Menyikapi Si Kutu Loncat dengan Lebih Bijaksana

Saya sering menjumpai klien yang tidak mau berurusan dengan para kutu loncat. Kutu loncat atau sering juga disebut job hopper — yang dalam hal ini adalah profesional yang punya track record berpindah-pindah perusahaan dalam waktu relatif singkat — di mata para klien tersebut tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan bisa bertahan lama bekerja di satu tempat, termasuk bekerja di perusahaan mereka tentunya.

Tidak bisa dipungkiri kalau di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya masih banyak perusahaan yang menganggap bahwa loyalitas kepada si employer yang tercermin dari berapa lama seseorang bekerja di satu perusahaan tertentu sebagaimana yang tercantum dari CV-nya adalah salah satu faktor penting dalam menentukan apakah orang ini akan diproses lebih lanjut atau tidak pada sebuah proses rekrutmen.

Meskipun tidak sepenuhnya salah, tapi menyamaratakan semua kutu loncat juga bisa merugikan perusahaan. Misalnya ketika perusahaan melewatkan kesempatan untuk merekrut seorang profesional berprestasi, hanya karena track record-nya yang menunjukkan ‘sindrom’ kutu loncat tersebut.

Satu hal yang perlu disadari adalah ketika kita memasuki abad 21 dimana peta perekonomian dan perkembangan bisnis dunia bergerak dengan sedemikian cepatnya, fenomena kutu loncat ini seharusnya disikapi dengan lebih bijaksana. Apalagi mengingat semakin maraknya praktek mempekerjakan tenaga kontrak ataupun tenaga outsourcing yang dilakukan oleh banyak perusahaan di berbagai belahan dunia dengan dalih efisiensi usaha.

Mungkin memang ada beberapa kutu loncat diluar sana yang gemar berpindah-pindah perusahaan semata-mata untuk mengejar imbalan finansial yang lebih besar, tapi bila ditelusuri dengan lebih seksama tidak sedikit juga diantara para kutu loncat tersebut yang — kalau boleh meminjam istilah militer — merupakan mercenaries atau ‘tentara bayaran’ dalam pengertian yang lebih spesifik.

Mereka menjual skill dan knowledge yang mereka miliki untuk mengejar pencapaian tertentu di perusahaan yang mempekerjakan mereka. Apakah mereka semata bekerja untuk mencari uang dan mencari posisi nyaman dengan sederet benefits yang bisa mereka peroleh? Saya tidak sepenuhnya yakin, tapi yang jelas mereka merupakan high achievers yang bila dimanfaatkan dengan optimal, bisa memberikan kontribusi sangat berarti dalam jangka pendek bagi perusahaan yang mempekerjakan mereka.

Dalam pandangan saya, kunci utama yang diperlukan oleh seorang internal recruiter ketika melihat indikasi seorang profesional adalah kutu loncat (yang tercermin dari riwayat kerja di CV-nya) adalah berusaha untuk menelusuri lebih jauh kenapa orang ini menjadi kutu loncat. Alih-alih menyingkirkan CV-nya seketika, bila kualifikasinya memang memenuhi job requirements, saya pikir tidak ada salahnya mengundang orang tersebut untuk hadir dalam sesi interview tahap pertama.

Dari sesi interview itulah baru bisa ditarik kesimpulan yang lebih obyektif disertai dengan alasan logis untuk membuat keputusan apakah akan melanjutkan proses rekrutmen orang tersebut ke tahapan berikutnya atau cukup berhenti sampai disini.

Sementara di sisi lain, untuk para kandidat yang termasuk dalam golongan kutu loncat, saya sering menyarankan agar selalu mencantumkan dalam CV-nya reason for leaving dengan sejujur-jujurnya setiap kali meninggalkan perusahaan untuk pindah ke perusahaan lainnya. Tidak perlu terlalu rinci, satu kalimat pun sudah cukup. Paling tidak itu bisa memberikan sedikit gambaran yang lebih obyektif kepada calon employer, kenapa si kandidat ini gemar pindah kerja.

Intinya, fenomena kutu loncat ini harus bisa dipandang sebagai sebuah fenomena yang semakin wajar dalam dunia ketenagakerjaan. Karena seperti yang pernah saya tulis dalam artikel saya sebelumnya, dengan kondisi perekonomian yang masih tidak menentu seperti sekarang, jalan terbaik yang harus ditempuh untuk para profesional adalah berusaha semaksimal mungkin untuk loyal kepada profesinya, dan bukan kepada perusahaan yang mempekerjakannya.

Jadi bila suatu hari si kutu loncat ini melamar kerja di perusahaan anda, jangan terburu memasang sikap antipati. Bersikaplah lebih obyektif dan telusuri dengan seksama, siapa tahu dari situ anda justru menemukan the next rising star yang bisa membawa perusahaan anda ke pencapaian yang lebih tinggi lagi.

Quote of the Day:

“High achievers spot rich opportunities swiftly, make big decisions quickly and move into action immediately. Follow these principles and you can make your dreams come true.” by Robert H. Schuller

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

12 thoughts on “Menyikapi Si Kutu Loncat dengan Lebih Bijaksana

  1. Nancy

    saya sudah hampir 1,5 tahun diperusahaan yg sekarang mas, sudah saya kuat2in krn takut sama cap kutu loncat itu. tapi saya sudah menjelang puncak kesabaran saya mas.
    apa yg harus saya lakukan. kalau berkenan, boleh tidak saya konsultasi via email sama mas?
    terima kasih sebelumnya ya..

    Regards,
    Nancy

    [Reply]

    Reply
  2. hajid

    mas, saya dalam kurun waktu kurang lebih hampir 2 tahun sudah berpindah-pindah ke empat perusahaan yang berbeda, masalah pertama adalah salary, selebihnya adalah saya merasa “pekerjaan ini terlalu cetek untuk saya”, lalu waktu kerjanya tidak normal, bisa-bisa pulang malam saya, lingkungan kerja yang tidak nyaman, bos yang torture, dan bermacam-macam keluhan lainnya yang membuat saya tidak betah dan memutuskan untuk resign, dan semuanya di bawah waktu probation, apakah itu normal? atau saya belum menemukan pekerjaan yang pas untuk saya?

    [Reply]

    Reply
  3. lacozte

    mas mengapa ada yg di kontrak lebih dari 3 tahun…? padahal dalam undang-undah perburuhan, orang yg di pekerjakan sebagai tenaga kontrak paling lama 3 tahun,. lewat dari 3 tahun perjanjian kontrak tidak bs di perpanjang lagi. tetapi kok di lingkungan PEMDA pd suatu daerah bs lebih dari 3 tahun hingga 7 tahun tetap di pekerjakan sebagai tenaga kontrak,.,.,??? mengapa…????

    [Reply]

    Haryo reply:

    Pelanggaran seperti ini memang masih banyak terjadi. Pertama, bisa jadi pihak employer memang tidak tahu detail ketentuan mengenai PKWT, atau yang kedua, bisa jadi pihak employer sudah tahu detail ketentuan PKWT tapi sengaja melanggarnya dengan dalih efisiensi usaha. Peran Dinas Tenaga Kerja untuk menjalankan fungsi pengawasan sebetulnya sangat diharapkan, tapi kalau pihak Dinas Tenaga Kerja selalu membuat laporan tidak ada pelanggaran dengan imbalan tertentu dari pihak employer, ya susah juga mencari solusinya.

    [Reply]

    Reply
  4. Liana

    Mas Haryo, sy bekerja dibidang yg tidak sesuai background saya, sekarang saya ingin mencari pekerjaan yang sesuai bidang saya, dan saya merasa kesulitan krn prsh2 menganggap saya tidak konsisten dg bidang saya. Apakah kemungkinan tidak ada yg mau menerima saya?

    [Reply]

    Reply
  5. Rully

    Mas, saya lulusan Teknologi Pertanian, pertama bekerja tahun 1995 di salahsatu Franchise Restoran, kemudian menjadi konsultan franchise dan sekarang di salahsatu BUMN Perkebunan. Saya butuh rearrange kehidupan dan tantangan baru. Mohon Pencerahan.

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *