Membangun Lingkungan Kerja yang Produktif

Pada hari Senin (26 September 2011) yang lalu, saya sempat diminta menjadi narasumber untuk acara “Good Morning Hard Rockers Show” di Hard Rock Radio Bali. Topik yang diangkat saat itu adalah Kompak dengan Teman Kerja, dimana menurut saya topik ini sangat relevan dengan kehidupan di dunia kerja tapi sayangnya masih sedikit sekali diulas secara lebih detail.

Secara gampangnya bisa kita lihat betapa hingga saat ini masih banyak pemilik atau pemimpin perusahaan yang menekankan perlunya membangun kekompakan di dalam sebuah organisasi atau perusahaan, tapi mungkin belum mengetahui bagaimana kekompakan tersebut sebetulnya dapat terbangun dengan sendirinya, tanpa adanya campur tangan yang terlalu banyak dari pihak manajemen perusahaan.

Saya pribadi berpendapat kekompakan yang terbangun di dalam organisasi (apakah itu sebuah tim, departemen atau perusahaan) sebetulnya hanyalah akibat dari satu kondisi yang bisa diciptakan dengan mengetahui terlebih dahulu faktor-faktor utama untuk membangun sebuah lingkungan kerja yang produktif.

Lingkungan kerja yang produktif itu sendiri memiliki tiga faktor yang menjadi sebuah prasyarat utama:

  • Tujuan yang sama. Dengan memiliki tujuan yang sama, maka seluruh anggota organisasi mau tidak mau dituntut untuk bisa bekerjasama dengan baik dan produktif, demi memudahkan pencapaian tujuan.
  • Komunikasi terbuka. Dasar utama dari sebuah relasi positif antar manusia adalah komunikasi yang baik. Dalam sebuah organisasi, komunikasi yang baik bisa terbangun dengan melibatkan seluruh anggota organisasi, dimana mereka bisa bebas mengeluarkan pendapatnya secara terbuka dan yakin bahwa pendapat tersebut akan dihargai.
  • Komitmen. Dua faktor diatas tidak mungkin bisa berjalan tanpa adanya komitmen yang sungguh-sungguh dari semua anggota dalam sebuah organisasi. Komitmen dapat ditumbuhkan dengan memastikan bahwa semua anggota mengetahui secara pasti apa yang diharapkan dari mereka, bentuk tanggung jawab apa yang mesti diemban, dan bagaimana mereka mesti mencapainya.

Pertanyaan berikut yang muncul, sebetulnya usaha menciptakan lingkungan kerja yang produktif itu menjadi tanggung jawab siapakah? Apakah menjadi tanggung jawab manager? Atau menjadi tanggung jawab para staf?

Saya berkeyakinan manager dan para staf pasti memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif, tapi tanggung jawab yang mereka miliki itu dalam konteks hanya sekedar sebagai pelaksana sebuah kebijakan. Kebijakan atau policy untuk mewujudkan lingkungan kerja yang produktif itu sendiri merupakan tanggung jawab pemilik atau pimpinan perusahaan.

Menarik juga untuk diketahui bahwa lingkungan kerja yang produktif dimana terwujud kekompakan antar anggota sebuah organisasi itu sebetulnya satu hal yang tidak dapat dipaksakan, tapi dapat diciptakan. Pemilik atau pemimpin perusahaan harus mengetahui secara pasti budaya organisasi atau budaya kerja seperti apa yang ingin diciptakan dalam perusahaannya? Nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan dalam benak para karyawannya? Visi perusahaan seperti apa yang ingin dicapai? Iklim kerja seperti apa yang bisa mendorong para karyawan untuk punya sense of belonging yang tinggi terhadap perusahaan?

Dari situlah para pemilik atau pemimpin perusahaan kemudian bisa merunut ke belakang untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai karakter orang seperti apa yang dirasa tepat untuk bekerja di perusahaannya, karena bagaimanapun juga lebih mudah bagi seseorang untuk mengadopsi budaya atau nilai-nilai perusahaan bila budaya atau nilai-nilai tersebut memiliki kesamaan dengan kepribadian dan nilai-nilai individual yang dianutnya.

Bukan bermaksud menyombongkan diri kalau kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan sederhana ini sebetulnya bermuara pada proses rekrutmen yang baik dan benar. Rekrutmen sepertinya hal yang dipandang paling sederhana dan paling kurang bergengsi dibandingkan dengan aspek-aspek HR atau SDM lainnya, tapi disini pula kita bisa mengetahui bahwa rekrutmen sebetulnya memegang peranan paling strategis dalam menentukan keberhasilan sebuah perusahaan, karena pada akhirnya kualitas manusia pula yang menjadi penentunya.

Tulisan ini terutama ditujukan bagi para pemilik atau pemimpin perusahaan pada umumnya dan saya sendiri pada khususnya, agar jangan lagi timbul pemikiran bahwa semua orang pasti akan berebut untuk bekerja di perusahaan anda.

Mulai dari sekarang pastikan bahwa anda hanya akan merekrut orang-orang dengan karakter baik, kualifikasi yang tepat dan memiliki kesamaan nilai serta kultur dengan perusahaan, karena dari orang-orang seperti itulah visi perusahaan anda dapat lebih mudah tercapai.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *