Cara Efektif Membangun Reputasi Diri

Ketika ayah saya meninggal dunia, ratusan kawan-kawan lama beliau datang melayat ke rumah dan mengucapkan turut berbela sungkawa kepada keluarga.

Pada kesempatan itu saya sempat berbicara dengan cukup banyak kawan-kawan ayah dan mereka menyampaikan rasa duka yang mendalam karena kehilangan seorang kawan yang telah dikenal dengan baik sejak sama-sama masih menempuh pendidikan di Akademi Militer Nasional, Magelang, kurang lebih 50 tahun yang lalu.

Continue reading

Cara Mudah Menemukan Profesi dan Karir Idaman

Pada bagian akhir dari tulisan yang lalu sempat disinggung mengenai bagaimana cara sampai akhirnya saya bisa menemukan profesi yang sesuai dengan minat dan bakat saya. Dalam tulisan kali ini, saya akan coba membahas secara sepintas assesment tools yang pernah saya pergunakan dan memiliki peranan penting dalam menemukan profesi yang paling mendekati minat dan bakat saya.

Sebagai gambaran, sebelum akhirnya menjadi headhunter, saya ini dulu termasuk orang yang tidak jelas cita-citanya (dalam arti yang sesungguhnya). Setelah lulus kuliah saya pernah bekerja sebagai corporate lawyer selama kurang lebih 2,5 tahun, kemudian pernah bekerja sebagai business owner sekitar 5 tahun, lalu setelah itu pernah pula bekerja untuk mengurus B2B sales kurang lebih selama 6 bulan.

Continue reading

Mohon Maaf…

Mohon maaf untuk semua yang membaca blog ini, karena setelah hampir dua minggu ternyata saya belum sempat melanjutkan tutorial ke bagian 2.

Long weekend 17-an kemarin saya pergi ke Semarang bersama anak istri saya, mengunjungi ibu mertua dan nyekar ke makam almarhum ayah mertua di Demak, jadi saya sama sekali tidak menyentuh laptop yang memang sengaja saya tinggal di Jakarta.

Repotnya lagi, saya saat ini juga (alhamdulillah) sedang disibukkan dengan enam klien yang secara total memberikan saya 24 executive search assignments, jadi sehari-hari di kantor saya sedang sibuk “berakrobat” karena berusaha untuk membagi waktu secara optimal untuk semua klien dan semua job requirements yang sedang saya tangani.

Yang jadi korban tentu saja blog ini, karena sesuai dengan urutan profesi saya (father, headhunter, blogger), tentunya blog adalah prioritas terakhir setelah keluarga dan urusan kantor.

Mohon maklum, dan semoga tutorial bagian 2 bisa segera di-published ASAP.

Kemudahan-kemudahan dalam Hidup Seorang Headhunter

Saya tidak tahu ini ada hubungannya atau tidak, tapi sejak saya mulai menulis blog ini rasanya saya makin sibuk di kantor. Kalau awalnya saya sempat kesulitan mendapatkan klien, sekarang justru klien yang mendatangi saya.

Saya masih meyakini kalau ini terjadi bukan akibat secara langsung dari blog, tapi lebih ke arah kemudahan yang diberikan Allah SWT. Bayangkan saja, saya dulu pernah menawarkan jasa executive search ke satu perusahaan dan ditolak mentah-mentah karena biaya yang dipatok dirasa terlalu mahal dibandingkan jasa sejenis lainnya.

Karena saya termasuk orang yang sangat easy going, saya waktu itu tidak terlalu ambil pusing. Nah, tanpa diduga dan tanpa disangka, tiba-tiba dua minggu yang lalu HR Manager perusahaan tersebut menghubungi saya dan minta bantuan melakukan executive search untuk C-level position.

Continue reading

CV with a Sense of Humor

CV with a Sense of HumorSalah satu sisi menarik dari pekerjaan sebagai seorang headhunter adalah membaca secara cermat berbagai variasi bentuk CV atau resume.

Mulai dari yang dibuat dengan sangat singkat (karena panjangnya hanya satu halaman) sampai yang bentuknya lebih menyerupai paper kuliah (karena panjangnya 19 halaman) pernah saya jumpai.

Tapi rasanya baru kali inilah saya menemukan CV dengan nama file unik seperti yang tertera pada screenshot diatas.

Lucu dan kreatif, sekaligus penuh dengan harapan… cukup untuk membuat saya tersenyum simpul dalam upaya melawan rasa kantuk di siang hari yang terik ini.

Belajar Memahami Pola Pikir Orang HRD

Setiap kali membaca puluhan CV atau resume yang setiap harinya masuk ke inbox saya, ada satu hal yang rasanya masih mengganggu pikiran. Boleh dibilang dari rata-rata 20 CV atau resume yang saya terima, sekitar 15 diantaranya akan saya hapus. Maksimal 3 CV atau resume akan saya masukkan ke database, dan sisanya akan saya proses untuk kemudian selanjutnya dilakukan pre-screened melalui phone interview.

Itu artinya hanya 10% yang memiliki kesempatan untuk diproses pada saat ini, 15% yang memiliki kesempatan untuk diproses di waktu-waktu yang akan datang, dan 75% sisanya tidak akan pernah diproses lagi.

Kalau mau jujur, sebagai headhunter ingin rasanya saya bisa membuat angka persentase kandidat yang lolos pada seleksi awal ini bisa naik, minimal 20% bisa diproses saat ini dan 25% bisa dimasukkan ke database.

Continue reading

Perhatikan Cara Bicara Anda di Telepon

Boleh dipercaya atau tidak, sebagai seorang headhunter saya bisa menilai sebagian kepribadian seseorang hanya dari mendengarkan cara dan gaya bicaranya melalui telepon. Saya bisa dengan cepat menilai apakah orang ini termasuk tipe orang yang percaya diri, memiliki interpersonal skill yang baik, diplomatis atau malah sebaliknya termasuk tipe orang yang arogan.

Kenapa bisa begitu?

Sebetulnya ada alasan sederhana dibalik itu semua, saya menyimpulkan berdasarkan pengamatan bertahun-tahun bahwa cara dan gaya bicara seseorang di telepon itu sedikit banyak mencerminkan cara dan gaya bicaranya sehari-hari bila berhubungan dengan orang lain, yang berarti juga mencerminkan kepribadiannya di mata orang lain.

Continue reading