Pentingnya Dukungan Keluarga dalam Menghadapi Masa Sulit

Pagi tadi ketika sarapan sambil sibuk “menyiksa” remote control televisi, secara tidak sengaja saya menyaksikan sebuah wawancara yang dilakukan di studio dalam acara Primetime Morning di Channel NewsAsia.

Wawancara berkutat pada kisah seorang warga negara Singapura keturunan India (kita sebut saja Mr. A) yang memiliki dua gelar master (di bidang bisnis dan IT kalau tidak salah) yang selama hampir tujuh bulan terakhir mengalami kesulitan mencari pekerjaan ketika krisis perekonomian global mulai terasa imbasnya di negara tetangga yang luasnya kurang lebih sama dengan kota Semarang tersebut.

Dalam wawancara tersebut disebutkan bahwa Mr. A pada mulanya sama sekali tidak menyangka bahwa dengan kualifikasi yang dimilikinya, ia akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Semula Mr. A berpikir bahwa begitu dirinya memperoleh dual degree, maka mendapatkan pekerjaan bukan merupakan sesuatu yang perlu dipikirkan dengan terlalu serius, karena ia yakin bahwa justru tawaran pekerjaan yang akan menghampiri dirinya.

Tapi setelah beberapa bulan berlalu dan belum juga menemukan pekerjaan, rasa frustrasi mulai melingkupi diri Mr. A. Berbagai biaya hidup yang mesti dikeluarkan untuk menghidupi keluarganya pun harus ditanggung seorang diri oleh istrinya yang (untungnya) masih bekerja sebagai pegawai swasta.

Dalam situasi dan masa-masa sulit seperti inilah Mr. A merasakan betapa pentingnya arti sebuah dukungan dari keluarga, kerabat dan rekan-rekan terdekatnya — yang tidak hanya berupa dukungan moril untuk tidak menyerah dan terus berusaha mendapatkan pekerjaan, tapi juga bantuan dalam bentuk lain berupa upaya untuk membantu memperluas network Mr. A, dimana network diyakini merupakan salah satu faktor penting untuk bisa memperoleh pekerjaan.

Di akhir wawancara kemudian disebutkan bahwa Mr. A akhirnya beberapa hari yang lalu telah berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai Operations Manager pada sebuah organisasi nirlaba setelah selama tujuh bulan sebelumnya mencoba melamar pekerjaan kesana kemari.

Ketika usai menyaksikan wawancara tersebut, saya jadi teringat dengan banyak profesional berpengalaman dan berpendidikan tinggi yang pernah berbicara dengan saya yang saat ini berstatus (maaf) unemployed. Ada yang sudah menyandang status unemployed selama hampir dua tahun, tapi ada pula yang kalau boleh diistilahkan “fresh graduates” alias baru menyandang status unemployed satu minggu yang lalu.

Dalam kondisi seperti sekarang dimana angka pengangguran di Indonesia diperkirakan sudah melampaui 9%, saya yakin banyak diantara rekan-rekan kita tersebut yang sangat membutuhkan bantuan moril untuk tetap bisa bertahan dalam menghadapi masa sulit.

Sebagai orang yang juga pernah mengalami sendiri betapa sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal, saya pribadi merasakan bahwa dukungan moril yang paling membantu adalah dukungan moril yang diberikan oleh lingkungan keluarga terdekat.

Tidak ada gunanya rekan-rekan memberikan dukungan moril habis-habisan kalau ternyata tidak ada dukungan serupa dari keluarganya sendiri, karena justru keluargalah yang akan menjadi penentu apakah seseorang bisa terus bertahan dan tetap optimis dalam menghadapi masa sulit, atau malah sebaliknya tenggelam dalam gelombang frustrasi dan depresi yang cenderung berpotensi menghancurkan harga diri dan percaya diri bagi siapapun yang mengalaminya.

Jadi pesan moralnya sederhana: kalau ada keluarga terdekat anda, entah itu kakak, adik, anak, keponakan, istri, dan (terutama) suami yang saat ini sedang menghadapi masa sulit dalam hal karir… berikanlah dukungan setulus hati dan tunjukkan rasa cinta anda yang semakin besar demi membantu agar api semangat dan optimisme tetap menyala dalam dirinya untuk bisa bangkit keluar dari kesulitan ini.

Jangan lupa juga untuk selalu mengingatkannya agar semakin banyak berdoa, mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, bersedekah, dan juga memperluas silaturahmi atau network. Sering kali saya temui ketika seseorang mendapatkan pekerjaan baru bukan karena hasil dari mengirimkan surat lamaran, tapi lebih karena network yang kuat.

Nah, kalau topik ini kemudian dikaitkan dengan profesi saya kini sebagai Recruitment Consultant dan Career Advisor, saya dari dulu juga sebenarnya sangat ingin bisa memberikan kontribusi untuk membantu rekan-rekan yang saat ini sedang menghadapi masa sulit dalam hal karir.

Meski sudah pernah saya sebutkan disini sebelumnya, tapi ditegaskan kembali bahwa saya kini juga bersedia untuk membantu siapapun yang saat ini berstatus unemployed dan membutuhkan saran serta masukan dalam hal karir secara langsung.

Saya akan duduk empat mata dengan siapapun yang merasa perlu mendapatkan masukan dan saran dari profesional di bidang karir dan rekrutmen agar bisa keluar dari masa-masa sulit dan menemukan karir serta pekerjaan yang paling cocok dengan dirinya.

Cukup hubungi saya melalui telepon (021-8718066 atau 0812-9600423), ceritakan latar belakang profesional anda, dan berapa lama anda sudah menghadapi masa-masa sulit ini.

Selanjutnya saya akan meminta anda untuk mengirimkan CV anda yang terbaru, mengatur waktu dan tempat pertemuan (karena saya sekarang ini jauh lebih sibuk dibanding waktu masih bekerja kantoran, saya prefer lokasi yang dekat dengan tempat tinggal saya: Cibubur Junction), dan selanjutnya melakukan konsultasi one-on-one untuk bisa (Insya Allah) membantu membuka wawasan dan mengembalikan semangat anda yang mungkin saja telah sedikit meredup.

Yang perlu diingat dengan seksama adalah saya sama sekali tidak menjanjikan apapun kepada anda. Artinya jangan berharap bahwa dengan bertemu saya, anda pasti akan mendapatkan pekerjaan atau malah berharap saya yang kemudian akan tunggang-langgang mencarikan pekerjaan untuk anda. Usaha mencari pekerjaan tetap merupakan tanggung jawab anda sepenuhnya, saya hanya akan membantu menunjukkan jalannya saja.

Soal biaya? Jangan kuatir, saya hanya menerima biaya konsultasi dari perusahaan-perusahaan lokal maupun multinasional yang menjadi klien saya, jadi konsultasi one-on-one ini dijamin 100% gratis. Anda hanya perlu keluar biaya transport ke Cibubur Junction, membayar parkir dan membeli barang secangkir capuccino, segelas caramel macchiato, atau mungkin semangkuk es teler untuk menemani anda berkonsultasi dengan saya.

Kalau anda sanggup memenuhi syarat-syarat yang saya ajukan diatas, jangan sungkan hubungi saya. Saya pernah merasakan situasi sulit dalam hal karir, jadi saya bisa memahami kondisi psikologis anda saat ini dan betapa berharganya masukan dari seorang profesional yang memahami lika-liku rekrutmen dan alternatif karir.

Berhubung bisnis konsultasi saya saat ini masih kecil sekali dan belum sanggup untuk mempekerjakan karyawan dalam jumlah puluhan atau malah ratusan orang demi memberdayakan tenaga kerja potensial berpendidikan tinggi, paling tidak hanya inilah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya mengurangi angka pengangguran.

Update: per tanggal 9 Agustus 2009 saya terpaksa menghentikan layanan ini.

Quote of the Day:

“Be thankful for hard times in your life. Try not to look at them as bad things, but as opportunities to grow and learn.” by Anonymous

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

2 thoughts on “Pentingnya Dukungan Keluarga dalam Menghadapi Masa Sulit

  1. Pingback: Berbagi Hasil Konsultasi (Jumat, 12 Juni 2009) | Haryo Utomo Suryosumarto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *