Tarif tol akan naik mulai akhir bulan September 2009. Berita ini tentunya menjadi berita buruk bagi banyak pengguna jalan tol, khususnya yang sehari-hari mengendarai kendaraan pribadi dan selalu melewati ruas jalan tol yang termasuk dalam rencana kenaikan tarif tol tersebut.

Rasanya makin lengkap sudah derita orang yang bekerja di Jakarta, khususnya yang bekerja di pusat kota. Menghadapi kemacetan di pagi hari seakan menjadi menu sarapan, dan menghadapi kemacetan di sore dan malam hari seakan menjadi menu makan malam yang harus dianggap sebagai sebuah kewajaran, dan masih ditambah pula dengan biaya tinggi yang harus ditanggung untuk ongkos transportasi pulang pergi dari rumah sampai ke tempat kerja.

Melihat fakta seperti ini terus terang saya tidak habis pikir, mengapa banyak perusahaan yang tidak menerapkan kebijakan telecommuting untuk sebagian, atau malah seluruh pegawainya?

Memang harus diakui bahwa penerapan telecommuting ini tidak bisa diberlakukan di semua sektor industri ataupun semua job role. Ada industri tertentu yang tentunya sulit untuk melaksanakan telecommuting ini, misalnya yang terkait dengan pelayanan publik (pelayanan kesehatan, bank) dan industri manufaktur (yang sepertinya selalu dikejar target produksi).

Dengan perkembangan teknologi informasi yang makin pesat dan makin meratanya akses internet di kawasan pemukiman, seharusnya penerapan kebijakan telecommuting (bekerja di rumah satu atau dua hari dalam seminggu) bukan menjadi sesuatu yang sedemikian sulit untuk dilaksanakan.

Tinggal kembali kepada willingness dari para pembuat kebijakan di masing-masing perusahaan untuk bisa melihat telecommuting sebagai salah satu solusi alternatif untuk melakukan efisiensi perusahaan dalam bentuk lain, sekaligus juga memberikan benefit kepada pegawai perusahaan untuk dapat menyeimbangkan dua aspek penting dalam hidupnya: kehidupan profesional dan kehidupan pribadi.

Kalau di Amerika Serikat saja hal ini sudah dilakukan dengan hasil yang sangat memuaskan (baik dari sudut pandang employer maupun employee), mengapa kita di Indonesia tidak bisa menerapkannya secara lebih serius? Hitung-hitung membantu pemerintah secara tidak langsung untuk mengurangi angka polusi udara dan tingkat kemacetan di Jakarta yang nampaknya makin memburuk dari hari ke hari.

Bila keraguan akan menurunnya produktifitas pegawai akibat penerapan telecommuting menjadi alasan utama untuk tidak menerapkannya, saya pikir itu bukan merupakan sebuah jawaban. Justru sebaliknya, dengan keleluasaan yang diberikan maka pihak employer dapat menuntut agar employee pun semakin meningkatkan produktifitas kerjanya. Bila produktifitas yang diharapkan tak dapat tercapai dengan penerapan telecommuting, persilakan employee tersebut untuk kembali ke kantor dan bekerja dengan jadwal dan rutinitas seperti semula.

As simple as that.