With Great Flexibility Comes Great Responsibility

Pada masa awal ketika saya mulai merintis PT Headhunter Indonesia, hampir semua orang mengatakan saya gila karena saya membebaskan dua karyawan yang saat itu saya rekrut untuk bebas bekerja dari mana saja dan kapan saja, selama laptop yang mereka pergunakan terhubung dengan koneksi internet.

Kini setelah hampir tiga tahun berlalu dan jumlah total karyawan sudah mencapai belasan orang, metode yang sama masih saya pertahankan sampai sekarang. Hasilnya? Masih banyak orang yang mengatakan saya gila, entah karena mereka yang tidak memahami pola pikir saya atau karena memang saya yang pada dasarnya gila betulan.

Continue reading

Fenomena Social Media dan Tren Rekrutmen

Berkembangnya social media sudah tidak bisa dibendung lagi. Praktisi HR pun diharapkan lebih peduli dengan perkembangan teknologi. Mengapa?

Pertumbuhan data pengguna social media seperti Facebook (FB), Twitter, dan Myspace di Tanah Air sangat fenomenal. Khusus FB saja, per 5 April 2010 tercatat sekitar 21,5 juta akun yang berasal dari Indonesia, sedangkan Twitter sudah menembus angka 5 juta akun lebih. Ke depan jumlah ini akan bertambah terus.

Continue reading

Menyikapi Kelangkaan Talenta Profesional di Indonesia

Beberapa hari sebelum memasuki Ramadan kemarin, saya berkesempatan berbincang santai dengan salah satu petinggi perusahaan multinasional yang bergerak di sektor manufaktur.

Eksekutif tersebut, yang kebetulan berkebangsaan Amerika, menyoroti betapa kelangkaan talenta profesional kini terjadi di banyak negara Asia, khususnya negara-negara yang sering menjadi tujuan penanaman modal asing seperti China, Vietnam, dan Indonesia. Dari pembicaraan sekitar satu jam tersebut, saya makin menyadari bahwa para penanam modal asing, yang kehadirannya di Indonesia bisa dianggap sebagai salah satu pendorong penggerak perekonomian nasional, ternyata tidak semata mementingkan kemudahan berinvestasi yang ditawarkan pemerintah atau adanya infrastruktur yang memadai sebagai faktor penentu utama dalam menanamkan modalnya di satu negara.

Continue reading

Jangan Mau Jadi Pengusaha ataupun Berwirausaha!

Judul yang tendensius setelah sekian lama tidak aktif menulis? Bisa jadi, tapi yang jelas saya sedang berusaha untuk meyakinkan banyak orang diluar sana bahwa pilihan untuk pindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan (meminjam istilah Robert Kiyosaki) sebetulnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Memang kalau mau obyektif, menjadi pengusaha ataupun memutuskan untuk mulai berwirausaha dapat dilakukan semua orang dengan mudah, tapi yang ingin saya tekankan adalah… menjadi pengusaha yang berhasil itu tidaklah semudah yang dibayangkan.

Continue reading

Ketika Keinginan Menjadi Employee Muncul Kembali

Bayangkan situasi seperti ini: anda merasa jenuh setelah bekerja bertahun-tahun sebagai employee. Berangkat pagi pulang malam penghasilan pun pas-pasan (setidaknya menurut pendapat anda secara subyektif). Setiap hari harus sabar menghadapi bos maupun rekan kerja yang kadang tidak jelas apa maunya. Ditambah dengan permainan office politics yang menyebabkan semua orang sepertinya mesti saling sikut untuk memenuhi agendanya masing-masing. Anda ingin pindah kerja ke perusahaan lain, tapi kuatir pada akhirnya akan menemukan hal yang sama.

Setelah menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan keluarga, akhirnya anda mantap untuk memutuskan bahwa anda akan mengundurkan diri dari perusahaan tempat kerja anda sekarang dan melepaskan predikat employee. Anda telah memutuskan bahwa anda tidak akan mau lagi menjadi employee di masa yang akan datang dan kini berniat untuk menjadi pengusaha dan menjalani jalur self-employment.

Continue reading

Mendirikan Usaha di Indonesia itu Mudah?

Sebagai orang yang pernah memiliki perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas sebelumnya, saya adalah orang yang sangat tidak sependapat dengan judul yang saya buat sendiri diatas. Mendirikan usaha (khususnya Perseroan Terbatas) di Indonesia itu secara obyektif dapat digambarkan sebagai sebuah proses menempuh berbagai birokrasi yang sangat tidak efisien, mengesalkan, memakan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit.

Lebih membuat hati makin panas ketika menemui fakta bahwa para calon pengusaha di mata sebagian oknum pegawai pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengurus pendirian usaha, ternyata dipandang tidak lebih sebagai sasaran empuk untuk mengisi kocek pribadi melalui berbagai pungutan tak resmi dengan dalih uang lelah, uang administrasi, uang rokok dan sejuta istilah ‘halus’ lainnya yang mereka ciptakan sendiri (untuk satu hal ini mereka bisa jadi sangat kreatif dan imajinatif).

Continue reading

Mari Berbagi: Kiat Menjadi Lebih Bahagia

Satu hal yang sudah saya antisipasi dari awal ketika memutuskan untuk menjadi konsultan independen adalah tuntutan untuk bisa menjadi seorang multi tasker yang efisien. Membalas email klien, menelepon prospective client, merevisi kontrak (untung saya dulu kuliah di Fakultas Hukum!), menyiapkan proposal, berbicara dengan kandidat, membangun database kandidat, membaca berita-berita aktual seputar Pemilihan Presiden, mengikuti perkembangan berbagai isu baru di dunia HR, mengikuti berita playoff NBA, bermain Twitter, mengakses Facebook, menonton acara BBC Knowledge, bermain dengan kedua putri saya, menjemput istri pulang kantor, dan berusaha menaikkan berat badan adalah sebagian aktifitas rutin harian saya sekarang.

*kalau dibaca lagi, kok kegiatan yang tidak berkaitan justru lebih banyak ya?*

Continue reading