadi profesional asal Indonesia yang kompetitif di negara lain boleh jadi menjadi satu kebanggaan, namun penuh perjuangan. Sering kali saya dianggap rendah apalagi jika harus bersaing dengan expat-expat dari negara maju. Namun dengan rendah hati saya buktikan bahwa profesional asal Indonesia tidak kalah bijak dan cerdas dibandingkan dengan profesional dari negara-negara lain.

    Saya pelajari beberapa hal yang bisa membuat pekerja asal negara kita tidak dipandang rendah atau disebut “stupid” oleh expat asing:-
    1. Be SMART (Rencanakan dengan baik). Hasil yang terbaik bisanya terealisasi jika direncanakan secara baik. Apakah rencana kerja Anda spesifik (S=Specific), bisa diukur (M=Measurable), terjangkau (A=Attainable), realistis (R=Realistic), dan tepat waktu (T=Timely)?
    2. Be VIP (Vision, Initiative, Persistence). Lakukan perkerjaan sesuai dengan misi dan visi perusahaan (sekecil apapun tugas Anda), tidak malu untuk berinisiatif (tentunya harus melalui jalur yang benar) dan konsisten untuk melakukan pekerjaan secara efektif dan efisien (Peter Drucker: “Efficiency is doing things right; effectiveness is doing the right things”)
    3. Secara periodik, tinjau apa yang sudah Anda lakukan, keberhasilan dan kegagalan Anda.
    4. Pertahankan nilai-nilai positif yang Anda miliki, yang bisa memberikan kontribusi positif bagi perusahaan/organisasi Anda.
    5. “Jual” keberhasilan Anda kepada orang-orang yang tepat. Cari orang-orang yang cukup berpengaruh untuk bisa memberikan rekomendasi atas keberhasilan Anda kepada orang lain. Berikan fakta bahwa Anda layak mendapatkan rekomendasi tersebut; bukan untuk menunjukkan kesombongan atau bermain politik.

    Salam,
    Bastian

    [Reply]

    Haryo reply:

    Thank you for sharing, Pak Bastian.

    [Reply]

    Reply
  6. Tony

    Terkadang saya tidak bisa mengerti dengan lingkungan bangsa kita.
    Para expat itu bekerja di Indonesia dan mencari nafkah di Indonesia. Yang membuat saya bingung, mengapa kita harus mengikuti bahasa para expat yang telah dibayar sangat tinggi tersebut.
    Sepertinya kita tidak bangga terhadap bahasa Indonesia, dan secara mental kita mulai terjajah dari sisi bahasa yang kemudian diikuti dengan hal2 lainnya.

    Apakah Pak Bastian, selaku expat di negara Jepang dan Korea menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar sehari2nya??? Bagaimana negara ini mau dipandang apabila para profesional dari Indonesia sendiri tidak bangga dengan tanah airnya.

    Seharusnya mereka yang belajar bahasa Indonesia karena mereka mencari nafkah di Indonesia.

    [Reply]

    Reply
  7. Firhan Sani Lubis

    Saya setuju apa yang Pak Haryo sampaikan, tidak sedikit kompetensi org Indonesia yang melebihi kompetensi orang asing. Apalagi orang asing yang berasal dari Asia Selatan. Saya pandang kelebihan mereka hanya satu yaitu Bahasa Inggris, selain itu bisa dikatakan sama dgn kita malah ada yg 0 besar.

    Namun karena mereka punya crazy skill yaitu style dan cara mereka bersikap seolah mereka expert padahal o’on , apalagi tdk sedikit org Indonesia yang gak paham style mereka sehingga mereka dianggap org hebat. Maka mereka semakin leluasa memerintah semaunya, malah berani mengatur org Indonesia yang tdk sesuai dengan norma2 ketenagakerjaan disini.

    Saya setuju apa yang dikatakan rekan Lusi. Saya bisa pastikan kejadian di Batam terjadi karena mental2 para Manajemen dan para Middle Manajemen adalah mental budak, mental mau dan nerima dijajah. Mungkin ada juga dari sebagian kecil yg ingin bersuara, namun apa daya taktik org Asia Selatan tsb lebih pintar krn crazy skillnya tersebut yaitu terjadi adu domba diantara org2 Indonesia.

    Terus terang, apa yg saya tulis diatas merupakan kondisi dan wajah tempat rekan saya kerja skrng di perusahaan EPC milik org Asia Selatan. Dari info yang saya dapat memang saya akui umumnya org Asia Selatan tsb memiliki sikap yg tidak logis, susah diajak kerja sama, paling jago maen lempar2 kerjaan dan gak segan2 bikin masalah juga gak friendly. Apalagi ditambah org Indonesia yang hanya bisa Yes OK Yes OK saja, semakin menambah mereka bersikap tdk sopan. Yang lebih parah lagi yaitu masalah HRD di perusahaan tsb. Sudah jelas di Indonesia ada aturan normatif yang berlaku, tp mereka berani2nya menentang dan melawan, sementara para “chikcken lokal” tsb diam seribu bahasa, sdh 65 thn merdeka mau2nya diintimidasi.

    Sebenarnya tempat saya kerja milik org Asia Selatan jg (sebelumnya Spore), namun karena adanya info miring ttg sikap org Asia Selatan akhirnya kami dirikan Serikat Pekerja. Selama kebijakan yg ditetapkan bertentangan dgn peraturan perundang2an, maka tidak segan2 kami hajar mereka untuk menyadarkan mereka namun tetap saja karena sdh bawaan orok selalu bersikap konyol dan ada usaha utk “akal2an” atau membelok2an suatu kebjiakan. Yang paling menyakitkan justru lokal2 yang tidak punya sikap atas adanya stupid policy, mereka OK Yes OK Yes padahal policy tsb bertentangan dgn norma2 hukum. Tapi apa dikata mungkin mereka masih memiliki mental budak yang siap dijajah dan belum merdeka!

    Semoga hal ini bisa dijadikan pehamanan utk kita semua. Sesuai dgn peribahasa “dimana bumi dipijak disitulah langit dijinjing”, baiknya setiap org hrs bisa memahami kondisi dan suasana suatu tempat yang akan dia singgahi.

    [Reply]

    Reply
  8. Joddy

    Kalo dibanding Expat yang ada dikantor saya, kita orang lokal justru lebih menonjol & pintar, kenapa demikian?, kembali kepada tujuan pemerintah kita memperkerjakan expat adalah untuk alih transfer teknologi yg dimiliki oleh expat tersebut kepada orang lokal sehingga bisa meningkatkan kualitas human resource kita, tapi di perusahaan tempat saya apa yg terjadi justru kita orang lokal yang transfer kemampuan kita ke mereka dengan bayaran gaji yg minim, hal ini sangat miris bukan?, jadi menurut saya rata-rata expat disini adalah untuk gaya-gayaan dan utk simbolis karena kita orang lokal masih saja membanggakan expat sebagai sesuatu yang hebat yang kenyataannya adalah pemborosan biaya operasional saja.

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *