Judul yang tendensius setelah sekian lama tidak aktif menulis? Bisa jadi, tapi yang jelas saya sedang berusaha untuk meyakinkan banyak orang diluar sana bahwa pilihan untuk pindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan (meminjam istilah Robert Kiyosaki) sebetulnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Memang kalau mau obyektif, menjadi pengusaha ataupun memutuskan untuk mulai berwirausaha dapat dilakukan semua orang dengan mudah, tapi yang ingin saya tekankan adalah… menjadi pengusaha yang berhasil itu tidaklah semudah yang dibayangkan.
Dalam dua tahun terakhir sudah tidak terhitung berapa banyak saya menemui orang-orang yang setelah bertahun-tahun menjadi profesional, mendapatkan gaji tetap setiap bulan, bonus di akhir tahun, THR dan berbagai benefit lain yang diberikan oleh perusahaan, tiba-tiba memutuskan berhenti bekerja didasari kebulatan tekad bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk merintis usaha sendiri.
Tidak bisa disalahkan juga, karena diluar sana banyak sekali buku-buku, artikel, maupun berbagai seminar atau pelatihan yang membakar (baca: memprovokasi) semangat berwirausaha setiap orang, khususnya bagi orang-orang yang setiap harinya masih berkutat di kuadran kiri.
Tapi yang mengganggu pemikiran saya adalah melihat betapa tingginya persentase orang-orang yang memutuskan melepas comfort zone untuk kemudian menjadi pengusaha ataupun mulai berwirausaha ternyata menemui kegagalan dan kemudian memutuskan untuk kembali menjadi profesional, kembali menjadi employee, dan kembali berkutat di kuadran kiri — hanya dalam waktu setahun atau dua tahun setelah mengambil pilihan untuk menjadi pengusaha.
Kalau kembali ke pernyataan saya sebelumnya diatas, saya sepakat 100% kalau keputusan untuk menjadi pengusaha atau memulai berwirausaha itu relatif mudah untuk diambil, tapi yang paling sulit sebenarnya adalah berusaha untuk jujur kepada diri sendiri, “Apakah saya memiliki karakter atau kepribadian yang mendukung untuk menjadi pengusaha yang berhasil?”
Saya berpendapat hal inilah yang nampaknya agak kurang ditekankan dalam berbagai seminar atau pelatihan wirausaha yang banyak diselenggarakan di berbagai tempat. Tidak ada semacam sesi self-assessment untuk melihat secara lebih mendalam apakah para peserta memang memiliki karakter atau kepribadian yang mendukung untuk menjadi seorang pengusaha yang berhasil.
Nah, sebagai orang yang sebelumnya sudah pernah mengalami hidup di dua sisi kuadran, bahkan pernah pula mengalami pindah dari sisi kiri ke sisi kanan, kembali ke sisi kiri, dan kemudian kembali lagi ke sisi kanan (sampai dengan sekarang), saya ingin berbagi beberapa kepribadian atau karakter yang mutlak perlu dimiliki oleh setiap orang yang ingin menjadi pengusaha yang berhasil:
1. Integrity. Saya tempatkan ini di nomor satu karena tanpa integritas akan sangat mustahil menjadi pengusaha yang berhasil. Menjadi pengusaha yang kaya bisa diperoleh tanpa integritas, tapi menjadi pengusaha yang berhasil, yang memberikan manfaat dan membawa kebaikan kepada masyarakat sebagai suri tauladan, mustahil bisa diraih tanpa integritas yang tinggi.
2. Self Awareness. Banyak sekali orang yang terjun ke satu bidang usaha hanya karena tren atau melihat prospek keuntungan yang bisa diraih dalam jangka pendek, tanpa memperhitungkan apakah dirinya memang sungguh-sungguh memiliki passion terhadap bidang usaha tersebut. Untuk menjadi pengusaha yang berhasil, pengusaha yang inovatif, siap mengarungi derasnya arus persaingan usaha, setiap orang harus mengetahui secara pasti jawaban dari pertanyaan ini, “Apa yang menjadi passion saya?” — dan kemudian berusaha meletakkan passion tersebut sebagai pondasi yang kokoh dalam membangun dan mengembangkan usahanya.
3. Persistent. Menjadi pengusaha tidak boleh cengeng. Orang yang bertekad bulat menjadi pengusaha harus sudah sejak awal mengantisipasi bahwa kegagalan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan untuk menjadi pengusaha yang berhasil. Ibarat seorang petinju, pukulan keras mungkin bisa saja membuatnya jatuh, tapi pukulan sekeras apapun tidak akan bisa menghalanginya untuk selalu bangkit lagi dan melanjutkan kembali pertarungannya.
4. Visionary. Menjadi pengusaha harus berani bermimpi. Tidak hanya sekedar mimpi, tapi harus berani bermimpi besar dalam kaitan dengan usaha yang ditekuninya. Kemana perusahaan ini akan saya bawa tahun depan? 5 tahun kedepan? 10 tahun kedepan?
5. Confidence. Banyak pengusaha yang gagal dan kemudian terpuruk sebetulnya mengalami krisis kepercayaan diri. Ibaratnya kalau sudah tidak memiliki apapun, jangan sesekali kehilangan rasa percaya diri, karena tidak ada orang lain yang bisa mencuri rasa percaya diri tersebut kecuali dirinya sendiri.
6. Risk Taker. Bukan mau menakut-nakuti, tapi ini nyata. Siapkah anda kehilangan semua kenikmatan bekerja sebagai employee dengan segala fasilitas dan gaji tetap yang sudah pasti tiap bulannya, dan kemudian menggantinya dengan segala ketidakpastian dan penderitaan sebagai seorang pengusaha, terutama di tahun-tahun pertama merintis usaha? Rata-rata entrepreneur wannabes yang saya temui ternyata tidak memiliki jantung yang cukup kuat untuk menghadapi satu hal ini.
7. Avid Learner. Membaca buku, majalah, artikel ataupun berdiskusi dan mendengarkan saran orang lain yang lebih berpengalaman, serta berbagai aktifitas lain yang bertujuan menambah ilmu dan mengembangkan diri akan sangat penting dilakukan secara kontinyu oleh setiap orang yang ingin menjadi pengusaha yang berhasil. Bahkan mau mengakui dan selalu belajar dari kesalahan masa lalu pun menjadi faktor penting yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.
8. Decisive Leader. Kalau selama ini anda terbiasa dipimpin dan tidak terbiasa memimpin serta tidak tahu bagaimana caranya memimpin, bahkan tidak tahu bagaimana memimpin diri anda sendiri, tolong pikirkan baik-baik keinginan beralih menjadi pengusaha. Semua pengusaha yang berhasil adalah decision maker, sekaligus seorang leader, yang dapat diandalkan.
9. Solid Interpersonal Skill. Kalau berkeinginan menjadi pengusaha dan pangsa pasar yang anda bidik masih tinggal di planet Bumi, maka kemampuan berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain akan sangat memudahkan dalam berwirausaha. Meskipun ini merupakan sesuatu yang bisa dipelajari, tapi para pengusaha yang berhasil biasanya memiliki kecenderungan sejak awal memiliki interpersonal skill yang baik.
10. Discipline. Menjadi pengusaha artinya anda menjadi boss bagi diri sendiri. Tidak akan ada atasan yang mengawasi kerja anda dari balik jendela ruangannya, tidak akan ada orang lain yang menetapkan target kerja yang harus anda raih, dan tidak akan ada pula yang melotot setiap kali anda datang terlambat ke kantor. Inilah sebabnya kemampuan untuk disiplin pada diri sendiri menjadi sangat penting. Karena kalau anda ibaratnya harus “dicambuki” dulu oleh orang lain sebelum akhirnya mau mulai bekerja, sebaiknya demi kebaikan anda sendiri ya jangan pernah berpikir untuk jadi pengusaha.
Nah, jadi silakan coba untuk jujur kepada diri sendiri. Bila anda tidak bisa memenuhi minimal 8 dari 10 karakter yang telah saya sebutkan diatas, mungkin memang kedepannya anda akan bisa lebih berkembang kalau tetap bekerja sebagai employee, sehingga dengan mantap saya tekankan kepada anda… JANGAN MAU JADI PENGUSAHA ATAUPUN BERWIRAUSAHA!
akhirnya muncul kembali artikelnya, nambah lagi pengetahuan saya, thx for sharing mas
[Reply]
Mas haryo,
Karakter-karakter tersebut diatas, bukankah diperlukan juga untuk menjadi seorang manager yang berhasil?
Salam,
Bastian
[Reply]
Haryo reply:
August 4th, 2010 at 6:23 pm
Betul, Pak Bastian. Sebetulnya kalau mau bicara in general… bukan sekedar karakter manager atau entrepreneur… tapi lebih condong ke karakter seorang leader.
[Reply]
Perlu dikaji ulang nih judulnya dan judul artikel ini cocok untuk para manager pemula tuh….
Best Regards
Johan Prastyo
[Reply]
Maaf menyimpak dr topik, tp mohon dijawab ya ..
Apa HRD hanya mencari lulusan Univ2 bergengsi/reputable, dan membuang lamaran dr skolah2 yg ga jelas alias ga punya nama.
Thanks,
[Reply]
Haryo reply:
August 18th, 2010 at 3:26 pm
Hanya sebagian kecil dari keseluruhan perusahaan di Indonesia yang punya kebijakan seperti itu. Buktinya saya sering memproses para kandidat senior yang kampusnya kurang ternama, tapi karena prestasi kerjanya memang mengkilap, jadilah mereka menempati posisi-posisi strategis.
Jadi kalau melamar pekerjaan dan belum ada hasilnya, berarti besar kemungkinan bukan kampusnya yang jadi masalah, tapi apakah kualifikasi anda memang sudah sesuai dengan job requirements yang dibutuhkan?
[Reply]
Thanks mas haryo, mungkin begitu (kadang2) selebihnya sy masih apply job yg reasonable. Tapi mungkin (pasti) saya yg kurang pintar n kurang luck. Of course.
[Reply]
mas tom udah lama gak main ke forum blogfam
apa kabar mas? heheheheh
[Reply]
karakter itu perlu, namun yang paling pnting adalah perencanaan yang matang tentang bisnis yang akan iajlankan, mulai dari aspek legalitas, aspek pasar, produksi, sdm, dan yang terlebih lagi aspek keuangan.
untuk apa menjalankan sebuah bisnis, tapi tidak memberikan keuntungan??
disitulah perlu mempelajari teknik pengelolaan keuangan yang handal.
dan yang tak kalah penting adalah dampak dari bisnis yang kita jalankan, misalnya dampak sosial-ekonomi, aspek amdal (lingkungan), dll
untuk itu, perlulah kita mempelajari trik2 sebagai enterpreneur sebelum menjalankan bisnis
[Reply]
Nambahin Mas, aku pernah baca di Femina. Kalau tidak salah 60 persen orang yang berwirausaha setelah pensiun pasti gagal.
Kalau aku tetep jadi employee tapi punya bisnis sampingan. Hiihihi…
[Reply]
wow sangat menginspirasi terimakasih karena sudah berbagi dan saya rasa seharusnya jika ingin memulai suatu bisnis cobalah dari sedini mungkin (semasa sekolah/kuliah dulu misalnya) yah istilahnya warming up lah karena setidaknya anda telah merasakan pahit getirnya merintis usaha dari awal, sehingga jika sudah waktunya untuk menjadi seorng profesional (ada di masa kedewasaan) anda tidak labil/mudah terkompori setelah membaca buku, artikel, atau seminar mengenai dunia wirausaha, karena anda telah dapat melihat dengan jelas siapa jati diri anda berkat pengalaman anda tersebut
[Reply]
Pingback: pengusaha… « Blog|Self Learning|netapp|vmware|quantum|perception
Numpang nyimak gan..kayaknya perdebatannya seru banget.Bagi saya,Jadi pengusaha itu wajib dan harus!!!
[Reply]
poin pentingnya, berwirausaha karena latah gara-gara baca cahsflow quadrant siap-siap saja jantungan…he..he..
terimaksaih sharing artikelnya mas Haryo….
abah
[Reply]
kurang mendidik.
[Reply]
Haryo reply:
July 2nd, 2011 at 2:29 pm
?
[Reply]
Saya pendatang baru di Blog ini…
Lumayan bagus juga tulisannya, bisa menambah wawasan bagi siapa saja yang membutuhkan…terima kasih.
[Reply]
dah lama gak mampir ke blog ini.
sebelum memutuskan full wirausaha mungkin dimulai dengan usaha sambilan. jika usaha sambilan nya sudah tidak bisa dihandle secara sambilan baru FULL.
gitu aja dari saya. mampir ya ke http://android.plugie.com makasih..
[Reply]
hahahaah…sepertinya anda sendiri yang tidak mempunyai jiwa entrepreneur sama sekali!
Tidak berani mencoba dan hanya ingin berada di comfort zone, terasa sangat MEMBOSANKAN!!
*banyak cara untuk mendapatkan nilai 10, tidak hanya menambahkan bilangan 5+5??
[Reply]
Haryo Suryosumarto reply:
December 1st, 2011 at 1:13 pm
Yang anda maksud siapa? Saya?
[Reply]
bagi yang ingin hidup ya flat.. bangun pagi2 kerja tidur dan seterusnya mending jadi karyawan aja…
tapi kalau hdup lw pngen berwarna jadi pengusaha.. lw bkan ngrasain apa itu hdup.. hdup lw tergantung diri lw sendiri. bukan bos
[Reply]
lebih baik jadi kepala teri dari pada buntuk ikan hiu
[Reply]
wirausaha itu mudah,
bismillah anda pasti bisa, asal mau berusaha dan pantang menyerah,
jatuh bangun adalah biasa, layaknya kita belajar berjalan dulu,
dimulai dari tahapan belajar berdiri, jatuh, berdiri, jatuh dan kemudian berjalan, dimulai dari satu langkah kemudian langkah lain, kadang kala kita akan terjatuh lagi, namun itulah yang membuat kita belajar berlari.
paling penting adalah, pastikan pilihan anda, apakah menjadi pekerja atau pengusaha, semua pilihan kok…
salam,
Arif
[Reply]
Ga ada salahnya mencoba untuk menjadi pengusaha, disaat titik kebosanan sudah menjadi bagian dari hidup seorang pegawai…kita coba dari awal
[Reply]
Mas Haryo,
Tulisan yang bagus – bahkan sangat baik – untuk ‘a good listener person’.
Oiya mas, jangan kaget kalo nulis dengan judul ‘agak provokatif’
bisa ditanggapi dengan respon yang ‘unik dan spontan’ khas Indonesia.
Kalo ada waktu, mungkin bisa share bareng di Setiabudi.
Kan kantor mas Haryo di Menara Palma, cukup dekat.
Best Regards,
DR Ginanjar
mypin: baiaig0b
[Reply]
numpang komen, buat plugie sy sgt setuju….kerja “sambilan” itulah solusinya kalo ndak mau jantungnya copot karena menanggung resiko berwirausaha, kalo mau pengin jadi pengusaha tanpa harus meninggalkan pekerjaan sbg karyawan kan bisa? udah banyak kok yg berhasil…… ( tapi harus sabar……. ) he he he salam damai
[Reply]
Sadarkah kita dengan banyaknya kantor-kantor besar, perusahaan besar, dan adanya lapangan kerja itu karena apa?
Itu semua karena adanya para PENGUSAHA yang fokus mengembangkan usahanya sehingga bisa dinikmati siapa saja.
Justru dengan jadi pengusaha maka perekonomian indonesia dapat lebih maju
Ingat, suatu negara bisa dikatakan makmur jika memiliki sedikitnya 2% pengusaha.
Jumlah pengusaha di Indonesia itu di bawah 1%, karena itu perlu nambah pengusaha lg.
Klo pikiran setiap org itu ga mau jd pengusaha, gimana Indonesia mau makmur?
Makanya ga heran banyak org jd pengangguran, krn org2 itu ga mau jd pengusaha.
Sekedar info: sadarkah kita ketika seorang karyawan bekerja keras dengan senang atas kerjaannya ketika perusahaan sedang bagus, sang direktur justru akan menghabiskan waktu dengan keluarganya dengan senang.
Inget, pengusaha manapun pasti tau kalau menjadi pengusaha itu tidak mudah, tp kenapa mereka tetap menjalankannya? Alasannya adalah krn mereka menikmati perjuangannya dan mereka tetap fokus ke mimpinya itu(seperti yg anda tulis). Dan hasilnya adalah seperti yang kita lihat dengan banyaknya perusahaan besar.
Tp saya akui memang 8 karakter itu perlu utk pengusaha sukses, tp yg lebih penting dr semua itu adalah mimpi, kemauan, perjuangan, dan doa.
Pertanyaan: lebih milih mana? Jadi karyawan di sebuah perusahaan besar dg gedung tinggi, dandanan necis, AC, dan gajinya 3 jutaan…ATAU…jadi pengusaha UKM dengan tempat kecil(ruko, depan rumah, dll), pakaian seadanya, tp dengan pemasukan bersih 50 jutaan bahkan 100 jutaan.
Bagaimana? Silakan renungkan bersama-sama, hehehe…
[Reply]