Interview Tips: 3 Kasus Abnormal yang Berbuah Sukses

Sebagai orang yang pernah merasakan di-interview dan meng-interview selama sembilan tahun terakhir, saya beberapa kali menemukan hal-hal menarik yang saya pikir bisa dijadikan pelajaran untuk siapapun yang sedang mempersiapkan diri menghadapi interview.

1. Laptop + Presentasi = Sukses!

Tahun lalu ada satu rekan saya yang dipanggil interview di satu perusahaan manufaktur untuk posisi sales. Merasa bahwa dirinya memiliki latar belakang pengalaman kerja di industri yang sama sekali berbeda dengan bidang industri perusahaan tersebut, rekan saya berusaha mempelajari dengan serius segala sesuatu mengenai bisnis, produk dan sistem distribusinya melalui riset yang cukup mendalam di internet.

Ketika menghadiri interview, rekan saya itu berhasil membuat si interviewer terkesima ketika ia menunjukkan slide presentasi singkat dalam bentuk Powerpoint yang telah disiapkan di laptop-nya dan kemudian menjelaskan mengenai langkah apa yang akan dilakukannya bila bekerja di tempat tersebut untuk menaikkan angka penjualan.

Kira-kira dua bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa rekan saya telah pindah ke perusahaan manufaktur tersebut. Belakangan dirinya mengakui bahwa salah satu kunci suksesnya meskipun datang dari latar belakang industri yang berbeda adalah berusaha secara sungguh-sungguh memahami bisnis perusahaan sejak sebelum menghadiri sesi interview yang pertama, dengan demikian ketika ia berhasil menjelaskan hal-hal teknis melalui presentasi yang telah disiapkannya, pengalaman kandidat lain pun (yang mungkin memiliki kualifikasi lebih baik) menjadi tidak terlalu relevan lagi.

2. Antusiasme + Kesopanan = Sukses!

Beberapa hari lalu ada satu kandidat yang diproses oleh rekan kerja saya akhirnya mendapatkan penawaran untuk bergabung dengan sebuah perusahaan pertambangan. Anehnya, bila dilihat diiatas kertas, kandidat tersebut adalah kandidat yang paling muda dan kualifikasinya justru boleh dibilang paling kurang mengkilap dibandingkan kandidat lainnya.

Apa yang membuatnya kemudian ditawari bergabung? Ternyata si interviewer expat yang kebetulan merupakan user, sangat menyukai antusiasme dan sopan-santun dari anak muda ini. Menurut si interviewer, kandidat ini menunjukkan minat dan niat yang sangat kuat untuk bergabung, meski konsekuensinya adalah meninggalkan Jakarta dan bekerja di daerah pedalaman Kalimantan. Ditambah lagi dengan attitude-nya yang sangat baik, membuat si interviewer yakin bahwa kandidat ini akan sangat cocok bekerja sama dengan dirinya.

3. Pakaian Formal + Email = Sukses!

Ada satu cerita di tahun 2002 ketika seorang Legal Counsel perusahaan teknologi informasi berusaha melamar ke sebuah law firm untuk merintis karir sebagai seorang lawyer. (Lagi-lagi) diatas kertas, dirinya jelas bukan kandididat terkuat untuk dipekerjakan, modalnya pada saat itu hanyalah kemampuan berbahasa Inggris yang sedikit lumayan dan mental bonek.

Tapi si kandidat ini berhasil membuat si interviewer terkesan ketika selalu menghadiri setiap sesi interview dengan pakaian formal alias selalu datang dengan mengenakan setelan jas lengkap + dasi. Ketika ditanya kenapa sampai harus mengenakan jas untuk menghadiri interview posisi yunior dengan status kontrak enam bulan, si kandidat tersebut menjawab bahwa inilah salah satu cara yang bisa dilakukannya untuk menghargai undangan interview dari law firm tersebut.

Selain itu si kandidat ini juga selalu berusaha mengirimkan sebuah email singkat maksimal dua jam setelah di-interview kepada setiap orang yang telah meng-interview dirinya untuk sekedar mengucapkan terima kasih telah bersedia meluangkan waktu dan menyatakan bahwa dirinya selalu siap untuk diklarifikasi kapan saja untuk membantu memudahkan si interviewer dalam membuat keputusan seleksi.

Hasilnya, ia pun terpilih dari sekian puluh kandidat lain meski hanya lulus dari kuliah S1-nya dengan indeks prestasi pas-pasan (bahkan cenderung memprihatinkan) karena telah berhasil meninggalkan kesan mendalam kepada si interviewer sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor law firm tersebut.

Saya tahu persis ceritanya, karena si kandidat itu adalah saya sendiri — tujuh tahun yang lalu.

——————–

Dari ketiga kasus diatas, boleh dibilang ketiga kandidat dalam tiap kasus memiliki satu kesamaan. Mereka semua, kalau boleh diistilahkan, adalah kandidat underdog — datang dengan kesadaran penuh bahwa mereka memiliki disadvantage, baik dari sisi pengalaman kerja, usia, maupun prestasi akademis.

Di sisi lain mereka semua juga memiliki kesamaan dalam hal berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan cara membuat si interviewer terkesan sejak menit pertama sesi interview berlangsung.

Saya pikir semua orang bisa melakukannya dan memiliki kesempatan yang sama untuk mempraktekkannya bila menghadiri panggilan interview, syaratnya hanya satu: anda memang sungguh-sungguh berminat untuk bekerja di perusahaan yang memanggil anda untuk interview.

Percayalah, tanpa minat yang sungguh-sungguh, si interviewer akan langsung dapat merasakannya. Tidak sulit untuk mengetahui ketulusan dan minat seseorang hanya dari melihat body language ataupun kata-kata yang terucap dari mulut anda, bukan?

Nah, jadi sekali lagi saya tekankan, kalau anda suatu hari nanti menghadiri interview dengan latar belakang yang kurang mendukung, buatlah si interviewer terkesan dengan diri anda sejak awal. Ketiga kasus diatas hanyalah contoh hal-hal yang bisa anda lakukan untuk membuat interviewer terkesan.

Kunci utamanya tetap satu: seberapa besar minat anda untuk bekerja di perusahaan tersebut?

Quote of the Day:

“Enthusiasm is the mother of effort, and without it nothing great was ever achieved.” by Ralph Waldo Emerson

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

4 thoughts on “Interview Tips: 3 Kasus Abnormal yang Berbuah Sukses

  1. aya

    Salam kenal…

    Blog Anda sangat informatif, dan artikel-2 anda, termasuk artikel di atas sangat menarik dan membantu saya dalam pencarian kerja…thanx fur share..

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *