Korelasi antara Technical Skill dan Communication / Interpersonal Skill

Meskipun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan, dan sama sekali tidak ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk mendukung pendapat saya, tapi selama ini saya mengamati ada satu kecenderungan menarik diantara para kandidat yang pernah saya wawancarai untuk menempati posisi di perusahaan klien, khususnya untuk posisi di bidang-bidang ini: engineer, keuangan, pajak, dan programmer.

Kecenderungan itu secara dangkal dilihat dari dua faktor yang selalu saya perhatikan dengan seksama dari wawancara ataupun dari apa yang tercantum dalam CV atau resume si kandidat, yaitu faktor technical skill dan faktor communication atau interpersonal skill.

Yang membuatnya menjadi menarik, saya melihat sebuah kecenderungan korelasi antara technical skill dengan communication / interpersonal skill dari sebagian besar kandidat yang saya wawancarai adalah sebagai berikut:

Dari apa yang terlihat pada grafik diatas, saya membagi kandidat kedalam tiga klasifikasi: kandidat merah, kandidat kuning, dan kandidat hijau.

Kandidat Merah: Mereka memiliki pengalaman dan jam terbang yang cukup dengan masa kerja minimal delapan tahun di perusahaan-perusahaan multinasional atau swasta nasional terkemuka. Dengan penguasaan technical skill yang tinggi di bidangnya, mereka biasanya memiliki karir yang sangat bagus dan melesat cepat. Bahkan kadang di usia kurang dari 40 tahun mereka sudah bisa menduduki posisi-posisi penting di perusahaan tempatnya bekerja dan dengan gaji yang tidak kecil tentunya.

Yang menjadi masalah, mereka ini cenderung jadi kurang memiliki communication / interpersonal skill yang bagus. Sedikit ada kecenderungan menganggap dirinya hebat sehingga (kadang) menganggap orang lain tidak secerdas dan sepenting dirinya. Sering tertangkap kesan bahwa orang ini (tanpa disadarinya) menganggap remeh orang lain.

Berbicara dengan mereka kadang membuat saya sering bertanya-tanya, apa reaksi orang-orang yang menjadi anak buahnya kalau menghadapi boss bertipe seperti ini ya?

Kandidat Kuning: Karakteristik kandidat tipe ini adalah setengah-setengah, dari segi technical skill mereka cukup bagus (meski tidak segemilang Kandidat Merah), tapi jelas-jelas memiliki communication / interpersonal skill yang lebih baik daripada Kandidat Merah. Mereka memiliki communication / interpersonal skill yang baik karena mereka menyadari bahwa skill itulah yang bisa membantu mereka untuk “mengalahkan” kandidat merah dalam persaingan dunia kerja.

Kandidat Kuning bisa terdiri dari kisaran usia dan pengalaman kerja yang beragam. Biasanya Kandidat Kuning memiliki pengalaman kerja sekitar lima sampai dengan lima belas tahun keatas, dan cukup bisa mengkomunikasikan apa yang ada di pikirannya kepada orang lain dengan jelas, meski masih bisa ditingkatkan lagi ke level yang lebih tinggi karena kadang kandidat tipe ini sering kebingungan juga untuk menempatkan dirinya sebagai profesional yang patut diperhitungkan (entah karena faktor kurang percaya diri atau mungkin juga karena tidak tahu bagaimana mengkonsultasikan hal ini kepada orang lain).

Kandidat Hijau: Biasanya kandidat tipe ini adalah pemula, tapi bukan fresh graduate. Pengalaman kerja baru berkisar dua sampai lima tahun, sehingga untuk technical skill mereka masih jauh dari mumpuni karena sedang dalam taraf memperkuat pondasi pemahaman mengenai bidang yang baru ditekuninya selepas masa kuliah.

Namun untuk communication / interpersonal skill jangan ditanya lagi, mereka pandai menempatkan diri dan memandang hormat orang yang lebih senior dari dirinya, tidak segan untuk belajar dari orang lain, serta cukup terbuka untuk membicarakan isi pikirannya sebagai seorang profesional pemula kepada siapa pun yang mau mendengarnya, terutama kepada headhunter, hehehehe…

Tapi seperti yang sudah saya ungkapkan di bagian awal tulisan, memang tidak semuanya seperti itu. Kadang saya juga menemui kandidat yang pengalamannya belum seberapa, tapi cara bicaranya mengesankan seorang brengsek sejati, dan biasanya yang begini ini tidak masuk klasifikasi Kandidat Hijau atau Kandidat Kuning, tapi bibit dari Kandidat Merah (tua).

Sebaliknya beberapa kali saya berkesempatan bertemu dengan kandidat veteran, berpengalaman profesional cukup lama, memiliki technical skill yang ciamik, dan diimbangi pula dengan communication / interpersonal skill yang mempesona. Terus terang saya paling salut kalau menemui kandidat seperti ini dan saya tidak segan untuk belajar dari beliau… karena saya menganggap diri saya ini masih termasuk dalam klasifikasi Kandidat Hijau (meski sudah agak kekuningan).

Dalam dunia ideal saya, seharusnya mereka itulah yang dimasukkan kedalam klasifikasi Kandidat Hijau. Bila semua kandidat yang saya hubungi termasuk dalam klasifikasi Kandidat Hijau (dalam dunia ideal saya), alangkah mudahnya kerja saya dan alangkah bahagianya para klien yang mendapatkan mereka.

Nah, tantangan untuk kita semua sekarang adalah berusaha menjadikan diri kita sebagai Kandidat Hijau, sebagaimana terbersit dalam dunia ideal saya.

Saya yakin dengan menjadi Kandidat Hijau seperti dimaksud tabel diatas, tidak hanya anda akan menemukan kepuasan dalam bekerja, tapi anda juga akan mendapat ketulusan serta kebaikan hati dari siapa saja… karena semua orang memang senang bergaul dengan anda.

Quote of the Day:

“Really great people make you feel that you, too, can become great.” by Mark Twain

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

5 thoughts on “Korelasi antara Technical Skill dan Communication / Interpersonal Skill

  1. Djati

    The more I read about your writing the more I curious to read your writings. I am in a kind of intersection. Should I find another job to replace the current one or think something else.

    [Reply]

    Reply
  2. sanggita

    Sepakat, Pak. Setiap orang – terutama leader – saat ini memang dituntut untuk mampu memadukan kemampuan teknis dan komunikasi/interpersonal skill. Di tempat saya bekerja, setiap leader pasti dibekali coaching counseling training agar terjadi interaksi leader-follower yang harmonis.

    Se-ciamik apa pun keterampilan teknis seorang leader, dia kan harus mampu berbaur sambil mengamati dan mengevaluasi, berbicara berdasarkan data dan fakta, mampu memberi umpan balik dengan people skill, dan mampu mendengar dengan aktif. Ya lagi-lagi keterampilan berhubungan dengan orang lain gitu.

    [Reply]

    Reply
  3. annis

    Good!

    So, pemimpin yang baik itu sebenarnya pemimpin yang menghargai oranglain, tidak melihat seberapa ciamik kah ia apakah selevel dengannya atau tidak. Karena bukan keciamikannya dalam teknis yang dinilai, tapi yang jauh lebih penting adalah perkara moral. Seorang yang ahli dengan moral yang tinggi dan kepribadian yang menyenangkan oranglain akan tetap berkibar, tidak berkurang keahliannya, namun seorang yang ahli namun bersikap jumawa dan tidak membuat nyaman lingkungannya, apalah arti keahliannya. Karena budaya organisasi yang terus belajar (learning organization) harus dibangun untuk menciptakan kemajuan yang berkelanjutan, kualitas people dari aspek teknis, moral, dan interpersonal dapat diwujudkan sebagaimana konsep ideal yang juga telah anda cetuskan..

    Great! 🙂

    [Reply]

    Reply
  4. bener banget

    bener banget tapi saya agak confused, rasanya demand lbh banyak ke specialst daripada generalist. dg kata lain specialist lbh gampang/cepat dapat pekerjaan.. generalist/ managers lama turn over nya (alias susah cari vacancy di area ini). menurut sy lho..

    [Reply]

    Reply
  5. felix

    apa yang di maksud dengan tecnical skill itu sendir?
    jika kita di suruh presentasi tentang tecnical skill pada suatu bank , apa yang harus di presentasikan?

    apa arti presentasi skill itu sendiri?

    mohon petunjuknya

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *