Menyikapi Si Kutu Loncat dengan Lebih Bijaksana

Saya sering menjumpai klien yang tidak mau berurusan dengan para kutu loncat. Kutu loncat atau sering juga disebut job hopper — yang dalam hal ini adalah profesional yang punya track record berpindah-pindah perusahaan dalam waktu relatif singkat — di mata para klien tersebut tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan bisa bertahan lama bekerja di satu tempat, termasuk bekerja di perusahaan mereka tentunya.

Tidak bisa dipungkiri kalau di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya masih banyak perusahaan yang menganggap bahwa loyalitas kepada si employer yang tercermin dari berapa lama seseorang bekerja di satu perusahaan tertentu sebagaimana yang tercantum dari CV-nya adalah salah satu faktor penting dalam menentukan apakah orang ini akan diproses lebih lanjut atau tidak pada sebuah proses rekrutmen.

Continue reading

Merintis Usaha Jasa dari Nol ala Jerry Maguire

Per tanggal 4 Mei 2009, saya secara resmi telah mengundurkan diri dari Monroe Consulting Group. Satu perusahaan multinasional di bidang jasa konsultasi rekrutmen yang telah banyak memberikan pengalaman kepada saya sebagai salah satu konsultan yang terlibat dalam penanganan proses rekrutmen berbagai posisi pada bermacam perusahaan, baik lokal maupun multinasional yang menjadi kliennya.

Sejujurnya harus diakui bahwa keputusan ini merupakan salah satu keputusan terberat yang pernah saya ambil selama hidup saya. Saya merasa senang bekerja di sana dan dengan unsur kekeluargaan yang sangat kental — tidak hanya dengan sesama karyawan di dalamnya, tapi juga keakraban saya dengan para karyawan pengelola gedung Wisma Kemang — membuat saya betul-betul merasa berat meninggalkan Monroe Consulting Group.

Continue reading

Selamat, Anda Gagal Dalam Psikotes!

Beberapa tahun yang lalu sebelum menjadi konsultan di bidang rekrutmen, saya tidak terlalu peduli kalau ada rekan yang berkeluh-kesah ketika sedang menjalani proses rekrutmen di sebuah perusahaan.

Namun kini setelah saya berkecimpung di bidang rekrutmen dan mencoba mengingat-ingat kembali, ternyata kebanyakan rekan-rekan yang berkeluh kesah kala itu memiliki sebuah kesamaan, mereka rata-rata berharap dalam proses rekrutmen tersebut tidak ada tahapan psikotes yang mesti dilalui.

Continue reading