Selamat, Anda Gagal Dalam Psikotes!

Beberapa tahun yang lalu sebelum menjadi konsultan di bidang rekrutmen, saya tidak terlalu peduli kalau ada rekan yang berkeluh-kesah ketika sedang menjalani proses rekrutmen di sebuah perusahaan.

Namun kini setelah saya berkecimpung di bidang rekrutmen dan mencoba mengingat-ingat kembali, ternyata kebanyakan rekan-rekan yang berkeluh kesah kala itu memiliki sebuah kesamaan, mereka rata-rata berharap dalam proses rekrutmen tersebut tidak ada tahapan psikotes yang mesti dilalui.

Psikotes, psikotest, psychometric test, psychological assessment, atau dengan istilah apapun orang menyebutnya, harus diakui seakan-akan menjadi sebuah momok yang menakutkan dalam sebuah proses rekrutmen. Banyak orang yang merasa bahwa kesempatan untuk bekerja di perusahaan idaman menjadi sirna ketika harus menjalani psikotes dan akhirnya gagal dalam tahapan tersebut.

Saya akui saya bukan berprofesi sebagai psikolog (meskipun Insya Allah tahun ini juga akan memulai kuliah S2 di Program Magister Psikologi Terapan), jadi kali ini saya ingin membatasi cakupan tulisan dengan membahas psikotes ini dari sisi seorang recruiter yang kebetulan memahami esensi dan tujuan dari pelaksanaan sebuah psikotes.

Kalau mengacu pada pemahaman secara bebas, sebetulnya psikotes dimaksudkan untuk mencari orang dengan karakteristik tertentu yang dirasa tepat untuk mengisi sebuah posisi di perusahaan dan kemudian orang tersebut diharapkan sanggup menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan hasil terbaik.

Nah, kalau dibaca sekali lagi dari paragraf diatas, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah menyangkut soal karakter. Kedua adalah menyangkut soal kinerja.

Dua hal ini saling berkaitan karena dari sononya setiap orang memang memiliki karakter kepribadian yang berbeda dan membuatnya memiliki preferensi pekerjaan dan lingkungan kerja yang berbeda-beda pula.

Bayangkan kalau saya dulu diterima di jurusan akuntansi padahal saya bukanlah orang yang detail oriented, bisa-bisa saya lulus setelah menempuh kuliah sepuluh tahun dan setelah itu tidak akan pernah bisa bekerja sebagai akuntan karena selalu gagal dalam psikotes.

Tapi kalau boleh saya membesarkan hati anda yang merasa selalu gagal dalam psikotes, sebetulnya tidak ada istilah gagal psikotes atau tidak lulus psikotes. Sebaliknya anda justru harus bersyukur kalau selama ini anda selalu gagal dalam psikotes, karena itu memberikan indikasi yang cukup jelas kalau selama ini anda ternyata sedang mengejar karir ke arah yang keliru.

Mungkin yang terbaik untuk anda memang bukan berkarir di bidang itu. Jadi tidak ada gunanya juga anda ngebet ingin menjadi profesional di bidang human resources kalau anda adalah orang yang terlalu kaku, sulit bergaul dan lebih suka bekerja sendiri. Sampai kapan pun anda akan selalu failed di psikotes untuk dapat diproses lebih lanjut untuk posisi HR.

Jadi setiap kali menghadapi psikotes, santai saja. Tidak perlu membuang uang untuk membeli buku-buku psikotes yang terbit di pasaran. Itu mungkin akan membantu anda untuk menjawab soal-soal psikotes, tapi itu tidak akan membantu anda untuk menemukan pekerjaan yang paling sesuai dengan karakter anda yang memang unik dan berbeda dengan orang lain.

Sekali lagi saya berikan penekanan, setiap orang adalah individu unik dan berbeda dengan orang lain.

Kalau anda masih tetap berkeras ingin bisa lolos dalam tahapan psikotes, saya hanya bisa menyarankan satu hal: cari dulu bidang pekerjaan yang memang betul-betul sesuai dengan karakter anda.

Kalau anda sudah menemukan bidang pekerjaan tersebut, percayalah ketika anda melamar ke satu perusahaan untuk pekerjaan yang sesuai dengan karakter anda, psikotes macam apapun bisa anda lalui dengan mudah dan dengan hasil yang memuaskan semua pihak.

Sebagai langkah awal sebelum berkonsultasi dengan psikolog profesional, anda bisa membaca ebook yang saya tulis beberapa waktu yang lalu. Dibalik kesederhanaan proses asesmen yang dibahas dalam buku tersebut, sebetulnya itu sudah cukup untuk memberikan gambaran mengenai diri, karakter dan preferensi anda di dunia kerja, termasuk didalamnya bidang pekerjaan atau profesi apa yang kiranya cocok untuk anda.

Semoga bisa membantu untuk membuka wawasan kita semua mengenai psikotes, khususnya dalam dunia kerja.

Share this article!

Related Articles:

8 thoughts on “Selamat, Anda Gagal Dalam Psikotes!

  1. saya baru saja menjalani psikotes untuk posisi yang sangat saya idamkan. tapi hasilnya adalah nihil. saya gagal. mungkin dalam test yang disebut DISC (Most and Least option), sebab pemandunya menekankan untuk mengisi secepat mungkin karena tes ini merupakan penilaian terhadap diri sendiri. sedangkan pada saat tes berlangsung, saya masi sempat ragu-ragu utnuk mengisi. apa mungkin saya masih kurang mengenal karakter saya sendiri?

    Setelah membaca tulisan ini rasa kecewa saya sedikit terobati.
    Tapi saya tetap tidak habis pikir.
    Dari belasan pekerjaan yang saya apply tidak ada satu pun yang diterima.
    dan saya sudah mencoba semua alternatif pekerjaan. ada yang sesuai dengan jurusan saya dan ada juga yang tidak.
    Terima kasih jika sudah dibaca. Hanya ingin menumpahkan isi hati.

    [Reply]

    Haryo reply:

    Seharusnya DISC Assessment tidak mewajibkan pengisinya untuk mengisi secepat mungkin. Batasan waktu memang pasti ada, tapi sepengetahuan saya DISC Assessment bukan merupakan speedtest, karena justru harus diisi dengan hati-hati agar hasilnya bisa menggambarkan karakter dan preferensi diri secara lebih akurat.

    [Reply]

  2. saya juga berpikir begitu. karena ada beberapa kata sifat yang sulit saya tentukan mana yang lebih cocok.

    apa benar hasil dari DISC Assessment akan menghasilkan 3 grafik? dan jika grafik tersebut terlalu berdekatan, maka orang tersebut belum mengenal dirinya sendiri.

    terima kasih mas Haryo.

    [Reply]

  3. mas kalau misalkan jurusan yg saya ambil skrng katakanlah salah atau tidak sesuai dengan kemampuan saya bgmn????
    jujur sy tidak tau di bidang apa yg saya kuasai, karena psychotest yg sy lakukan kebanyakn untuk seleksi pekerjaan, jadi hanya tau lolos atau tidaknya, bukan utk mengetahui apa yg menjadi keahlian sy…
    dan apabila suatu saat sy mengetahui kemampuan sy, apakah sudah terlambat, karena tidak mengetahui disiplin ilmunya…
    jadi intinya saya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan, karna tdk tau apa bakat, dan kemampuan yg sy miliki..
    ckckckckck mengenaskan….

    [Reply]

  4. ah..psikotes itu teori barat tidak cocok dengan indonesia…kalo di terapkan di negara kita yang kayak gini carut marutnya..mana bisa…justru menimbulkan ketimpangan…semakain tidak adil …orang kerja motif terbesar ya cari duit..kalo sesuai bidang itu cocok bagi negara yang sudah maju kesadarannya.kan sudah banyak orang lulus test tapi loyalitas nya masih kurang atau gak ada blas…orang tua dulu bilang kerja keras nomor satu dan pintar pasti ikut….sudah jelas orang kerja bukan karena otak..tapi kerja keras meski bodo namanya kerja keras kan sambil belajar..berapa prosentase orang yang cocok di bidangnya di negara indonesia..tak ada pengaruhnya bagi negara…kita…INGAT KESUKSESAN BERAWAL DARI KERJA KERAS DAN
    PANDAI AKAN IKUT..bukan psikotes

    “tukang rombeng punya anak buah S1″

    [Reply]

  5. Saya biasanya selalu gagal dalam tahapan psikotes. Saya kadang bertanya apakah psikotes menjadi jaminan bahwa seseorang bisa bekerja dengan baik dan benar.

    Saya pernah mendengar sebuah pengalaman bahwa orang yang pintar (kebanyakan psikotes untuk menilai seberapa pintar Anda) belum tentu dapat bekerja dengan baik dalam sebuah tim. Kadang yang pintar malah arogan dan selalu merasa benar sendiri.

    Bagaimana cara psikotes mampu menilai hal-hal yang demikian?

    Terima kasih.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>