Menawarkan Gaji Besar adalah Sebuah Kebodohan!

Ada tren menarik yang saya amati dalam beberapa waktu terakhir ini menyangkut upaya yang dilakukan oleh berbagai perusahaan untuk menarik talenta-talenta cemerlang pada level manajerial agar mau bergabung. Berbeda dengan periode tiga sampai lima tahun yang lalu, ternyata kini makin banyak upaya menarik para talenta tersebut yang menemui kegagalan.

Saya berusaha melakukan analisa sederhana untuk mengetahui penyebab kegagalan tersebut, dan saya sampai pada satu kesimpulan bahwa upaya untuk menarik para talenta tersebut rupanya masih menitikberatkan pada tawaran gaji besar atau segala sesuatu yang terkait dengan monetary benefits semata, serta kurang memperhatikan hal-hal lainnya yang bersifat non-monetary benefits dan rupanya kini kian menjadi faktor penting sebagai bahan pertimbangan bagi para talenta tersebut.

OK, kalau tawaran gaji besar atau segala sesuatu yang bersifat monetary benefits kian tidak ampuh untuk menarik para talenta berbakat untuk bergabung, lalu apa yang harus diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan untuk bisa merubah strategi rekrutmennya agar lebih efektif?

Saya coba jabarkan beberapa hal berikut:

  • Membangun Good Corporate Image. Ini mutlak perlu, karena para talenta dengan karir gemilang tidak akan pernah berminat untuk bergabung dengan perusahaan yang menjadi sorotan publik karena hal-hal negatif, seperti misalnya penggelapan pajak, bermasalah dengan aparat berwenang, atau riwayat buruk dalam hal hubungan kerja dengan karyawannya sendiri.
  • Membangun Good Corporate Culture. Saya termasuk orang yang meyakini bahwa kultur perusahaan adalah salah satu faktor penentu bagi para talenta profesional dalam memutuskan untuk bergabung dengan satu perusahaan. Ketika dirinya membayangkan bahwa karakternya akan cocok dengan kultur yang dianut sebuah perusahaan, satu poin plus sudah didapatkan.
  • Role and Responsibility yang Menantang dan Terukur. Konsep ini dijabarkan secara sangat sederhana oleh Ken Blanchard dalam bukunya yang fenomenal, One Minute Manager, dimana para talenta berbakat tersebut lebih memilih untuk ditunjukkan hasil akhir yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu, berikan tanggung jawab, kepercayaan dan kebebasan penuh untuk mencapainya, serta pertanggungjawaban pada batas waktu yang telah disepakati. Ini akan lebih menarik dibandingkan bekerja dibawah supervisi atasannya secara terus menerus dengan fungsi kerja dan tanggung jawab yang sangat terbatas.
  • Berusaha Mengetahui Passion dari Talenta yang Diincar. Hal ini paling sering luput dari perhatian, tapi ketika satu perusahaan berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengetahui apa passion dari talenta tersebut dan kemudian menawarkan posisi yang bisa mengakomodasi passion yang dimilikinya kedalam satu role yang menarik, paling tidak talenta tersebut akan memikirkan tawaran bergabung dari perusahaan tersebut secara lebih serius.
  • Berusaha Mengakomodasi Aspirasi Karir Masa Depan. Tidak ada satu pun talenta dengan potensi besar yang puas menempati satu posisi dalam waktu yang terlalu lama. Mereka adalah manusia-manusia aktif, dinamis dan progresif yang selalu haus tantangan baru dan sangat agresif dalam mengejar aspirasi karirnya di masa yang akan datang. Ketika satu perusahaan berusaha secara sungguh-sungguh berpikir panjang untuk bisa (dan mau) mengakomodasi aspirasi karir masa depannya, saya yakin tipe perusahaan seperti ini akan lebih menarik di mata para talenta tersebut.
  • Kesempatan Menyeimbangkan Kehidupan Profesional dan Personal. Harus saya akui, masih sangat sedikit perusahaan di Indonesia yang memberikan perhatian pada aspek yang satu ini. Saya tidak tahu apa penyebabnya, tapi kembali lagi bahwa ini bukan masalah bisa atau tidak bisa, tapi masalah mau atau tidak mau. Tinggal di kota dengan tingkat “kerusuhan” tinggi seperti Jakarta membuat seorang pekerja sepertinya dipaksa untuk mengorbankan salah satu sisi kehidupannya, entah itu kehidupan profesional atau kehidupan personal. Bisa dibayangkan kalau ada perusahaan yang sanggup mengakomodasi dua sisi tersebut dan menaruh perhatian pada pentingnya keseimbangan hidup dari setiap karyawannya, tentunya perusahaan tersebut akan lebih menarik di mata para talenta potensial.

Sebetulnya apa yang saya jabarkan diatas belum merupakan keseluruhan, tapi paling tidak sudah cukup untuk memberikan gambaran secara umum bahwa ternyata masih banyak sekali faktor lain yang menjadi bahan pertimbangan bagi para talenta profesional sebelum memutuskan untuk bergabung dengan satu perusahaan.

Tentunya faktor-faktor lain yang bersifat non-monetary benefits tersebut tidak dapat terealisir bila tidak ada dukungan yang kuat dari para petinggi perusahaan, karena tidak bisa dipungkiri bahwa menarik talenta-talenta dengan potensi cemerlang seharusnya tidak hanya menjadi kepentingan manusia-manusia di Departemen SDM, tapi lebih luas lagi sudah menjadi kepentingan seluruh perusahaan — yang dalam hal ini tentunya diwakili oleh para petinggi perusahaan.

Jadi kalau masih ada pemikiran dengan paradigma lama bahwa menarik para talenta potensial cukup dengan menawarkan gaji besar serta fasilitas menggiurkan, tolong ubah pemikiran demikian. Jaman sudah berubah dengan cepat dan melakukan hal-hal seperti itu tanpa disertai dengan kemauan untuk mengakomodasi kepentingan dari si talenta itu sendiri tentunya menjadi sebuah kebodohan yang membuang waktu dan tenaga semua orang.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

6 thoughts on “Menawarkan Gaji Besar adalah Sebuah Kebodohan!

  1. Haryo

    Tanggung jawab HRD untuk mengeksekusinya kedalam sebuah rencana talent management yang applicable, atas arahan dari para petinggi perusahaan tentunya.

    [Reply]

    Reply
  2. zakia

    setuju banget dengan apa yang disampaikan diatas.
    andai…. andai konsep diatas benar-benar direalisasikan dalam perusahaan secara riil, pasti banyak yang akan melamar di perusahaan tersebut!

    terutama untuk “Kesempatan Menyeimbangkan Kehidupan Profesional dan Personal. ” semoga perusahaan di Indonesia mulai mempertimbangkan dan merealisasikan untuk poin terakhir tsb, sehingga karyawannya dapat bekerja bukan hanya dengan work hard, tapi juga work smart. bekerja bisa dari rumah atau dari mana pun. indahnya dunia ๐Ÿ™‚

    [Reply]

    Reply
  3. alwi

    aslm.
    terimakasih infonya, sya coba untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari sebelumnya…. akan tetapi sya orang yng paling sulit untuk berkomunikasi dengan yang lain… kira-kira apa yang harus sya lakukan saat ini ?…..

    [Reply]

    Reply
  4. Arjanto

    Yth
    Setuju, perusahaan jangan terlalu memfokuskan pada penawaran gaji besar tetapi juga lingkungan kerja, tetapi yang terpenting menghargai ide dikemudian hari sehingga apabila dia yang mempunyai ide maka ide itu akan diberikan point reward.

    Mungkin diperusahaan lain begitu tetapi kalau perusahaan tempat saya bekerja sangat minim penghargaaan, kenaikan pangkat untuk semua orang. Tetapi saya tetap loyal selama kurun waktu hampir 15 tahun, berhubung saya sdh cukup umur saya sulit utk pindah keperusahaan lain, apabila ada info mohon bisa diinformasikan, Thanks

    Salam
    Arjanto
    arjansw@yahoo.com

    [Reply]

    Reply
  5. Sardion Maranatha

    numpang komentar pak,, baru nemu blog ini..keren pak ๐Ÿ™‚

    I once heard a great mentor of mine said that money is not the greatest motivator..but hunger of success and compassion of learning are the greatest motivators.. learning is to earning..the company should reward when the learning has produced an outcome..

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *