Penerapan "Going Green" dalam Bisnis Jasa Konsultasi

Going GreenSeiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan isu lingkungan dan dampak dari pemanasan global, dunia bisnis merupakan salah satu sektor yang secara langsung dituntut untuk turut peduli dengan melakukan berbagai langkah nyata yang kiranya bisa membantu mengurangi dampak negatif dari pemanasan global tersebut.

Ini bisa cukup dipahami karena terjadinya pemanasan global sedikit banyak dituding merupakan efek samping dari berbagai kegiatan dunia bisnis yang notabene dianggap kurang peduli dan tidak ramah kepada lingkungan.

Meskipun saya pada saat ini bergerak di sektor bisnis jasa sebagai konsultan, yang jelas-jelas kegiatannya tidak secara langsung mencemari lingkungan, tapi sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial, maka saya sudah bertekad untuk sejak awal menerapkan prinsip “Going Green” dalam praktek bisnis sehari-hari.

Sekedar berbagi beberapa penerapan prinsip “Going Green” dalam bisnis jasa, inilah beberapa cara yang telah saya lakukan secara kontinyu sampai dengan hari ini;

Mewujudkan Paperless Office

Saya berusaha menggunakan kertas sesedikit mungkin. Hampir semua dokumen-dokumen penting yang saya kirimkan ke klien merupakan dokumen elektronik dalam bentuk PDF yang dilampirkan sebagai attachment pada email. Selain menghemat kertas, melalui cara ini saya pun bisa menekan biaya dan pengeluaran yang cukup signifikan melalui penghematan tinta printer (ataupun office supplies lainnya), serta biaya jasa kurir atau pos.

Untuk mendukung konsep paperless office ini, saya juga menginvestasikan dana yang relatif kecil untuk membeli sebuah printer multifungsi, yang selain bisa berfungsi sebagai printer, juga bisa berfungsi sebagai fax, scanner dan mesin fotokopi.

Hasilnya sejauh ini sangat baik, karena saya kini terbebas dari tumpukan dokumen yang biasanya sangat mudah dijumpai di kantor-kantor konvensional. Keuntungan lainnya, saya juga jadi jauh lebih mudah mencari dokumen yang saya perlukan, cukup dengan memanfaatkan fungsi search pada komputer saya.

Memanfaatkan Kertas Bekas

Kalaupun saya terpaksa harus mencetak dokumen, sebisa mungkin saya mengusahakan agar kertas yang telah terpakai tersebut dapat dimanfaatkan kembali. Sejauh ini saya memanfaatkan halaman sebaliknya (yang masih kosong) dari kertas bekas tersebut untuk membuat catatan-catatan, mencorat-coret konsep atau ide bisnis, ataupun memotongnya menjadi potongan kertas kecil-kecil yang kemudian saya letakkan di atas meja telepon sebagai kertas notes.

Menggunakan Laptop

Saya lupa beberapa waktu yang lalu pernah membacanya dimana, tapi fakta menunjukkan bahwa komputer jenis desktop yang biasa digunakan di sebagian besar perkantoran itu ternyata mengkonsumsi daya listrik lebih besar sampai dengan enam kali lipat daripada laptop.

Dengan harga yang saat ini sudah tidak terlalu terpaut jauh dengan komputer desktop (untuk laptop model middle-end), saya pikir menggunakan laptop sebagai alat bantu kerja juga bisa dikatakan sebagai penerapan prinsip “Going Green” yang bisa membantu mengurangi pemakaian daya listrik secara signifikan, selain tentunya laptop juga lebih bersifat portable serta ringkas sehingga tidak membutuhkan meja berukuran besar, yang pada akhirnya akan menghemat penggunaan ruang.

Menerapkan Telecommuting

Dengan memilih berkantor di rumah, saya bisa menghemat pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan sampai dengan 30% per bulannya. Saya sama sekali tidak kuatir kalau dengan menerapkan telecommuting ini maka kredibilitas profesional saya akan turun di mata para klien.

Justru sebaliknya, saya tekankan bahwa dengan menerapkan telecommuting ini penghematan yang bisa saya lakukan berpengaruh positif kepada klien, karena dengan demikian saya sanggup memberikan fee jasa konsultasi yang jauh lebih terjangkau namun dengan layanan yang (Insya Allah) lebih berkualitas dibandingkan dengan yang lain.

Memanfaatkan Skype Video Call

Ini merupakan metode yang sedang saya jajaki sejak beberapa hari terakhir. Masih berkaitan dengan poin telecommuting diatas, harapan kedepannya saya bisa makin menekan biaya untuk bahan bakar melalui video call untuk setiap meeting yang dilakukan dengan klien-klien saya (apalagi klien yang berdomisili di luar kota atau luar negeri).

Di atas kertas metode ini memang sangat ideal, apalagi Skype sudah dikenal sebagai penyedia aplikasi jasa telekomunikasi melalui internet yang cukup terpercaya (dan gratis). Sayangnya, Skype Video Call membutuhkan koneksi internet broadband dengan bandwidth yang cukup besar untuk bisa mendapatkan kualitas gambar dan suara yang sempurna, sehingga kendala terbesar adalah infrastruktur internet di Indonesia yang masih jauh dari memadai. Walhasil, saya pun sejauh ini lebih memilih melakukan client visit untuk bertatap muka dengan para klien saya.

Tapi diharapkan bila infrastruktur internet di Indonesia sudah makin membaik, maka penerapan video call ini juga bisa menjadi salah satu metode penerapan prinsip “Going Green” yang cukup efektif.

Menghemat Pemakaian Listrik

Masih berkaitan dengan penggunaan laptop diatas, setiap kali baterai laptop sudah fully charged, saya selalu berusaha mencabut charger dari stop kontak. Paling tidak selama beberapa waktu kedepan laptop bisa memanfaatkan daya baterai untuk tetap beroperasi secara optimal dan saya pun bisa mengurangi pemakaian listrik yang tidak perlu.

Selain itu saya juga selalu berusaha meminimalisir penggunaan lampu, AC atau kipas angin kala siang hari. Saya cukup beruntung karena ruang kerja saya memiliki jendela cukup besar yang dapat dibuka. Melalui pemanfaatan cahaya alami, saya tidak pernah sekalipun menyalakan lampu ketika bekerja di siang hari, dan dengan membuka jendela di siang hari untuk sekedar mendapatkan hembusan angin, saya juga bisa mengurangi pemakaian AC atau kipas angin secara terus-menerus.

Cara lainnya untuk menghemat pemakaian listrik adalah dengan memasang lampu hemat energi di hampir semua titik lampu yang ada di rumah saya. Dengan merek yang makin beragam, harga yang makin terjangkau dan jaminan garansi yang cukup luar biasa (saya pernah membeli lampu hemat energi dengan garansi penggantian lampu baru untuk lampu yang rusak sebelum masa lima tahun), saya pikir penggunaan lampu hemat energi merupakan hal yang sangat mudah diterapkan saat sekarang ini.

Menghemat Pemakaian Air

Untuk cara yang satu ini, satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah memastikan bahwa tidak ada satupun kran atau pipa air yang bocor. Selain tentunya perlu memberikan pengertian kepada putri sulung saya untuk tidak menyemprotkan air dari shower ke seluruh penjuru ruangan ketika ia mandi.

Idealnya memang untuk mendukung penghematan air ini, perlu juga dibuat lubang biopori di halaman rumah, tapi sampai sekarang masih belum terlaksana. Saya juga punya obsesi memanfaatkan air hujan untuk mencuci piring atau membilas toilet, tapi agak sulit untuk mengaplikasikannya di rumah yang sudah berdiri beberapa tahun, karena akan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk merubah instalasi pipa air yang sudah tertanam di seluruh penjuru rumah.

——

Pendek kata, dengan menerapkan prinsip “Going Green” dalam bisnis, saya bisa menekan pengeluaran biaya operasional secara cukup signifikan. Dengan biaya operasional yang relatif semakin rendah, saya pun kini sangat percaya diri untuk memberikan fee jasa konsultasi yang jauh lebih terjangkau kepada para klien.

Memang ini belum sepenuhnya ideal dalam pandangan saya, ada beberapa hal yang ingin saya terapkan tapi belum terlaksana karena kendala biaya (seperti pemanfaatan produk-produk elektronik berstandar “Energy Star”, mengendarai mobil hybrid, atau pemanfaatan solar cell untuk pembangkit listrik di kantor), tapi paling tidak dengan beberapa langkah mudah dan murah diatas, saya merasakan bahwa penerapan prinsip “Going Green” ternyata tidak hanya berdampak positif pada lingkungan, tapi juga berdampak positif pada bisnis saya dari sisi profitability.

Jadi tunggu apalagi, sudah waktunya para pengelola bisnis sekarang berkata… let’s go green!

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

2 thoughts on “Penerapan "Going Green" dalam Bisnis Jasa Konsultasi

  1. Kemas

    Saya setuju sekali dengan apa yang telah disampaikan melalui tulisan ini. Sudah waktunya kita memperhatikan lingkungan sembari menerapkan efisiensi sumber daya dalam berbisnis. Sepengetahuan saya, konsep dan praktik ini sudah menjadi “common practices” di luar negeri. Di sana mereka menyadari bahwa sumber daya itu mahal dan terbatas. Sebelum memulai bisnis apalagi bisnis konsultan, biasanya mereka akan memperhitungkan segalanya termasuk pemakaian kertas, printer, listrik, air, tempat kerja dan sumber daya manusia. Dengan demikian mereka dapat menekan biaya operasional tanpa mengurangi aspek profesionalitasnya.

    Seperti halnya Pak Haryo, peralatan kerja saya sangatlah minim dan sesuai dengan kebutuhan saja. Saat ini perkakas kerja saya adalah laptop, sambungan telepon dan internet, printer (jika harus mencetak), meja, kursi dan lampu meja. Mana peralatan elektronis yang tidak dibutuhkan dimatikan, jangan dibiarkan ‘stand by’.

    Cukup mudah dan praktis kan mempraktikkan ‘going green’ dalam dunia kerja? 🙂

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *