Ketika Keinginan Menjadi Employee Muncul Kembali

Bayangkan situasi seperti ini: anda merasa jenuh setelah bekerja bertahun-tahun sebagai employee. Berangkat pagi pulang malam penghasilan pun pas-pasan (setidaknya menurut pendapat anda secara subyektif). Setiap hari harus sabar menghadapi bos maupun rekan kerja yang kadang tidak jelas apa maunya. Ditambah dengan permainan office politics yang menyebabkan semua orang sepertinya mesti saling sikut untuk memenuhi agendanya masing-masing. Anda ingin pindah kerja ke perusahaan lain, tapi kuatir pada akhirnya akan menemukan hal yang sama.

Setelah menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan keluarga, akhirnya anda mantap untuk memutuskan bahwa anda akan mengundurkan diri dari perusahaan tempat kerja anda sekarang dan melepaskan predikat employee. Anda telah memutuskan bahwa anda tidak akan mau lagi menjadi employee di masa yang akan datang dan kini berniat untuk menjadi pengusaha dan menjalani jalur self-employment.

Namun pada akhirnya kenyataan berkata lain, setelah beberapa waktu menjalani jalur self-employment sebagai pengusaha, ternyata menjadi pengusaha tidak seindah yang anda bayangkan. Bila dulu anda mengeluhkan jam kerja yang panjang ketika bekerja sebagai employee, tenyata ketika menjadi pengusaha jam kerja yang anda jalani justru menjadi jauh lebih panjang lagi, malah kadang tidak mengenal hari libur. Tingkat stress pun meningkat drastis dibandingkan ketika masih menjadi employee, ditambah lagi dengan pemasukan yang masih tidak menentu, tidak adanya jaminan kesehatan yang bisa meng-cover anda dan keluarga, serta berbagai cicilan yang mesti dibayar setiap bulannya… akhirnya membuat anda mengatakan bahwa menjadi pengusaha bukanlah jalan hidup anda dan hal itu semakin menegaskan keinginan untuk kembali menjadi employee.

Beberapa kali saya menemui kandidat dengan pengalaman seperti yang diceritakan diatas. Bahkan tidak perlu jauh-jauh, saya sendiri pun pernah menghadapi situasi yang sama beberapa tahun yang lalu. Hanya bedanya, ketika itu saya merasa terjun di industri yang salah, dimana untuk memenangkan tender (baca: mendapat pemasukan) saya harus memberikan janji uang pelicin sebesar sekian persen dari total nilai proyek. Sesuatu yang sangat tidak sesuai dengan hati nurani dan prinsip yang saya anut.

Nah, sekarang bagaimana caranya agar transisi karir dari kehidupan sebagai employee kemudian menjadi pengusaha, dan kemudian kembali lagi menjadi employee dapat berlangsung mulus?

1. Katakan dengan Jujur

Tidak perlu malu untuk menuliskan di CV anda bahwa anda pernah menjalani self-employment. Kebanyakan kandidat yang saya temui justru merasa segan untuk menuliskan ini karena kuatir dengan anggapan bahwa mereka ingin kembali menjadi employee karena mereka gagal sebagai pengusaha. Padahal kalau kenyataannya demikian, itu merupakan poin penting yang harus disampaikan secara terbuka, apalagi ketika proses interview.

Justru dengan tidak menuliskan pengalaman self-employment tersebut, akan timbul gap waktu yang cukup signifikan antara tanggal anda meninggalkan perusahaan yang lama dengan tanggal saat CV anda di-review oleh prospective employer. Hati-hati, biasanya gap waktu yang tidak jelas ini bisa menimbulkan tanda tanya besar di benak recruiter, kadang timbul kesan bahwa anda totally unemployed selama jangka waktu tersebut dan ini bisa menjadi poin minus yang sangat merugikan anda.

2. Ubah Mindset Anda

Hampir selalu saya temui, kandidat dengan pengalaman self-employment yang kemudian ingin kembali menjadi employee justru datang memenuhi undangan interview dengan mindset “I have something to lose,” dan bukannya “I have nothing to lose.”

Beban berat yang terpatri di pikiran bahwa anda harus secepat mungkin kembali mendapatkan pekerjaan sebagai employee, justru membuat anda tidak dapat tampil apa-adanya di hadapan interviewer dan kadang timbul kesan anda terlalu keras berusaha untuk terlihat bagus, sehingga malah menjadi kontra-produktif dengan apa yang ingin anda capai dalam sesi interview tersebut.

Ubahlah mindset anda. Saya tahu ini sangat sulit, tapi dengan membawa mentalitas “nothing to lose” itu tadi, biasanya anda akan merasa lebih nyaman karena tahu bahwa anda hanya perlu menjadi diri sendiri dengan segala keunikan dan kompetensi yang anda miliki

3. Sesuaikan Salary Expectation yang Anda Miliki

Hanya karena anda merasa bahwa pada posisi terakhir anda sebagai seorang employee (sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha), anda menerima gaji Rp 20 juta sebulan, bukan berarti angka 20 juta tersebut kemudian menjadi harga mati yang sifatnya tidak bisa dinegosiasikan.

Harap diingat bahwa pada kondisi seperti sekarang ini, posisi tawar anda sangat lemah di mata potential employer, jadi untuk bernegosiasi soal gaji juga bukan merupakan hal yang akan menguntungkan untuk anda, terutama kalau anda menyebutkan besaran gaji yang sedikit kurang masuk akal.

Tidak bisa tidak, ketika anda memutuskan untuk kembali menjadi employee, anda harus siap menerima tawaran gaji yang lebih rendah dibandingkan ketika anda terakhir kalinya menjadi employee. Apalagi ketika anda ditawari untuk menempati posisi yang secara struktural mungkin lebih rendah dibandingkan posisi terakhir anda. Tapi kalau anda ditawari posisi yang levelnya sama di perusahaan lain, pikirkan untuk mengurangi salary expectation anda menjadi 10 – 25% lebih rendah dibandingkan gaji yang terakhir anda terima.

4. Pengalaman Self-employment Merupakan Hal yang Positif

Ini satu hal yang kurang disadari. Tapi kalau mau jujur, dengan memiliki pengalaman sebagai pengusaha, berani untuk menjalani self-employment (meskipun pada akhirnya gagal), anda sudah memiliki pengalaman yang belum tentu dimiliki oleh kandidat lainnya.

Tonjolkan kemampuan anda dalam hal bernegosiasi, melakukan strategic decision making, membuat marketing plan, merencanakan budget, dan 1001 hal lainnya yang belum tentu dilakukan juga oleh kandidat lainnya yang mungkin hanya memiliki pengalaman 100% sebagai employee atau seorang profesional.

Petik pelajaran berharga dari situ dan yakinlah kalau anda bisa jeli untuk menyesuaikan pengalaman dan kompetensi unik yang anda peroleh ketika menjalani self-employment dengan job requirements yang diperlukan, maka besar kemungkinan anda semakin cepat kembali mendapatkan pekerjaan sebagai employee.

——

Memang harus diakui, tidak semua orang ditakdirkan untuk menjadi pengusaha atau menjalani self-employment. Banyak karakter tertentu yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha dan karakter tersebut kadang sulit ditemui pada orang yang seumur hidupnya menjadi employee. Kendala terbesar biasanya adalah ketidaksiapan meninggalkan comfort zone dan menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian sebagai seorang pengusaha.

Kalaupun anda pernah menjalani jalur sebagai pengusaha, namun pada akhirnya memutuskan kembali menjalani karir sebagai employee, jangan pernah menganggap diri anda sebagai seorang “loser” tapi anggaplah bahwa anda adalah seorang “fighter”

Kegagalan dan jatuh bangun dalam hidup itu hal biasa, tapi akan menjadi luar biasa kalau anda selalu bisa cepat bangun setelah jatuh dengan pemikiran bahwa biarpun anda jatuh 1000 kali, maka anda akan bangun 1000 kali juga.

Kalau pilihan kembali menjadi employee merupakan salah satu cara anda untuk bangun dari kejatuhan, ingatlah slogan Nike, “Just Do It” — tidak ada yang salah dengan hal itu selama anda memiliki mindset yang benar untuk siap kembali menjadi employee.

Semoga memberikan pencerahan di hari-hari terakhir bulan Ramadhan 1430 Hijriyah ini.

Quote of The Day:

“A life spent making mistakes is not only more honorable, but more useful than a life spent in doing nothing.” by George Bernard Shaw

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

6 thoughts on “Ketika Keinginan Menjadi Employee Muncul Kembali

  1. Elang

    Selamat siang pak.

    Saya juga mengalami seperti yang bapak tuliskan di atas.
    Kalau saya kembali ke perusahaan di tempat saya bekerja dulu, apakah itu sesuatu hal yang memalukan pak?
    Saya keluar dari perusahaan dengan cara yang baik, sesuai prosedur perusahaan.

    Terima kasih

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Tidak masalah, selama kedua belah pihak sepakat.

    [Reply]

    Reply
  2. iwan

    Ini artikel dibuat untuk menjatuhkan mental orang yang tetap mau jadi pengusaha, mungkin penulisnya punya mental “cemen” yang sakit akan pernah gagal nya jadi pengusaha sehingga menjadi looser dengan menulis artikel ini.

    [Reply]

    Haryo Suryosumarto reply:

    Please read the whole article, not just the title. Do not show everyone here your level of stupidity 😉

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *