Praktek Tak Terpuji yang Tak Seharusnya Terjadi

Suatu ketika saya pernah menangani klien sebuah perusahaan konsultan konstruksi multinasional yang membutuhkan seorang manajer senior untuk memperkuat tim inti yang sedang dibentuk oleh Presiden Direktur perusahaan tersebut.

Proses berjalan lancar sampai akhirnya klien memutuskan untuk memilih dua orang kandidat (dari tiga orang kandidat yang semula saya ajukan) yang lolos untuk menempuh tahapan rekrutmen selanjutnya. Karena hubungan baik yang sengaja saya bangun dari awal dengan para kandidat ini, mereka pada akhirnya sangat mempercayai saya dan sangat terbuka tentang segala hal menyangkut proses rekrutmen ini.

Sampai akhirnya pada suatu hari salah seorang kandidat tersebut menelepon saya untuk menyampaikan sesuatu yang membuat kening saya berkerut, “Mas Haryo, saya kok tadi sepertinya melihat iklan yang mirip dengan yang anda pasang dulu di website XYZ (nama situs sengaja tidak saya sebutkan disini), hanya yang ini jauh lebih singkat, tapi saya yakin ini untuk posisi yang sama… di perusahaan yang sama.”

Saya pun heran, karena saya sangat yakin klien saya tidak mungkin memasang iklan sendiri. Mereka sangat mempercayai saya untuk menangani rekrutmen posisi ini, karena mereka pun sekarang tidak memiliki pegawai yang secara khusus menangani proses rekrutmen.

Ketika saya cek di situs yang disebutkan oleh kandidat saya, ternyata iklan tersebut dipasang oleh sebuah perusahaan headhunter lain berkedudukan di Jakarta, dan saya pun menjadi yakin 100% bahwa iklan ini boleh dibilang “mencontek” iklan saya sebelumnya untuk mencari posisi manajer senior dengan menyebutkan bahwa klien mereka adalah sebuah perusahaan engineering internasional.

Ada beberapa hal yang membuat saya yakin mereka “mencontek” iklan saya:

1. Posisi yang mereka sebutkan sama persis dengan posisi yang saya cantumkan dalam iklan sebelumnya. Sebagai informasi, specific job title di perusahaan klien saya itu memang agak kurang lazim ditemui di perusahaan lainnya.

2. Job requirements yang disebutkan dalam iklan tersebut boleh dibilang hanya menyingkat dan sedikit memodifikasi job requirements (yang tercantum secara detail) dari iklan saya.

3. Mereka lupa memperhatikan bahwa ada beberapa job requirements yang saya sebutkan dalam iklan saya sebetulnya agak kurang lazim juga dikerjakan oleh seorang manajer senior, dan (parahnya) justru yang kurang lazim tersebut ikut dicantumkan dalam iklan mereka.

Hal-hal itulah yang membuat saya prihatin, karena saya telah melakukan cross check dengan perusahaan klien dan mereka sama sekali tidak mengetahui hal itu, bahkan mereka tidak pernah sekali pun mendengar ataupun berhubungan dengan perusahaan headhunter tersebut.

Lucunya, beberapa hari yang lalu hal serupa kembali terjadi, sebuah perusahaan headhunter lainnya memasang iklan di sebuah mailing list yang “mencontek” habis iklan yang dipasang kolega saya di mailing list lain. Seluruh posisi (kurang lebih ada delapan posisi) yang diiklankan kolega saya sebelumnya “dicontek” tanpa tedeng aling-aling, padahal klien yang mencari seluruh posisi tersebut terikat kontrak eksklusif dengan kantor kami, Monroe Consulting Group.

Suatu hal yang nyaris tidak mungkin dilakukan oleh klien, melanggar kontrak eksklusif yang telah mereka buat sendiri untuk mengikat kami sebagai recruitment consultant.

Jadi sebetulnya apa tujuan mereka membuat iklan palsu tersebut?

Tujuannya hanya satu: mengumpulkan CV dari para kandidat untuk mengisi database mereka, karena tidak mungkin mereka menindaklanjuti iklan palsu yang mereka buat. Apa yang mau ditindaklanjuti? Tidak ada!

Sengaja saya tidak menyebutkan perusahaan headhunter mana saja yang telah melakukan praktek tak terpuji ini. Rasanya kurang sreg, karena bisa-bisa saya dituduh melakukan black campaign.

Tapi itulah hal yang nyata-nyata memang terjadi, dan saya telah menyimpan screenshots dari iklan-iklan tersebut seandainya suatu hari ada yang mengkonfrontasi saya untuk memberikan bukti.

Pada akhirnya saya kembalikan semuanya kepada anda untuk menilai secara lebih obyektif mengenai hal ini. Tidak terlalu mengganggu memang, tapi tetap saja praktek semacam ini rasanya kurang etis dilakukan oleh perusahaan headhunter yang harus selalu mengedepankan nilai-nilai integrity dan trust di hadapan klien, dan juga kandidat.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *