Mohon Tanggapan: 3 Kriteria Perusahaan Idaman

Dulu saya sering “iseng” menanyakan kepada kandidat yang saya wawancarai, “Kira-kira dalam pandangan anda, 3 kriteria perusahaan idaman yang membuat anda betah bekerja didalamnya itu apa saja?”

Tidak ada maksud apapun menanyakan hal tersebut selain untuk mengetahui preferensi dari si kandidat menyangkut profil perusahaan idaman menurut versinya. Tapi sebetulnya di sisi lain, pertanyaan sederhana tersebut juga bisa memberikan petunjuk secara umum kepada saya untuk memperkirakan apakah profil perusahaan klien saya kira-kira  cocok dengan preferensi dari si kandidat yang bersangkutan.

Biasanya bila profil perusahaan klien semakin mendekati preferensi si kandidat, ini sudah merupakan indikasi awal yang positif adanya kecocokan yang bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Tahapan ini boleh dibilang sangat mirip seperti orang yang sedang dalam proses mencari jodoh pada kehidupan pribadi.

Nah, dilandasi rasa “iseng” pula sehabis menyelesaikan membaca buku mengenai talent management, saya kok jadi ingin mengetahui kira-kira di mata rekan-rekan pembaca blog ini, 3 kriteria perusahaan idaman anda itu yang seperti apa sih?

Tanggapan-tanggapan menyangkut topik ini bisa menjadi masukan yang sangat berharga untuk inspirasi tulisan saya berikutnya, jadi saya tunggu tanggapannya. Terima kasih.

Cara Mudah Menemukan Profesi dan Karir Idaman

Pada bagian akhir dari tulisan yang lalu sempat disinggung mengenai bagaimana cara sampai akhirnya saya bisa menemukan profesi yang sesuai dengan minat dan bakat saya. Dalam tulisan kali ini, saya akan coba membahas secara sepintas assesment tools yang pernah saya pergunakan dan memiliki peranan penting dalam menemukan profesi yang paling mendekati minat dan bakat saya.

Sebagai gambaran, sebelum akhirnya menjadi headhunter, saya ini dulu termasuk orang yang tidak jelas cita-citanya (dalam arti yang sesungguhnya). Setelah lulus kuliah saya pernah bekerja sebagai corporate lawyer selama kurang lebih 2,5 tahun, kemudian pernah bekerja sebagai business owner sekitar 5 tahun, lalu setelah itu pernah pula bekerja untuk mengurus B2B sales kurang lebih selama 6 bulan.

Continue reading

Dilema Karir: Generalis vs Spesialis

Salah satu pembaca blog saya, Mas Elnofian, beberapa waktu yang lalu pernah menanyakan, kira-kira dalam kondisi seperti sekarang ini manakah yang lebih menguntungkan, apakah menjadi seorang profesional dengan kompetensi yang bersifat generalis (yang cenderung lebih berorientasi pada “specific job area”) ataukah menjadi profesional dengan kompetensi yang bersifat spesialis (yang cenderung lebih berorientasi pada “specific job task”)

Sebetulnya saya juga sering mendapat pertanyaan yang sama dari banyak kawan-kawan lainnya, dan saya berpikir bahwa topik ini bisa dijadikan sebagai bahasan menarik yang mungkin bisa diambil manfaatnya.

Continue reading

5 Indikasi Anda Harus Alih Profesi

Selama lebih dari delapan tahun karir saya di dunia profesional, saya pernah dua kali merasakan bekerja pada profesi yang betul-betul kurang bisa saya nikmati karena tidak sesuai dengan minat dan bakat yang saya miliki.

Selain tidak mendapatkan kepuasan batin, bekerja pada profesi yang kurang diminati pada saat itu juga membawa dampak buruk pada aspek kehidupan saya yang lainnya, misalnya: kesehatan (baik kesehatan lahir maupun batin) dan juga mempengaruhi hubungan dengan orang lain (baik teman maupun keluarga).

Continue reading

Pelajaran dari Kasus Merrill Lynch dan Lehman Brothers

Bangkrutnya Lehman Brothers dan akuisisi Merrill Lynch oleh Bank of America mengingatkan kita bahwa dengan kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dianggap sebagai “secured jobs”

Saya masih ingat ketika sekitar awal tahun 2000 membaca sebuah artikel di majalah terbitan luar negeri (saya lupa entah itu BusinessWeek, Newsweek, Forbes atau Fortune) yang menceritakan betapa kerasnya usaha ribuan orang lulusan program MBA dari berbagai business school ternama di seluruh penjuru Amerika Serikat berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan di Wall Street, khususnya pekerjaan di investment bank terkemuka, seperti Merrill Lynch, Lehman Brothers, Goldman Sachs atau Morgan Stanley.

Continue reading

Silakan Berkonsultasi… Gratis!

Alasan utama saya membuat blog ini jelas bukan untuk show-off, menunjukkan pada semua orang kalau saya headhunter handal. Saya sekarang ini merasa belum apa-apa, masih jauh dari kategori expert, apalagi kalau dibandingkan dengan orang yang membuat saya pertama kali mengenal istilah “headhunter” pada sekitar pertengahan tahun 90-an, Pak Pri Notowidigdo.

Saya membuat blog ini karena saya ingin berbagi cerita dan pengalaman yang mungkin berguna dan bermanfaat untuk orang lain dari kacamata seorang headhunter, karena saya sadar belum tentu semua orang bisa mendapat kesempatan untuk menerima panggilan telepon dari headhunter dan kemudian berdiskusi panjang lebar mengenai karirnya.

Tapi di sisi lain, belum tentu juga semua artikel atau posting yang saya tulis disini bisa 100% diterapkan pada situasi dan kondisi yang anda hadapi. Oleh karena itulah saya membuka kesempatan untuk berdiskusi dengan anda yang mungkin membutuhkan saran atau masukan mengenai soal karir.

Continue reading

Perlukah Fresh Graduates Mengirimkan CV ke Headhunter?

Beberapa kali saya menerima kiriman CV dari lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja, alias fresh graduates, dan kebetulan pula beberapa minggu yang lalu saya pernah mendapat pertanyaan melalui email yang intinya serupa dengan judul diatas.

Karena waktu itu belum sempat memberikan jawaban, maka kali ini waktunya bagi saya memberikan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Jawabannya adalah tidak perlu!

Bukannya bermaksud sombong atau pilih kasih, tapi ada dua alasan kuat kenapa fresh graduates tidak perlu mengirimkan CV kepada headhunter:

Continue reading