Per tanggal 4 Mei 2009, saya secara resmi telah mengundurkan diri dari Monroe Consulting Group. Satu perusahaan multinasional di bidang jasa konsultasi rekrutmen yang telah banyak memberikan pengalaman kepada saya sebagai salah satu konsultan yang terlibat dalam penanganan proses rekrutmen berbagai posisi pada bermacam perusahaan, baik lokal maupun multinasional yang menjadi kliennya.
Sejujurnya harus diakui bahwa keputusan ini merupakan salah satu keputusan terberat yang pernah saya ambil selama hidup saya. Saya merasa senang bekerja di sana dan dengan unsur kekeluargaan yang sangat kental — tidak hanya dengan sesama karyawan di dalamnya, tapi juga keakraban saya dengan para karyawan pengelola gedung Wisma Kemang — membuat saya betul-betul merasa berat meninggalkan Monroe Consulting Group.
Ada beberapa faktor yang membuat saya berpikir untuk meninggalkan Monroe Consulting Group. Salah satunya berkaitan dengan keputusan saya kembali ke sekolah tahun ini untuk mengambil gelar Magister Psikologi Terapan, dimana itu tentunya membutuhkan banyak biaya, dan ketika proses perkuliahan dimulai pun tentunya saya juga harus siap untuk berkomitmen dalam hal waktu dan tenaga.
Tidak ada faktor negatif yang melandasi keputusan saya. Dalam artian hubungan saya dengan Country Manager, rekan-rekan konsultan dan rekan-rekan karyawan lainnya baik-baik saja — bahkan boleh dibilang sangat baik. Jadi saya meninggalkan perusahaan bukan karena dipecat, tapi lebih berlandaskan pada keputusan pribadi yang telah saya pertimbangkan dengan matang, setelah beberapa minggu sebelumnya menjalankan ikhtiar shalat istikharah.
Dari hasil shalat istikharah itu pula saya pun akhirnya dengan mantap (meskipun dengan sangat berat hati) memutuskan untuk meninggalkan perusahaan yang sedikit banyak telah membuat nama saya cukup dikenal di kalangan para profesional, baik dalam kapasitas profesional saya sebagai konsultan rekrutmen, maupun dalam kapasitas personal saya sebagai pengelola blog suryosumarto.com
Lalu apa yang saya lakukan selepas dari Monroe Consulting Group? Jawabannya sederhana, saya mencoba merintis usaha sendiri sebagai seorang konsultan independen yang tidak berada dibawah naungan perusahaan manapun. Kalau orang lain mungkin akan menyebut sebagai konsultan freelance, tapi saya menyebut apa yang saya lakukan ini sebagai independent recruiter | free agent headhunter.
Entah kenapa saya agak antipati untuk menggunakan kata freelance dalam bisnis saya, karena yang ada di kepala orang kalau mendengar kata “freelance” biasanya persepsi yang timbul adalah pengangguran yang mengerjakan pekerjaan sambilan yang sifatnya sebatas hobi.
Itulah sebabnya saya merasa lebih sreg untuk menggunakan kata “free agent” untuk menghindari persepsi yang keliru seperti itu. Apalagi saya merasa bahwa saya ini adalah konsultan profesional yang mengedepankan pemberian jasa yang prima kepada semua perusahaan yang menjadi klien saya, dan karena saya tidak berada dibawah naungan perusahaan manapun tentunya itu membuat saya harus bekerja ekstra profesional, karena sekarang nama saya sendirilah yang menjadi taruhannya.
Mungkin boleh dibilang langkah yang saya ambil mirip seperti Jerry Maguire, dimana seorang profesional yang berasal dari sebuah perusahaan mapan kemudian keluar dan menjalankan usaha sendiri dari nol di bidang yang sama. Bedanya mungkin Jerry Maguire memulainya dari satu klien, sementara saya memulainya dari dua klien sekaligus, dimana salah satunya adalah klien retainer (alhamdulillah!).
Jadi beginilah saya sekarang, bekerja dari rumah dengan mengandalkan koneksi internet (saya sampai membuat rumah saya sebagai hotspot agar dapat bekerja di ruangan manapun), telepon, fax, dan sesekali pastinya saya harus keluar rumah untuk mengadakan sesi tatap muka dengan klien, calon klien, ataupun mewawancarai kandidat secara langsung (bila diperlukan).
Berbekal pengalaman dan pelajaran yang telah saya petik beberapa tahun lalu sebagai wirausahawan ketika menjalankan sebuah perusahaan jasa, Insya Allah apa yang saya lakukan sekarang ini bisa membawa jauh lebih banyak manfaat dan barokah untuk semua orang, tidak hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk keluarga saya, para klien saya, dan yang terpenting tentunya… anda semua sebagai pembaca setia blog saya.
Doakan saya bisa survive dan berhasil mengarungi gelombang kesulitan yang pasti akan menghadang para wirausahawan muda seperti saya ini, karena kalau boleh berbagi pengalaman, fase tersulit dalam memulai sebuah usaha adalah enam bulan pertama. Dari situlah kita bisa melihat apakah usaha ini kelak akan bisa sukses besar atau malah mesti gulung tikar.
Saya hanya berbekal satu keyakinan, kalau dijalani dengan sungguh-sungguh, ikhlas, serta yakin usaha kita bisa memberikan manfaat untuk banyak orang, Insya Allah jalan kemudahan itu akan selalu ada.
Saya juga mengundang anda untuk melihat beberapa bagian dari blog ini yang sudah saya modifikasi sedikit untuk memfasilitasi secara optimal berbagai informasi yang mungkin diperlukan, baik oleh para kandidat maupun calon klien saya. Semoga informasi tersebut bisa bermanfaat.
Sekali lagi, doakan saya bisa berhasil dalam merintis usaha jasa konsultasi rekrutmen ini.
9 Responses
Oke
05 May 2009 1Semoga sukses Pak!
–
Thank you, Ke!
Chic
05 May 2009 2coba nulisnya dari kemaren-kemaren sebelum saya dapet email itu… mwahahahahaha…
sukses Mas! jangan lupa ya yang kemaren
–
Chi, your wish is my command…
* lah kok malah jadi jin? *
Kemas
05 May 2009 3Selamat Pak Haryo atas keputusan yang diambil untuk menjadi seorang independent recruiter. Saya yakin dengan kemampuan, wawasan dan pengalaman Bapak selama ini, Bapak dapat sukses menjalani profesi baru ini. Have faith, do it right.
–
As always, thank you, Mas Kemas. You’ve been my loyal reader for quite a long time. I still have an obsession to recruit you on behalf of my client someday in the future
hadi prasetio
05 May 2009 4Selamat, standing ovation utk Mas Haryo.
Kisah dan keputusan serupa dengan yang saya pernah ambil.
insyaallah dengan kemampuan Mas Haryo, hal spt ini akan melecutkan prestasi dan rezeki dari tuhan. Rezeki akan selalu mengucur utk orang yang mau berusaha, dan gak semua orang mau memprioritaskan pendidikan spt Mas.
saya doakan sll buat kul dan karirnya.
–
Terima kasih banyak atas doa dan dukungannya, Mas Hadi.
Plugie
05 May 2009 5Good jobs … merambah ke bidang IT juga gak nih?
–
Bisa, pokoknya saya sekarang tergantung permintaan dari klien saja, tidak membatasi industri lagi.
Rani swj
05 May 2009 6Untuk kedua kalinya saya mampir blog ini dan mendapat kejutan dari pemilik blog…Bravo Mas…Saya pasti akan lebih sering berkunjung.
–
Silakan lebih sering berkunjung, Mbak Rani. Saya sangat berterimakasih ke semua yang mampir dan sudi membaca artikel saya.
Erwin
05 May 2009 7Next episode for mas Haryo….Independent recruiter
Insya Allah bisa!, selama niat telah diluruskan dan usaha yang akan dilakukan serta memasrahkan sepenuhnya kepada Allah SWT
keep posting
–
Thank you for the support, Mas Erwin.
Plugie
07 May 2009 8Bicara mengenai independent recruiter, saya kadang melihat lowongan sepertinya dari independent recruiter. Alamat email nya tidak menggunakan alamat email perusahaan tapi pakai alamat email gratisan atau alamat email dari ISP seperti CBN dlsb nya. Kok kayaknya kurang percaya ya kalau kirim lamaran bukan ke alamat email perusahaan apalagi nama perusahaan yang berminat tidak dicantumkan.
Dan sepertinya recruiter sering menyembunyikan nama perusahaan client mereka di iklan lowongan. kenapa ya…. Padahal dengan menyebutkan nama perusahaan akan lebih dipercaya.
–
Belum tentu iklan yang seperti itu dari independent recruiter. Biasanya yang pakai iklan seperti itu malah perusahaannya langsung. Kadang mereka pakai alamat email gratisan untuk menghindari server overload karena ‘dihujani’ kiriman CV. Kalau saya sih jelas akan pakai alamat email dengan domain suryosumarto.com (sekalian untuk branding efforts)
Recruiter sering menyembunyikan nama perusahaan klien karena memang itu permintaan klien. Mereka tidak ingin ada yang tahu, terutama kompetitor, kalau mereka sedang lowong di satu posisi tertentu (apalagi posisi strategis).
Tapi saya setuju, kalau nama perusahaan tidak disebutkan, apalagi alamat emailnya gratisan, lebih baik jangan kirim CV. I think it’s too risky to send our CV, which contains our personal identity, to an unknown company/person.
amri
27 Jan 2010 9memotivasi diri,berpikir rasional
Leave a reply
Search
About Me
Connect With Me
Quick Update
Recent Articles
Categories
Archives
Recent Comments
A design creation of Design Disease
Haryo Utomo Suryosumarto - Content on this site is licensed under Creative Commons Attribution 3.0 License
InSense 1.0 Theme by Design Disease | Slightly customized by Haryo | Sitemap