Ketika ayah saya meninggal dunia, ratusan kawan-kawan lama beliau datang melayat ke rumah dan mengucapkan turut berbela sungkawa kepada keluarga.
Pada kesempatan itu saya sempat berbicara dengan cukup banyak kawan-kawan ayah dan mereka menyampaikan rasa duka yang mendalam karena kehilangan seorang kawan yang telah dikenal dengan baik sejak sama-sama masih menempuh pendidikan di Akademi Militer Nasional, Magelang, kurang lebih 50 tahun yang lalu.
Satu hal yang cukup menghibur saya saat itu adalah kesan-kesan mereka tentang ayah saya relatif seragam, mereka selama puluhan tahun mengenal ayah saya sebagai figur prajurit profesional yang sangat menonjol dari sisi intelektualitas serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kejujuran.
Entah mengapa ketika mendengar hal tersebut, saya mendadak jadi teringat salah satu habit yang termuat dalam buku fenomenal karya Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly Effective People, yaitu Begin with the End in Mind.
Dalam beberapa paragraf awal pada bab tersebut, Stephen mengajak kita untuk membayangkan bila suatu hari nanti kita meninggal dunia, kesan seperti apakah yang akan kita tinggalkan kepada orang-orang di sekitar kita?
Sepertinya tidak berkaitan, tapi harus diakui bahwa visualisasi (yang sedikit membuat merinding) ala Stephen R. Covey ini bila kita cermati lebih mendalam sebetulnya merupakan sebuah cara efektif untuk membangun reputasi diri di dunia ketika kita menjalani hidup.
Nah, sekarang tinggal tergantung kepada diri kita masing-masing, reputasi diri seperti apakah yang akan kita bangun?
Reputasi yang baik, kontribusi dan juga pencapaian positif selama hidup tidak hanya membuat diri kita akan selalu dikenang, tapi juga akan membuat amal ibadah kita di dunia semakin banyak.
Ingat, kita tidak pernah tahu berapa lama lagi kita akan hidup di dunia, jadi mungkin ada baiknya anda (dan juga saya) mulai memikirkan lebih serius lagi mengenai pentingnya membangun reputasi diri ini demi kehidupan kekal yang lebih baik di akhirat nanti.
Tulisan ini saya dedikasikan bagi almarhum ayahanda saya tercinta. Figur seorang suami yang sangat mencintai istrinya, ayah yang sangat mendukung putra-putrinya, dan juga eyang yang sangat menyayangi cucu-cucunya.
“I tried to be strong, but deep down inside I really miss you…”
Leave a reply