HRD dan Kandidat: Harus Saling Respek

Pagi ini saya membaca keluh-kesah dari salah seorang member sebuah milis yang membahas mengenai berbagai isu di dunia manajemen sumber daya manusia sebagai berikut:

Dear all,

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti psikotes utk posisi baru, saya ikut tes dari pagi jam 8.30 sampai 16.30, ini membuat saya pusing & tegang karena harus berfikir keras shg stamina drop. besoknya dipanggil lagi jam 8.30 untuk interview, ternyata saya harus menunggu cukup lama, dan baru sekitar jam 14 saya menjalani interview. Kalau saya perhatikan saya ternyata tidak menunggu giliran / antri utk interview dengan pihak HRDnya, karena saya lihat orang yang menginterview saya yakni HRD dari pagi hanya ngobrol-ngobrol, sekali lagi cuma ngobrol-ngobrol diruangannya, ini kelihatan dari kaca.

Apakah memang spt itu HRD cara mengetes calon karyawan? Apakah ini adalah salah satu metode mengetes calon karyawan?

Dengan dongkol dalam hati saya berkata, “CAPEK DEH” kok tdk efisien banget gtu loh. Mental spt ini dalam suasana krisis kok masih dipakai.

Salam

XXXXXXX

Continue reading

Tulisan Saya Di-copy Paste Tanpa Ijin

Berawal dari membuka detikcom pagi ini sebelum berangkat ke kantor, saya membaca artikel yang membahas mengenai entrepreneurship yang dijadikan sebagai artikel blog pilihan pada halaman depan detikcom. Ketika saya membacanya, entah kenapa saya merasa bahwa saya pernah membaca artikel tersebut sebelumnya.

Ketika saya telusuri lebih lanjut sambil mengingat-ingat kembali, saya baru sadar bahwa tulisan yang termuat di blogdetik tersebut adalah merupakan hasil copy paste dari tulisan Mas Yodhia Antariksa tertanggal 25 Agustus 2008.

Dari dulu sebetulnya saya tidak pernah mempermasalahkan artikel yang merupakan hasil copy paste, asalkan copy paste itu dilakukan dengan seijin penulisnya, atau minimal mencantumkan sumber tulisan orisinilnya. Tapi tulisan di blogdetik itu sama sekali tidak mencantumkan kredit untuk Mas Yodhia, dan saya juga tidak yakin bahwa penulisnya pun meminta ijin secara langsung kepada Mas Yodhia.

Continue reading

When Headhunter Calls…

Si Kandidat

(Untuk memperjelas, klik gambar diatas)

Boleh dipercaya boleh tidak, tapi saya sering menemui kejadian seperti itu pada kandidat yang saya hubungi. Don’t be too excited when headhunter calls, karena yang penting adalah menyerap informasi yang diberikan oleh si headhunter kepada anda.

Kalau memungkinkan, ketika menerima telepon dari headhunter, catatlah semua hal yang dirasa penting untuk anda ketahui tentang posisi yang ditawarkan, supaya kejadian seperti di komik itu tidak akan terjadi pada diri anda.

Foto pada CV: Disertakan atau Tidak?

Catatan: Ini hanyalah posting selingan sembari saya berusaha menyelesaikan tutorial bagian ketiga dari seri Membuat CV yang “Menjual”.

Ketika saya ditanya mengenai perlu tidaknya menyertakan foto pada sebuah CV, saya selalu berpedoman bahwa foto bukan merupakan sebuah hal yang wajib disertakan. Dalam artian, kalau mau disertakan boleh… tidak juga tidak masalah, meski ada juga beberapa lowongan pekerjaan yang mewajibkan para kandidat untuk menyertakan fotonya.

Continue reading

Tutorial Membuat CV yang “Menjual” (Bag. II): Kerangka Awal Sebuah CV yang Menjual

Saya selalu menekankan ke semua orang yang berkonsultasi ke saya bahwa membuat CV yang menjual itu bukan semata-mata masalah bagaimana membuat CV dengan desain yang menarik.

Lebih dari itu, membuat CV yang menjual pada prinsipnya adalah bagaimana menjual kemampuan dan kualifikasi yang kita miliki kedalam 2 lembar kertas (3 lembar maksimum) sehingga dalam waktu singkat pihak recruiter ataupun pihak HRD perusahaan yang kita lamar akan bisa dengan cepat memasukkan CV kita kedalam interview shortlist.

Continue reading

Pelajaran dari Kasus Merrill Lynch dan Lehman Brothers

Bangkrutnya Lehman Brothers dan akuisisi Merrill Lynch oleh Bank of America mengingatkan kita bahwa dengan kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dianggap sebagai “secured jobs”

Saya masih ingat ketika sekitar awal tahun 2000 membaca sebuah artikel di majalah terbitan luar negeri (saya lupa entah itu BusinessWeek, Newsweek, Forbes atau Fortune) yang menceritakan betapa kerasnya usaha ribuan orang lulusan program MBA dari berbagai business school ternama di seluruh penjuru Amerika Serikat berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan di Wall Street, khususnya pekerjaan di investment bank terkemuka, seperti Merrill Lynch, Lehman Brothers, Goldman Sachs atau Morgan Stanley.

Continue reading

« Previous  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ... 14 15   Next »