Pagi ini saya membaca keluh-kesah dari salah seorang member sebuah milis yang membahas mengenai berbagai isu di dunia manajemen sumber daya manusia sebagai berikut:

Dear all,

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti psikotes utk posisi baru, saya ikut tes dari pagi jam 8.30 sampai 16.30, ini membuat saya pusing & tegang karena harus berfikir keras shg stamina drop. besoknya dipanggil lagi jam 8.30 untuk interview, ternyata saya harus menunggu cukup lama, dan baru sekitar jam 14 saya menjalani interview. Kalau saya perhatikan saya ternyata tidak menunggu giliran / antri utk interview dengan pihak HRDnya, karena saya lihat orang yang menginterview saya yakni HRD dari pagi hanya ngobrol-ngobrol, sekali lagi cuma ngobrol-ngobrol diruangannya, ini kelihatan dari kaca.

Apakah memang spt itu HRD cara mengetes calon karyawan? Apakah ini adalah salah satu metode mengetes calon karyawan?

Dengan dongkol dalam hati saya berkata, “CAPEK DEH” kok tdk efisien banget gtu loh. Mental spt ini dalam suasana krisis kok masih dipakai.

Salam

XXXXXXX

Saya sempat geleng-geleng kepala, turut prihatin dengan situasi yang pernah dialami oleh si penulis email sekaligus takjub karena masih ada “oknum” staf HRD sebuah perusahaan yang tega memperlakukan kandidat seperti itu.

Lebih hebatnya lagi, tidak berselang lama datang sebuah email balasan yang menanggapi isu tersebut:

Mas XXXXXXX,
Anda diinterview menunggu selama beberapa jam padahal pihak HRD yang akan menginterview anda malah banyak ngobrol dan anda merasa dongkol ?
Saya juga sering dengan sengaja membiarkan pelamar menunggu beberapa jam untuk diiterview. Di sinilah tes kesabaran pelamar. Apakah dia cukup sabar menunggu beberapa jam untuk diinterview atau tidak. Kalau pelamar bersedia menunggu beberapa jam lamanya berarti pelamar telah lulus uji kesabaran.
Jadi Mas XXXXXXX, anda diminta menunggu adalah teknik HRD untuk melihat kesabaran anda, bukan karena malas atau tidak perduli.

YYYY

Dalam kondisi mata yang masih sangat berat akibat begadang menyaksikan partai Inter Milan vs Juventus yang berlangsung dini hari tadi, membaca email ini betul-betul membuat mulut saya ternganga lebar…

Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang berkecimpung di dunia HRD yang seyogyanya menjadi ujung tombak dalam menumbuhkan citra positif tentang perusahaan di mata para kandidat melakukan hal seperti itu?

Kalau melihat dari sudut pandang si penulis email balasan, perlakuan seperti itu adalah sebuah bentuk tes kesabaran, kalau si kandidat bisa bersabar menanti waktu interview meski sudah lewat berjam-jam dari waktu yang ditentukan sementara staf HRD melakukan kegiatan lainnya yang tidak relevan, berarti si kandidat dianggap sabar.

Pola pikir konyol macam mana pula itu???

Ini justru menunjukkan bahwa staf HRD yang melakukan hal-hal konyol seperti ini sebetulnya agak kurang cerdas. Tidak pernah ada relevansi positif yang bisa menunjukkan antara prestasi kerja si kandidat nantinya dengan kesediaannya menunggu berjam-jam hanya untuk menjalani  interview yang kadang hanya berlangsung kurang dari satu jam itu.

Tidakkah staf HRD itu berpikir bahwa melakukan hal-hal seperti itu lebih banyak membawa “bencana” bagi perusahaan dalam jangka panjang?

1. Citra perusahaan menjadi jelek. Ketika si kandidat diperlakukan sedemikian tidak profesionalnya di satu perusahaan, dan kemudian ia menceritakan pengalaman tidak menyenangkan tersebut kepada teman-temannya, ini akan menimbulkan efek domino yang tidak terduga menyangkut citra perusahaan. Ingat, sekarang ini cerita jelek tentang sesuatu bisa dengan cepat tersebar melalui email, blog ataupun milis.

2. Kesulitan mencari kandidat berkualitas. Ketika cerita itu tersebar, yakinlah bahwa akan makin sedikit orang yang mau menjalani proses rekrutmen di perusahaan yang telah mendapat citra jelek tersebut. Akibatnya, sulit sekali menemukan kandidat yang berkualitas untuk menempati posisi yang diperlukan.

3. Citra jelek tidak akan hilang dalam sekejap. Saya pernah mendapat cerita nyata tentang sebuah perusahaan cukup besar (tidak usah saya sebutkan namanya tapi saya yakin banyak diantara anda yang menggunakan produknya) yang sudah beberapa bulan sangat kesulitan menemukan kandidat berkualitas meski paket remunerasi yang ditawarkan sangatlah menarik. Ketika diusut lebih lanjut, ternyata para kandidat berkualitas sama sekali tidak tertarik untuk bekerja disana karena pernah mendengar cerita tentang CEO perusahaan tersebut yang gemar menampar staf yang dianggap tidak memiliki performa kerja sesuai dengan keinginan sang CEO.

Kenyataan ini menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan bagi para petinggi perusahaan tersebut, karena sebetulnya CEO yang dimaksud telah dipecat lebih dari setahun yang lalu.

Ini menjadi sebuah pelajaran berharga bahwa citra perusahaan yang telah jelek di mata para kandidat tidak bisa dengan serta-merta diperbaiki dalam waktu singkat, meskipun pihak perusahaan telah berupaya dengan segenap upaya untuk melakukan pemulihan citra.

Sebagai seorang headhunter yang notabene adalah pihak external recruiter yang berhubungan secara intens dengan para manajer dan staf HRD dari banyak perusahaan ternama yang menjadi klien, saya sangat memahami apa saja yang diharapkan oleh pihak perusahaan dari para kandidat:

Integrity, trust, professionalism

Sebaliknya, karena saya juga selalu berhubungan dengan para kandidat berkualitas untuk mengisi posisi lowong di perusahaan klien, saya pun jadi memahami karakter perusahaan seperti apa yang menjadi dasar pertimbangan mereka untuk mau bergabung:

  • a company with a high level of integrity
  • a company that has a trusted brand name
  • a company that would treat them with a true professionalism

Jadi kalau dilihat secara sederhana, seharusnya pihak HRD dan kandidat bisa menjadi dua pihak yang saling membutuhkan karena memiliki kesamaan prinsip. HRD dituntut untuk bisa menemukan kandidat terbaik sesuai dengan keinginan user, sementara kandidat berkeinginan untuk menjadi bagian dari perusahaan.

Ketika salah satu pihak tidak bisa –atau malah lebih buruknya– tidak mau memperlakukan pihak lain dengan landasan ketiga nilai yang saya sebutkan diatas, akan sangat sulit untuk menemukan chemistry yang ideal diantara mereka.

Meskipun dalam kondisi krisis global seperti sekarang ini, hampir tidak ada satupun perusahaan yang mau mempekerjakan kandidat arogan — sebagus apapun kualifikasinya. Nah, kalau posisinya dibalik apakah ada kandidat yang mau bekerja untuk perusahaan arogan yang memperlakukan dirinya dengan semena-mena pada proses rekrutmen — sebagus apapun perusahaannya?

Dalam proses rekrutmen yang sukses, kuncinya adalah saling menghormati / saling respek diantara pihak HRD dan kandidat. Keduanya dituntut untuk bisa bersikap dan bertindak profesional. Ketika mengadakan sesi interview, pihak HRD harus berterima kasih karena si kandidat berkenan meluangkan waktunya untuk hadir tepat waktu memenuhi panggilan interview, sementara kandidat pun sudah seharusnya berterima kasih karena telah diundang oleh pihak HRD untuk menghadiri interview di perusahaan tersebut.

Harapan saya pribadi, semoga di masa yang akan datang tidak ada lagi perlakuan buruk yang diterima oleh kandidat seperti yang diceritakan pada email diatas tadi, dan saya juga berharap semoga tidak ada lagi staf HRD yang masih punya pikiran untuk menerapkan perlakuan konyol seperti itu, hanya sekedar untuk melihat dan menguji tingkat kesabaran dari seorang kandidat.

Nah, kalau menurut anda sendiri bagaimana?

Quote of the Day:

“Setting an example is not the main means of influencing others; it is the only means.” by Albert Einstein