Selamat, Anda Gagal Dalam Psikotes!

Beberapa tahun yang lalu sebelum menjadi konsultan di bidang rekrutmen, saya tidak terlalu peduli kalau ada rekan yang berkeluh-kesah ketika sedang menjalani proses rekrutmen di sebuah perusahaan.

Namun kini setelah saya berkecimpung di bidang rekrutmen dan mencoba mengingat-ingat kembali, ternyata kebanyakan rekan-rekan yang berkeluh kesah kala itu memiliki sebuah kesamaan, mereka rata-rata berharap dalam proses rekrutmen tersebut tidak ada tahapan psikotes yang mesti dilalui.

Psikotes, psikotest, psychometric test, psychological assessment, atau dengan istilah apapun orang menyebutnya, harus diakui seakan-akan menjadi sebuah momok yang menakutkan dalam sebuah proses rekrutmen. Banyak orang yang merasa bahwa kesempatan untuk bekerja di perusahaan idaman menjadi sirna ketika harus menjalani psikotes dan akhirnya gagal dalam tahapan tersebut.

Saya akui saya bukan berprofesi sebagai psikolog (meskipun Insya Allah tahun ini juga akan memulai kuliah S2 di Program Magister Psikologi Terapan), jadi kali ini saya ingin membatasi cakupan tulisan dengan membahas psikotes ini dari sisi seorang recruiter yang kebetulan memahami esensi dan tujuan dari pelaksanaan sebuah psikotes.

Kalau mengacu pada pemahaman secara bebas, sebetulnya psikotes dimaksudkan untuk mencari orang dengan karakteristik tertentu yang dirasa tepat untuk mengisi sebuah posisi di perusahaan dan kemudian orang tersebut diharapkan sanggup menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan hasil terbaik.

Nah, kalau dibaca sekali lagi dari paragraf diatas, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah menyangkut soal karakter. Kedua adalah menyangkut soal kinerja.

Dua hal ini saling berkaitan karena dari sononya setiap orang memang memiliki karakter kepribadian yang berbeda dan membuatnya memiliki preferensi pekerjaan dan lingkungan kerja yang berbeda-beda pula.

Bayangkan kalau saya dulu diterima di jurusan akuntansi padahal saya bukanlah orang yang detail oriented, bisa-bisa saya lulus setelah menempuh kuliah sepuluh tahun dan setelah itu tidak akan pernah bisa bekerja sebagai akuntan karena selalu gagal dalam psikotes.

Tapi kalau boleh saya membesarkan hati anda yang merasa selalu gagal dalam psikotes, sebetulnya tidak ada istilah gagal psikotes atau tidak lulus psikotes. Sebaliknya anda justru harus bersyukur kalau selama ini anda selalu gagal dalam psikotes, karena itu memberikan indikasi yang cukup jelas kalau selama ini anda ternyata sedang mengejar karir ke arah yang keliru.

Mungkin yang terbaik untuk anda memang bukan berkarir di bidang itu. Jadi tidak ada gunanya juga anda ngebet ingin menjadi profesional di bidang human resources kalau anda adalah orang yang terlalu kaku, sulit bergaul dan lebih suka bekerja sendiri. Sampai kapan pun anda akan selalu failed di psikotes untuk dapat diproses lebih lanjut untuk posisi HR.

Jadi setiap kali menghadapi psikotes, santai saja. Tidak perlu membuang uang untuk membeli buku-buku psikotes yang terbit di pasaran. Itu mungkin akan membantu anda untuk menjawab soal-soal psikotes, tapi itu tidak akan membantu anda untuk menemukan pekerjaan yang paling sesuai dengan karakter anda yang memang unik dan berbeda dengan orang lain.

Sekali lagi saya berikan penekanan, setiap orang adalah individu unik dan berbeda dengan orang lain.

Kalau anda masih tetap berkeras ingin bisa lolos dalam tahapan psikotes, saya hanya bisa menyarankan satu hal: cari dulu bidang pekerjaan yang memang betul-betul sesuai dengan karakter anda.

Kalau anda sudah menemukan bidang pekerjaan tersebut, percayalah ketika anda melamar ke satu perusahaan untuk pekerjaan yang sesuai dengan karakter anda, psikotes macam apapun bisa anda lalui dengan mudah dan dengan hasil yang memuaskan semua pihak.

Sebagai langkah awal sebelum berkonsultasi dengan psikolog profesional, anda bisa membaca ebook yang saya tulis beberapa waktu yang lalu. Dibalik kesederhanaan proses asesmen yang dibahas dalam buku tersebut, sebetulnya itu sudah cukup untuk memberikan gambaran mengenai diri, karakter dan preferensi anda di dunia kerja, termasuk didalamnya bidang pekerjaan atau profesi apa yang kiranya cocok untuk anda.

Semoga bisa membantu untuk membuka wawasan kita semua mengenai psikotes, khususnya dalam dunia kerja.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

49 thoughts on “Selamat, Anda Gagal Dalam Psikotes!

  1. Anton

    saya baru saja menjalani psikotes untuk posisi yang sangat saya idamkan. tapi hasilnya adalah nihil. saya gagal. mungkin dalam test yang disebut DISC (Most and Least option), sebab pemandunya menekankan untuk mengisi secepat mungkin karena tes ini merupakan penilaian terhadap diri sendiri. sedangkan pada saat tes berlangsung, saya masi sempat ragu-ragu utnuk mengisi. apa mungkin saya masih kurang mengenal karakter saya sendiri?

    Setelah membaca tulisan ini rasa kecewa saya sedikit terobati.
    Tapi saya tetap tidak habis pikir.
    Dari belasan pekerjaan yang saya apply tidak ada satu pun yang diterima.
    dan saya sudah mencoba semua alternatif pekerjaan. ada yang sesuai dengan jurusan saya dan ada juga yang tidak.
    Terima kasih jika sudah dibaca. Hanya ingin menumpahkan isi hati.

    [Reply]

    Haryo reply:

    Seharusnya DISC Assessment tidak mewajibkan pengisinya untuk mengisi secepat mungkin. Batasan waktu memang pasti ada, tapi sepengetahuan saya DISC Assessment bukan merupakan speedtest, karena justru harus diisi dengan hati-hati agar hasilnya bisa menggambarkan karakter dan preferensi diri secara lebih akurat.

    [Reply]

    Reply
  2. Anton

    saya juga berpikir begitu. karena ada beberapa kata sifat yang sulit saya tentukan mana yang lebih cocok.

    apa benar hasil dari DISC Assessment akan menghasilkan 3 grafik? dan jika grafik tersebut terlalu berdekatan, maka orang tersebut belum mengenal dirinya sendiri.

    terima kasih mas Haryo.

    [Reply]

    Reply
  3. wenx

    mas kalau misalkan jurusan yg saya ambil skrng katakanlah salah atau tidak sesuai dengan kemampuan saya bgmn????
    jujur sy tidak tau di bidang apa yg saya kuasai, karena psychotest yg sy lakukan kebanyakn untuk seleksi pekerjaan, jadi hanya tau lolos atau tidaknya, bukan utk mengetahui apa yg menjadi keahlian sy…
    dan apabila suatu saat sy mengetahui kemampuan sy, apakah sudah terlambat, karena tidak mengetahui disiplin ilmunya…
    jadi intinya saya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan, karna tdk tau apa bakat, dan kemampuan yg sy miliki..
    ckckckckck mengenaskan….

    [Reply]

    Reply
  4. sandal jept

    ah..psikotes itu teori barat tidak cocok dengan indonesia…kalo di terapkan di negara kita yang kayak gini carut marutnya..mana bisa…justru menimbulkan ketimpangan…semakain tidak adil …orang kerja motif terbesar ya cari duit..kalo sesuai bidang itu cocok bagi negara yang sudah maju kesadarannya.kan sudah banyak orang lulus test tapi loyalitas nya masih kurang atau gak ada blas…orang tua dulu bilang kerja keras nomor satu dan pintar pasti ikut….sudah jelas orang kerja bukan karena otak..tapi kerja keras meski bodo namanya kerja keras kan sambil belajar..berapa prosentase orang yang cocok di bidangnya di negara indonesia..tak ada pengaruhnya bagi negara…kita…INGAT KESUKSESAN BERAWAL DARI KERJA KERAS DAN
    PANDAI AKAN IKUT..bukan psikotes

    “tukang rombeng punya anak buah S1”

    [Reply]

    Reply
  5. Muhammad Baiquni

    Saya biasanya selalu gagal dalam tahapan psikotes. Saya kadang bertanya apakah psikotes menjadi jaminan bahwa seseorang bisa bekerja dengan baik dan benar.

    Saya pernah mendengar sebuah pengalaman bahwa orang yang pintar (kebanyakan psikotes untuk menilai seberapa pintar Anda) belum tentu dapat bekerja dengan baik dalam sebuah tim. Kadang yang pintar malah arogan dan selalu merasa benar sendiri.

    Bagaimana cara psikotes mampu menilai hal-hal yang demikian?

    Terima kasih.

    [Reply]

    Reply
  6. putra

    salam hormat,

    Saya baru saja membaca pengumuman tentang hasil psikotes saya, dan hasilnya adalah gagal seperti sebelum-sebelumnya, sampai – sampai saya berfikir sebegitu bodohkah saya?, sebegitu tidak kompetenkah saya untuk dipilih perusahaan? padahal dari segi akademik nilai saya tidak jelek, atau apakah saya memiliki gangguan kejiwaan sehingga mereka tidak memilih saya? sebegitu tidak bisakah saya diajak kerjasama sampai-sampai para psikolog selalu tidak meloloskan saya? Sebegitu desperate-nya saya karena tidak 1 atau 2 kali gagal dalam psikotes, sampai saya putuskan untuk browsing di Internet tentang alasan selalu gagal dalam psikotes dan akhirnya menemukan tulisan Bapak dengan judul yang cetttaaarrr membahana hehehe… Setelah membacanya, saya jadi punya alasan lain selain alasan-alasan negatif di atas, mungkin saja saya sedang “salah jalan”. Saya mengucapkan terima kasih karena bapak menulis topik ini, dan sungguh ini suatu penghiburan untuk saya. Terima kasih
    *)maaf sedikit curcol 🙂

    [Reply]

    Reply
  7. Haryansa

    Saya sudah 3 kali gagal pak dalam mengikuti psikotet..
    terkadang saya bertanya.
    apa ya yg membuat saya gagal begini…

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Tidak perlu kecil hati… coba kenali karakter kita, karena kalau karakter kita kurang/tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang kita lamar, tentunya sampai ratusan kali mencoba pun biasanya akan tetap ditolak. Jadikan ini sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri dalam menemukan jenis pekerjaan yang betul-betul sesuai dengan karakter kita agar jalan untuk meraih kesuksesan juga menjadi lebih mudah 😉

    [Reply]

    Reply
  8. Rikat

    Saya gagal di psikotest, saya lulusan akuntansi dan ingin berprofesi di bidang ini, tipe mana yang cocok bagi bidang ini? Trus apa yg harusnya saya lakukan?

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Coba untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri kita. Cara paling mudah adalah dengan mencoba tes/assessment gratis yang ada di internet. Saya sarankan coba menggunakan MBTI, karena itu yang paling sederhana dan mudah dipahami interpretasinya. Silakan di-googling ya…

    [Reply]

    Reply
  9. Aji

    Mas cara mengatasi klambanan dalam mnjwb bagaimana ya? Saya bingg sllu gagal dlm psikotest..

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Yakin kegagalan dalam psikotes karena lamban dalam menjawab? Lamban dalam menjawab tapi dengan tingkat akurasi yang tinggi setahu saya dinilai lebih baik daripada cepat dalam menjawab tapi tingkat akurasinya rendah.

    [Reply]

    Reply
  10. risky april

    Tgl 11 oktober kmaren saya mengikuti psikotes PT.KAI,, dengan tekad dan smangat yg kuat saya mejalani psikotes tsb. Saya percaya dan yakin saya mngerjakan psikotes dgn benar, namun trnyata stelah pngumuman d tempel nama saya tidak muncul. Saya bnar2 sangat kecewa, sampai saat ini saya masih brtanya2 apa yg mmbuat saya gagal dlm psikotes tsb. ??

    [Reply]

    Reply
  11. David Zakaria

    menurut saya tes psikotes itu tidak terlalu penting malah mempersulit untuk mendapat pekerjaan,yang terpenting adalahhasil kinerja bukan psikotest,saya sudah 3x gagal pada soal psikotest saya ingin kerja membantu perekonomian keluarga tapi psikotest mebuat saya sulit untuk dapat kerja.

    [Reply]

    Reply
  12. Taopik

    Saya sudah 3 kali melakukan dan ikut psikotes di perusuhaan bumn salah satunya adalah bulog krn sy merupakan salah satu pegawai honor namun pada kenyataanya sy selalu gagal bagaimanakan cara dan tips nya agar bisa lolos dan apakah bidang pekerjaan ini tdk cocok untuk saya…….trims

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Jangan repot mencari cara supaya lolos psikotes, lebih baik mencari cara supaya tahu sebetulnya bidang karir atau pekerjaan apa yang paling tepat untuk anda, mas. Kalau sudah ketemu karir atau bidang pekerjaan yang memang sesuai dengan bakat alami anda, dengan sendirinya kalau melakukan psikotes untuk posisi itu pasti lolos.

    [Reply]

    Reply
  13. fajar poetra pamuji

    Saya dalam 3 kali terakhir ini gagal dalam thp psikotest.bidang yang saya ambil saya rasa sesuai dg pengalaman kerja dan kompetensi saya.namun masi gagal adakah tipsnya atau lainya

    [Reply]

    Reply
  14. Dyaksa

    Alhamdulillah sekali melamar kerja dan bisa lolos psikotest, dulu pernah ikut tes psikotest dan saya tanya hasilnya, orang yg nge tes bilang bahwa saya orangnya sangat perhitungan dalam segala hal, saya mikir emang itu bener saya banget, dan akhirnya saya mencoba melamar kerja dan bisa lolos psikotest. Saat tes meski diberi waktu yang sangat sedikit saya bukan tipe orang yang asal jawab, jadi saya jawab dengan teliti meski banyak soal yg nantinya gak kejawab. Dari ±45soal kira-kira ada 8-10 soal yang belum saya jawab, tapi saya bersyukur bisa lolos, sedangkan teman saya yang dijawab semua tidak lolos. Intinya jika ingin lolos psikotest harus rubah sikap diri sendiri, belajar terbuka juga.

    [Reply]

    Reply
  15. Rahmad

    Pak saya mau bertanya. Jika kita menjawab test pisikotest yang bukan pengenalan diri kita seperti soal hubungan kata, sinonim dan antonim dengan tebak2 belum tentu bener apakah mengurangi hasilnya? Lebih baik bagaimana saran bapak? Jawab yg pasti benar atau isi semua belum tentu benar.
    Terima kasih.

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Mengurangi sih tidak kalau menjawabnya salah, hanya tidak mendapatkan poin saja. Hubungan kata, sinonim/antonim, dan sejenisnya, biasanya terkait dengan soal-soal tes kemampuan kognitif.

    [Reply]

    Reply
  16. Ari Eka

    Rendahnya IQ mungkin bisa jadi gagalnya lolos di Psikotest… sya 7 kali ikut andil di Tahapan seleksi itu 7 kali pula saya gagal.

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Kalau saya ikut psikotes untuk posisi sales, dan saya selalu menjawab dengan jujur sesuai dengan kemampuan dan preferensi pribadi saya, bisa jadi saya berkali-kali gagal juga di tahap psikotes. Hal itu disebabkan saya memiliki drive yang rendah dan tidak cocok untuk posisi sales yang mensyaratkan orang-orang yang sangat energik, ambisius, dan bersemangat dalam mengejar target sales yang dibebankan pada dirinya.

    Tapi apakah artinya kalau saya gagal terus-menerus psikotes untuk posisi sales itu artinya IQ saya rendah? Bukan seperti itu tentunya, jadi saran saya coba betul-betul kenali kelebihan dan kekuranganmu dulu karena kalau kita selalu menjalani psikotes untuk posisi yang mensyaratkan karakter dimana kita justru lemah, maka kita akan terus mendapatkan kegagalan di tahap psikotes.

    [Reply]

    Reply
  17. maryadi

    Dear Pak Haryo,

    Saya sudah bekerja selama 4 tahun di bidang yang sesuai dengan jurusan saya, Dan saya merasa enjoy dengan pekerjaan ini karena sesuai dengan background dan pengalaman. setelah itu saya habis kontrak.
    dan saya mulai melamar dimana-mana akan tetapi selalu terbentur di psikotest.
    Akan tetapi saya sudah > 3 kali psikotest selalu gagal pada tahap ini.
    Saya sudah berkeluarga dan memiliki anak istri yang harus ditanggung.

    Bagaimana pak solusinya? saya ingin jadi pegawai tetap. 🙁

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Bisa dijelaskan lebih detail mengenai latar belakang pengalaman kerja sebelumnya, Mas?

    [Reply]

    Reply
  18. lonerz

    Dear Pak Haryo,
    Apakah benar tes psikotest itu dapat kita lewati tanpa mempelajari contoh2x soal psikotest tersebut? Hanya jika pekerjaan itu cocok untuk kita. Mungkin ya mungkin tidak. Kenyataannya saya mengikuti test psikotest untuk pertama kalinya di kedua 2 bank yang berbeda hasilnya saya gagal pada tahap psikotest tanpa mempelajari soal2x psikotest terlebih dahulu. Lalu saya mendapat panggilan untuk mengikuti psikotest lagi di bank yang ke 3. Akhirnya saya memutuskan untuk membei buku yang tentang psikotest. Karena jadwal tes psikotes saya masih 3 hari lagi. Hasilnya pada saat saya mempelajari buku psikotes yang saya beli, saya tahu kenapa saya selama ini gagal, karena jawaban saya semuanya keliru tidak sesuai dengan panduan buku psikotest yang saya baca. Saya pun memanfaatkan waktu 3 hari untuk mempelajari buku tersebut. Tidak cukup maksimal karena waktu 3 hari itu juga pada saat saya sedang ujian (kuliah sambil kerja), namun cukup membuat saya lebih pede untuk mengikuti psikotest di bank yang ke 3. Namun hasilnya saya juga tetap gagal (melamar di bank sebagai teller). Jadi rencana saya kedepan setelah saya lulus kuliah saya akan mencoba melamar di bank lagi tapi bukan untuk posisi teller atau cro, tapi mungkin lebih ke bidang yang lain. Tapi saya sampai sekarang saya masih belum pede dalam menghadapi psikotest @_@.

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Dalam berbagai kesempatan saya selalu menyampaikan kalau tidak perlu membeli buku2 psikotes, karena psikotes itu mencari orang yang tepat untuk mengisi posisi yang dibutuhkan. Ibaratkan diri anda adalah sebuah potongan atau kepingan puzzle yang berbentuk bujur sangkar, lalu anda berusaha melamar ke posisi yang memerlukan kepingan segitiga, tentunya anda tidak akan cocok. Nah, buku2 psikotes itu berusaha merubah anda yang secara alami adalah bujur sangkar menjadi segitiga agar dapat diterima di perusahaan tersebut.

    Bisa dibayangkan konsekuensi jangka panjangnya kalau anda terus-menerus berusaha menjadi segitiga sementara secara natural anda adalah bujur sangkar?

    Daripada sibuk mempelajari buku2 psikotes, kenapa tidak berusaha menyibukkan diri untuk mencoba mengetahui anda ini kalau kepingan puzzle sebetulnya berbentuk apa? Apakah bujursangkar, trapesium, segitiga, elips, lingkaran, atau lainnya? Setelah mengetahui bentuk anda, cobalah melamar ke posisi yang memang memerlukan kepingan seperti bentuk yang anda miliki.

    Dengan cara demikian anda juga akan lebih mudah lolos psikotes karena 100% bisa menjadi diri sendiri, dan dalam jangka panjang juga anda akan lebih menikmati pekerjaan yang memang sesuai untuk anda secara alamiah.

    Semoga analogi ini bisa dipahami.

    [Reply]

    Reply
  19. Rara

    Saya kemrin iku tes kerja pak dan dalam tes itu ada salah satu tes yang saya tidak mengikuti intruksi. Apakah itu mengurangi poin tes saya?

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Dalam psikotes setahu saya tidak ada pengurangan poin, karena semua jawaban akan diinterpretasikan secara keseluruhan oleh psikolog yang kompeten dalam bidang psikometri.

    [Reply]

    Reply
  20. anys

    pak saya mau bertanya, hari ini saya ikut psikotes bank yg psikotestya bagian aritmaatika, deret angka, sinonim dsb. belum smpai tes pauli dan warteg, krn dibagi 2 sesi. kebetulan untuk tes awal 11 12 dg buku yg saya punya, dan saya yakin dlm menjawabnya. namun saat pengumuman saya tdk lolos. bgmna penilaian psikotes bagian tsb?

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Sebetulnya kalau soal psikotes yang masih berkaitan dengan aritmatika, logika, dan sejenisnya, penilaian murni didasarkan pada hasil secara obyektif. Bisa jadi kita yakin mengerjakannya dari sisi kuantitas soal yang dikerjakan tapi tanpa disadari ternyata kurang optimal dari sisi kualitas jawabannya, misal tingkat akurasinya masih kurang, sehingga dinyatakan tidak lolos karena masih dibawah minimum passing grade yang dipersyaratkan.

    [Reply]

    Reply
  21. anys

    apakah ada suatu persh yg tdk mengambil kandidat dikarenakan hasil psikotesnya (bagian arit, deret, sinonim, antonim) yg terlalu tggi, pak? soalnya jawaban saya itu saya cocokkan dg kunci jawaban di buku, tp malah tdk lolos, dan teman saya yg menjawab asal2an justru lolos.

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Mungkin bukan terlalu tinggi, tapi hasilnya bisa jadi tidak terlihat wajar karena terlalu perfect, padahal psikotes itu bukan ujian yang mengharuskan kita untuk memberikan jawaban demi mengejar nilai perfect. Psikotes adalah salah satu sarana untuk menganalisa kekurangan dan kelebihan kita untuk suatu pekerjaan atau posisi tertentu. Ketika jawaban kita perfect, karena kita sudah memahami pola psikotes dan bagaimana menjawabnya, kesan yang timbul adalah kita berusaha menutupi kekurangan diri sendiri dan hasil psikotes kita pun malah menjadi sulit dianalisa.

    Sekali lagi saya tekankan bahwa saya bukan psikolog yang ahli dalam bidang psikometri, jadi apa yang saya sampaikan bisa jadi tidak akurat 100%. Namun terlepas dari hal itu, saya masih tetap konsisten mengingatkan agar tidak perlu membeli buku2 psikotes yang banyak beredar di pasaran, karena itu justru bisa menjadi bumerang untuk anda sendiri. Hasil psikotes yang anda lakukan karena anda sudah mengetahui bagaimana menjawabnya justru akan menghasilkan analisa yang keliru tentang kepribadian anda yang malah merugikan diri.

    [Reply]

    Reply
  22. anys

    terimakasih pak. berarti bukan krn kita bodoh ya pak tdk lolos psikotes. saya sdh 4x ini gagal psikotes perbankan. atau memang sebenarnya diri saya yg tdk cocok kerja di perbankan bag frontliner. apakah bpk mempunyai saran bgmana agar saya tau passion saya sebenarnya?

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Tidak lolos psikotes bukan berarti kita bodoh, karena jelas bukan itu tujuan psikotes. Coba dibaca lagi artikel saya diatas.

    Kalau sampai tidak lolos psikotes untuk posisi yang sama di industri yang sama (posisi frontliner di industri perbankan) sampai empat kali, bisa jadi memang secara karakter kepribadian tidak cocok untuk bekerja di posisi itu. Coba browsing dan lakukan tes online MBTI atau DISC untuk mengetahui profesi apa yang kira2 sesuai dengan karakter kepribadian diri serta sesuai pula dengan minat dan bakat.

    [Reply]

    Reply
  23. rani umil muminat

    Bagaimana jika kita telah menjalani psikotest tapi salah masukan no. Kontak / tlp. Apakah tandanya kita sudah end atau bagaimana baiknya? ?
    Haruskah saya kontak pihak HR disana untuk kasih tau bahwa kita salah tulis no tlp.
    Terima kasih

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Ketelitian sangat diperlukan dalam mengerjakan psikotes, mulai dari mengisi data sampai menjawab soal2nya. Kalau ada kesalahan dalam pengisian data, silakan saja menghubungi pihak HR dan memberitahukan hal ini. Semoga pihak HR bisa memakluminya

    [Reply]

    Reply
  24. Daan

    Pa Haryo,
    Umur saya 40 tahun lebih, saya dalam pekerjaan selalu beruntung, karena dengan hanya seorang diploma (programming) saya pernah menempati posisi sebagai Manager di perusahaan garment korea yang besar dan posisi tersebut tidak sesuai dengan background saya, dan hampir semua posisi yang pernah saya tempati tidak sesuai dengan background saya tapi saya bisa bekerja pada posisi2 tersebut dengan baik dan waktu yang lama.
    Pada hari kemaren saya mendapatkan panggilan dari perusahaan besar juga dan anehnya pada saat panggilan interview mereka bilang melihat cv saya dari jobstreet (karena memang saya tidak melamar ke perusahaan ini). dan dalam hanya waktu 2 hari persiapan interview dan test dengan waktu luang sehabis jam kerja di tempat sekarang, tidak ada waktu untuk melihat tip melewati psikotes dan saya pun tidak tahu tipe psikotes yang diujikan.
    Akhirnya kemaren saya mengikuti psikotes yang diuji yaitu DISC dan PAPI, untuk posisi sebagai Senior Manager.
    Harus masuk ke kategory nilai apa/berapa ?
    Terus terang saya isi sesuai dengan yang apa yang cocok dalam diri saya, saya tidak pernah membaca buku ataupun trik psikotes. Dengan melihat artikel ini walaupun saya gagal nantinya, tapi saya bisa tahu apabila saya harus mengikuti lagi psikotek dengan DISC dan PAPI.
    Terima kasih sebelumnya atas perhatian Pa Haryo

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    DISC dan PAPI memang sebaiknya dijawab apa adanya sesuai dengan preferensi pribadi kita, Pak Daan. Kalau disebut psikotes ya tidak 100% tepat, mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai personality assessment untuk mengetahui karakter, preferensi dan potensi pribadi seseorang.

    Biasanya DISC dan PAPI memang lebih sering dilakukan untuk posisi managerial. Nah, tinggal tergantung dari perusahaannya mereka ingin mendapatkan kandidat dengan preferensi karakter seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

    [Reply]

    Reply
  25. yola

    pak haryo,
    saya baru saja selesai mengikuti test psikotest namun saat pemandu menyuruh untuk berhenti menulis dan menutup lembar soal, soal saya masih terbuka dan asisten yg didekat saya langsung menutup dengan keras lembar soal tersebut. apakah itu berpengaruh terhadap hasil test saya ? sekian terimakasih

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Harusnya tidak berpengaruh, toh itu kan hanya masalah non-teknis.

    [Reply]

    Reply
  26. ari

    pak haryo, tulisan anda memang bermanfaat
    saya hanya bingung, bagaimana untuk terbiasa mengerjakan psikotes macam smart GMA yang di keluarkan oleh beberapa recruitment consultant. macam P&G, Unilever, Pertamina, dll?
    saya setahun ini sudah mengikuti banyak tes seperti itu dan berlatih untuk mengerjakan tes seperti gmat, verbal reasoning dan numerical reasoning. Hasil dari itu semua seperti nihil dan tidak pernah lolos dalam seleksi tersebut, alhasil setahun ini saya tidak belum bekerja lagi (freelance ada).
    Yang buat saya down adalah teman teman saya yang dia bilang tidak ada persiapan dan latihan apa pun justru lolos…

    best regard

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Sudah sering saya tulis sebelumnya, psikotes itu hanya perlu persiapan mental dan fisik, pastikan kondisi kita prima dengan pikiran yang fresh dan tenang. Jadi tidak perlu memakai latihan soal segala rupa, karena psikotes itu bukan ujian yang mencari orang-orang dengan nilai tertinggi, tapi mencari orang-orang yang memiliki kesesuaian tinggi untuk posisi yang dibutuhkan.

    Kalau kita tidak lolos psikotes, ya artinya kita memang dinilai tidak memiliki kesesuaian yang mencukupi untuk dapat bekerja di posisi yang kita lamar. Cobalah berhenti sejenak dan lakukan introspeksi, jangan-jangan selama ini kita menginginkan pekerjaan yang diimpikan padahal kita sebenarnya tidak memiliki kesesuaian karakteristik yang cukup untuk pekerjaan tersebut.

    Misalnya, saya ingin menjadi pilot pesawat tempur, sekeras apapun saya berlatih mempersiapkan diri dalam menghadapi psikotes sebagai bagian dari seleksi pilot pesawat tempur, bisa jadi saya akan terus gagal karena secara karakteristik saya memang tidak memiliki faktor-faktor dominan yang mendukung saya untuk menjadi pilot pesawat tempur.

    Solusinya, saya akan mencoba mencari cara lain untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi psikotes, bukan dengan berlatih soal, tapi dengan mencoba melakukan asesmen psikologis gratis yang banyak tersedia di internet, misalnya: RIASEC, DISC, ataupun MBTI, untuk mencari benang merah karakter pribadi saya dan pekerjaan apa yang sekiranya saya minati dan sesuai dengan karakteristik pribadi saya.

    Ketika kita menghadapi psikotes untuk posisi yang sesuai dengan karakteristik pribadi saya, akan terasa perbedaan yang signifikan dalam mengerjakan psikotes, karena tanpa terlalu ngoyo dalam berusaha, tapi berhasil lolos sebagaimana teman-teman anda yang tidak mempersiapkan diri dengan intensif.

    [Reply]

    Reply
  27. yusuf

    slmt siang pak.
    setiap waktu saya sering merenung dan melamunkan soal diri saya pak, saya sllu bertanya pada dirisata terutana pada alloh swt, ini knp nasib saya sllu gagal dalam mencari pekerjaan terutama saya gagal dalam soal psikotes sering skali saya tidak lolos, saya udah setahun lebih nganggur padahal saya udah mondar mandir ngelamar pekerjaan saya udah cape berdoa sambil berusaha tuh, sekarang2 ini saya malah sering mengeluh dan kadang saya ngomong sendiri, ngapain saya berdoa, berdoa juga percumah yg ada malah cape.
    ini gimana pa kalo saya kaya gini coba minta pencerahannya !

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Hak anda untuk berhenti berdoa, karena Allah SWT tidak membutuhkan doa anda atau doa kita kok.

    Hak anda berhenti berdoa, sebagaimana Allah SWT juga berhak untuk menunjukkan jalan yang terbaik untuk anda sesuai dengan kehendak-Nya.

    QS Al Mu’min ayat 60, “Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu” dan kalau dijabarkan lebih jauh lagi, anda memanjatkan doa kepada Allah SWT itu kemungkinannya hanya tiga:

    1. Dikabulkan dalam waktu dekat
    2. Dikabulkan dalam waktu yang akan datang, entah kapan
    3. Tidak dikabulkan tapi diganti dengan hal lain yang jauh lebih baik, baik di dunia ataupun di akhirat

    Anda jadi putus asa dan mengeluh karena anda berdoa dengan memaksa Gusti Allah agar mengabulkan doa anda secepat mungkin dan sesuai dengan apa yang anda inginkan.

    Cobalah lebih sabar dan tawakkal, terus evaluasi diri, lakukan perbaikan mental dan spiritual yang menyeluruh. Mungkin selama ini ibadah masih kurang sempurna, silaturahmi kurang terjaga, sedekah masih ala kadarnya, dan tingkah-laku yang kurang mengenakkan sesama.

    Evaluasi dan perbaiki itu semua. Kalau hanya mengeluh dan fokus pada masalah, ya masalah tidak akan selesai sampai kapan pun.

    Silakan baca juga jawaban saya untuk pertanyaan sebelum pertanyaan anda ya… disitu saya berikan solusi konkrit terkait dengan kegagalan psikotes yang berulang.

    [Reply]

    Reply
  28. Yusuf

    Selamt siang pak haryo.. Saya juga mengalami hal yg sama.. Saat ini saya sudah bekrja dan krywan tetap..perusahan retail..namun mnjemen tidak memperbolehkan kryawanya upgrade ijazah.. Sehingga membuat saya merasa perlu untuk meninggalkan pekrjaan ini.. Namun sudah berkali ikut tes pisikotes di dunia perbankan dn hsilnya selalu ggl.. Dan pekrjaan saya mulai memburuk hasilnya.. Bagaimana solusinya.. Saya juga tidak mengetahui dbidang ap seharusnya yg saya lamar .. Terimakasih

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *