Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kaka

Sebagai penggemar klub AC Milan, beberapa minggu belakangan ini saya selalu mengikuti dengan harap-harap cemas mengenai rumor kepindahan salah satu pemain utama Milan, Ricardo Izecson dos Santos Leite (alias Kaka), ke klub Manchester City.

Bagaimana tidak cemas kalau Manchester City yang belum lama ini diambil alih oleh sebuah konsorsium kaya-raya dari Uni Emirat Arab, siap untuk membeli Kaka dengan harga mendekati USD 150 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun — yang berarti akan memecahkan rekor pembelian pemain sepakbola termahal di seluruh dunia — dan kabarnya Manchester City pun siap untuk menggaji Kaka sejumlah 500 ribu pounds atau sekitar Rp 7,7 milyar per minggu — yang juga akan membuat Kaka menjadi pemain sepakbola dengan gaji termahal di seluruh dunia.

Kecemasan saya akhirnya berakhir ketika dua hari yang lalu, kantor berita AP merilis berita bahwa Kaka akan bertahan di Milan sampai kontraknya berakhir di tahun 2013.

Hal itu pun sebelumnya sudah sempat diindikasikan oleh Kaka sendiri, bahwa dia sebetulnya berharap bisa bertahan lama di AC Milan, dan sampai saatnya suatu hari nanti bisa memegang ban kapten untuk menggantikan pemain veteran, Paolo Maldini.

Nah, berhubung saya dan anda bukan pemain sepakbola profesional yang menerima bayaran puluhan bahkan ratusan juta rupiah per minggunya, sepertinya berita ini tidak ada relevansinya dengan kehidupan sebagai seorang employee di satu perusahaan.

Tapi sebetulnya ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari penawaran gila-gilaan untuk Kaka dari Manchester City ini, diantaranya mengenai:

1. Loyalitas dan Komitmen

Kaka menunjukkan loyalitasnya kepada AC Milan dengan memutuskan bertahan dan tidak terpengaruh dengan tawaran gaji menggiurkan yang siap diberikan kepadanya. Ditambah lagi Kaka telah berkomitmen untuk berkarir dalam waktu yang lama dan siap pula untuk dipromosikan menjadi kapten AC Milan di masa yang akan datang.

Sebagai seorang employee, ada kalanya anda harus menunjukkan loyalitas kepada perusahaan, terutama ketika anda sebelumnya telah berkomitmen untuk melakukan atau memberikan sesuatu kepada perusahaan di masa yang akan datang.

2. Money is not Everything

Bahkan tawaran gaji setengah juta pound per minggu pun tidak membuat Kaka menjadi “gelap mata”. Pastinya ada pertimbangan rasional kenapa Kaka menolak penawaran dari Manchester City tersebut.

Ketika anda ditawari untuk pindah ke sebuah perusahaan dengan gaji berlipat dari yang anda terima sekarang, jangan terlalu senang dulu. Pertimbangkan segala sesuatunya dengan matang dan pertimbangkan dari segala aspek yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

3. Due Diligence

Kaka pastinya tahu persis bahwa di kota Manchester, klub Manchester City bukanlah rajanya. Masih ada klub raksasa lain yang punya reputasi jauh lebih mengkilap di Eropa, bahkan mungkin di seluruh dunia, yaitu klub Manchester United.

Selain itu, Manchester City juga sudah lama tidak menjuarai Liga Inggris, nyaris tidak pernah berlaga di kompetisi antar klub Eropa, dan saat ini pun menghuni papan bawah klasemen Liga Inggris. Kalaupun akhirnya pindah, nyaris tidak akan ada kebanggaan bagi pemain tenar sekelas Kaka untuk mengenakan kostum Manchester City.

Hal ini kurang lebih bisa dianalogikan ketika anda menerima tawaran untuk pindah ke satu perusahaan, pertimbangkanlah apakah perusahaan itu kondisinya jauh lebih baik atau malah lebih buruk dari perusahaan anda sekarang?

Lakukan due diligence dengan melakukan riset kecil di internet atau berbicara dengan orang yang pernah bekerja di perusahaan tersebut untuk tahu lebih banyak kondisi di dalam perusahaan sebelum menandatangani perjanjian kerja yang disodorkan. Hal ini akan membantu anda untuk membuat sebuah well informed decision regarding your career in the future.

Semoga bermanfaat dan saya tunggu komen dari anda.

P.S. Tulisan ini sedikit banyak cukup relevan pula dengan tulisan saya sebelumnya disini.

Quote of the Day:

“The quality of a person’s life is in direct proportion to their commitment to excellence, regardless of their chosen field of endeavor.” by Vince Lombardi

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

4 thoughts on “Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kaka

  1. Chic

    kalo buat saya sih satu-satu nya alasan realistis Kaka ngga pindah dari Milan hanyalah karena City bukan klub juara langganan Liga Champions. Coba kalo iyah… hihihihi

    masalahnya sih Kaka emang ngga mata duitan, tapi kan Milan nya butuh duit… lumayan tuh hasil jual Kaka… mwahahahahahaha

    *kembali ke Juventus*

    [Reply]

    Reply
  2. sanggita

    Makasih, mas Haryo untuk tipsnya. Sebenarnya saya sudah mulai lirik2 tempat lain. Tapi batal deh, mau belajar dulu di tempat sekarang. Kalo bisa menghantarkan proses transformasi perusahaan hingga sukses kan kita juga yang dapet namanya, hehe.

    Tips ketiga itu yang biasanya dilupakan orang ketika mau resign. Biasanya silau saja dengan tawaran yang menggiurkan. CMIIW

    [Reply]

    Reply
  3. zulfitri.za

    Memang Duit bukan segalanya Mas, tapi kalau saya jadi kaka gimana ya? ambil saja dulu,,, kemudian pensiun, and buka usaha sendiri…

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *