Category Archives: Articles

Mari Berbagi: Kiat Menjadi Lebih Bahagia

Satu hal yang sudah saya antisipasi dari awal ketika memutuskan untuk menjadi konsultan independen adalah tuntutan untuk bisa menjadi seorang multi tasker yang efisien. Membalas email klien, menelepon prospective client, merevisi kontrak (untung saya dulu kuliah di Fakultas Hukum!), menyiapkan proposal, berbicara dengan kandidat, membangun database kandidat, membaca berita-berita aktual seputar Pemilihan Presiden, mengikuti perkembangan berbagai isu baru di dunia HR, mengikuti berita playoff NBA, bermain Twitter, mengakses Facebook, menonton acara BBC Knowledge, bermain dengan kedua putri saya, menjemput istri pulang kantor, dan berusaha menaikkan berat badan adalah sebagian aktifitas rutin harian saya sekarang.

*kalau dibaca lagi, kok kegiatan yang tidak berkaitan justru lebih banyak ya?*

Continue reading

Menyikapi Si Kutu Loncat dengan Lebih Bijaksana

Saya sering menjumpai klien yang tidak mau berurusan dengan para kutu loncat. Kutu loncat atau sering juga disebut job hopper — yang dalam hal ini adalah profesional yang punya track record berpindah-pindah perusahaan dalam waktu relatif singkat — di mata para klien tersebut tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan bisa bertahan lama bekerja di satu tempat, termasuk bekerja di perusahaan mereka tentunya.

Tidak bisa dipungkiri kalau di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya masih banyak perusahaan yang menganggap bahwa loyalitas kepada si employer yang tercermin dari berapa lama seseorang bekerja di satu perusahaan tertentu sebagaimana yang tercantum dari CV-nya adalah salah satu faktor penting dalam menentukan apakah orang ini akan diproses lebih lanjut atau tidak pada sebuah proses rekrutmen.

Continue reading

Selamat, Anda Gagal Dalam Psikotes!

Beberapa tahun yang lalu sebelum menjadi konsultan di bidang rekrutmen, saya tidak terlalu peduli kalau ada rekan yang berkeluh-kesah ketika sedang menjalani proses rekrutmen di sebuah perusahaan.

Namun kini setelah saya berkecimpung di bidang rekrutmen dan mencoba mengingat-ingat kembali, ternyata kebanyakan rekan-rekan yang berkeluh kesah kala itu memiliki sebuah kesamaan, mereka rata-rata berharap dalam proses rekrutmen tersebut tidak ada tahapan psikotes yang mesti dilalui.

Continue reading