Dilema Karir: Generalis vs Spesialis

Salah satu pembaca blog saya, Mas Elnofian, beberapa waktu yang lalu pernah menanyakan, kira-kira dalam kondisi seperti sekarang ini manakah yang lebih menguntungkan, apakah menjadi seorang profesional dengan kompetensi yang bersifat generalis (yang cenderung lebih berorientasi pada “specific job area”) ataukah menjadi profesional dengan kompetensi yang bersifat spesialis (yang cenderung lebih berorientasi pada “specific job task”)

Sebetulnya saya juga sering mendapat pertanyaan yang sama dari banyak kawan-kawan lainnya, dan saya berpikir bahwa topik ini bisa dijadikan sebagai bahasan menarik yang mungkin bisa diambil manfaatnya.

Kalau kita runut kebelakang, sebetulnya paradigma spesialis vs generalis ini bermula dari kebutuhan perusahaan yang ingin melakukan efisiensi. Dengan pola pikir pemilik perusahaan yang ingin menekan overhead cost sementara disisi lain berupaya mengoptimalkan keuntungan, banyak perusahaan yang menginginkan karyawannya sanggup melakukan “multi-tasking” atau bisa melakukan banyak hal diluar job description resmi yang merupakan tanggung jawabnya.

Secara sederhananya, para pemilik perusahaan berpikir kenapa harus mempekerjakan 20 orang kalau dengan 10 orang pun semua pekerjaan bisa ditangani dengan baik?

Pemikiran ini cukup relevan ketika perusahaan masih dalam fase startup ataupun masih berupa perusahaan skala kecil yang notabene belum terlalu banyak memiliki berbagai implikasi rumit dalam pengelolaannya.

Seiring dengan berjalannya waktu ketika skala bisnis perusahaan semakin besar, secara tidak langsung pengelolaannya pun tidak bisa ditangani secara asal-asalan. Banyak hal yang dipertaruhkan disini kalau pengelolaan perusahaan masih dilakukan dengan cara lama, karena dengan skala bisnis yang makin besar, perusahaan tidak hanya dituntut mampu bertahan dan semakin berkembang, tapi juga dituntut untuk mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat luas demi meningkatkan brand image perusahaan.

Nah, di fase inilah tenaga-tenaga spesialis sangat dibutuhkan oleh perusahaan, karena sudah bukan masanya lagi mengharapkan pegawai bisa melakukan “multitasking”, tapi kinilah masanya mempekerjakan para profesional yang memang menguasai satu bidang yang betul-betul menjadi minatnya.

Berkaca pada pengalaman saya sebagai headhunter yang banyak melakukan rekrutmen berbagai posisi pada beberapa perusahaan lokal maupun multinasional, tren yang kini sedang terjadi dan banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah merekrut kandidat yang merupakan spesialis di satu bidang saja.

Sebagai contoh bila beberapa tahun yang lalu saya diminta untuk melakukan rekrutmen kandidat untuk posisi staf senior bidang SDM di perusahaan klien, itu hal yang sangat mudah dilakukan karena saya hanya perlu melihat dua hal, yaitu relevansi pengalaman di industri yang sama dan berapa tahun pengalaman yang dimilikinya di bidang SDM.

Sekarang tidak lagi. Bila saya dan klien berbicara mengenai rekrutmen staf senior bidang SDM, kini klien saya pasti akan memberikan penekanan bahwa mereka mencari seorang spesialis pada satu bidang tertentu, apakah itu compensation & benefits, industrial relations, recruitment, ataupun learning & development, misalnya.

Begitu juga bila kita bicara rekrutmen bidang lainnya. Sebagai contoh untuk profesional yang punya latar belakang pendidikan ilmu hukum, sangat penting untuk memiliki spesialisasi pada satu bidang tertentu, entah itu bidang litigasi perdata, hak atas kekayaan intelektual, hukum bisnis, ataupun hukum perburuhan.

Dari sisi kandidat, memiliki spesialisasi pada satu bidang tertentu akan memberikan keuntungan yang lebih banyak dibandingkan menjadi seorang generalis:

1. Seorang spesialis akan lebih menarik di mata pihak yang melakukan rekrutmen. Ini sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Ketika saya sibuk menyortir puluhan bahkan ratusan aplikasi yang masuk setiap harinya, saya akan lebih senang men-shortlist kandidat yang memiliki karir konsisten di satu bidang yang relevan dengan posisi yang saat ini sedang saya tangani dibandingkan men-shortlist kandidat yang tidak jelas fokus karirnya.

2. Seorang spesialis akan lebih mudah menciptakan personal branding. Secara sederhana personal branding merupakan satu faktor yang bisa membedakan antara satu kandidat dengan kandidat lainnya. Ingat, dengan semakin ketatnya persaingan karena makin banyak profesional berkualitas yang ada di pasaran saat ini, personal branding merupakan salah satu cara terbaik untuk membuat kualitas dan kompetensi seorang profesional terlihat lebih menonjol.

3. Seorang spesialis akan lebih mudah mencapai prestasi kerja optimal bila dia mengerjakan sesuatu yang memang merupakan minatnya. Bisakah anda bayangkan orang yang tahan berjam-jam memelototi layar monitor komputer untuk membaca cover letter dan CV atau resume? Untuk sebagian orang, salah satu aspek pekerjaan saya sebagai headhunter bisa jadi sangat membosankan dan monoton. Apa nikmatnya membaca ratusan CV yang masuk setiap hari? Tapi karena itu merupakan salah satu minat saya (membaca dan menganalisa CV), saya tidak pernah merasa bosan melakukan hal tersebut dan menganggapnya sebagai rutinitas yang menyenangkan.

4. Boleh percaya boleh tidak, tapi menjadi seorang spesialis sebetulnya berpotensi untuk memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam melakukan negosiasi gaji. Apalagi kalau spesialisasinya merupakan spesialisasi di bidang yang sangat spesifik dan cukup sulit dicari di pasaran, bukan merupakan hal yang aneh untuk mendapatkan tawaran kenaikan gaji dari perusahaan lain sampai lebih dari 50% dibandingkan gaji yang diterima saat ini.

Tapi di sisi lain, bukan berarti juga menjadi seorang generalis selalu memiliki nilai minus dibandingkan menjadi seorang spesialis. Yang ingin saya tekankan, meskipun anda saat ini adalah seorang generalis, tidak ada salahnya juga untuk mulai menelusuri kembali minat dan bakat anda untuk menentukan bidang spesialisasi anda kedepannya.

Kalaupun anda tidak memetik hasil sebagai seorang spesialis ketika anda berkarir sebagai profesional (karyawan), paling tidak anda bisa memikirkan untuk suatu hari nanti berwirausaha dengan menjual jasa yang menjadi bidang spesialisasi anda.

Saya pribadi termasuk penganut aliran yang yakin bahwa anda hanya bisa sukses berwirausaha bila anda menekuni bidang yang betul-betul anda minati. Ketika anda mulai menjadi spesialis di bidang yang anda minati, setidak-tidaknya anda sudah punya modal awal untuk menentukan bidang usaha apa yang akan anda tekuni di kemudian hari.

Semoga sukses dengan spesialisasi yang anda pilih!

Quote of the Day:

“Stay commited to your decisions, but stay flexible in your approach.” by Tom Robbins

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

2 thoughts on “Dilema Karir: Generalis vs Spesialis

  1. Elno

    Wah penjelasannya cukup lengkap mas. Saya nggak tahu kalo akhirnya Mas Haryo jadi mengangkat topik ini. Terima kasih bahasannya mas… Kapan-kapan kita diskusi lagi

    [Reply]

    Reply
  2. Pingback: Apa yang Harus Dilakukan di Masa Krisis Ekonomi? | suryosumarto.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *