25 Hal Berkaitan dengan Karir yang Saya Temui dalam 30 Hari Terakhir

Resmi satu bulan lamanya saya tidak mengapdet blog ini. Bukan karena kehabisan bahan, tapi karena saya saat ini memang merasa cukup sulit untuk sekedar curi-curi waktu menulis di sela-sela kesibukan kantor dan kesibukan mengurus kedua putri saya yang masih kecil-kecil.

Biasanya saya menulis artikel sewaktu weekend dan membuatnya muncul secara otomatis di blog pada hari Rabu. Tapi belakangan ini saya sedang malas berpikir yang ruwet-ruwet apalagi menulis artikel, dan kini lebih suka bersantai sewaktu weekend, menonton siaran langsung pertandingan NBA di televisi, membaca buku, memutar DVD yang telah dibeli beberapa minggu sebelumnya tapi belum sempat ditonton, atau sekedar berjalan-jalan keliling komplek di pagi hari bersama dengan istri dan anak-anak saya.

Lama-lama saya menyadari bahwa kalau saya membiarkan blog ini tidak pernah diapdet, justru malah saya sendiri yang rugi karena kehilangan momentum untuk senantiasa mengasah ilmu dan melakukan riset untuk memperdalam pemahaman saya (yang masih dangkal) di dunia human capital dan karir pada umumnya.

Untuk itulah saya sekarang mencoba untuk back on track dan menebus “dosa” akibat tidak memperbaharui artikel di blog ini dengan menuliskan 25 hal (yang saya pikir cukup menarik) berkaitan dengan karir yang saya temui dalam 30 hari terakhir:

1. Social Media Boomerang. Hati-hatilah dalam menuliskan apapun yang berkaitan dengan pekerjaan anda di berbagai social media, misalnya: Twitter, Facebook ataupun Linkedin. Anda tentunya tidak ingin mengalami kejadian konyol seperti orang ini.

2. Number One Reason. Menurut Leigh Branham dalam bukunya berjudul The 7 Hidden Reasons Employees Leave, alasan nomor satu dari seorang profesional yang meninggalkan perusahaannya untuk pindah bekerja ke tempat lain adalah ketika lingkup pekerjaan (the job) atau lingkungan dimana ia bekerja (the workplace) dirasa tidak sesuai dengan ekspektasi awal ketika dirinya bergabung. Untuk itu metode rekrutmen yang efektif menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa the right person is in the right place to do the right job.

3. Important Lesson. Ketika menyaksikan film Click yang dibintangi Adam Sandler untuk ketiga kalinya beberapa hari yang lalu di kanal AXN, saya kembali diingatkan untuk mematuhi pesan moral yang ingin disampaikan dalam film itu; sesibuk apapun anda dalam pekerjaan, ingatlah selalu bahwa keluarga harus senantiasa diprioritaskan (family comes first).

4. Positive Facebook. Berbeda dengan Mas Yodhia Antariksa yang kontra dengan Facebook, saya cenderung melihatnya dari sisi positif asal bisa memanfaatkannya secara tepat. Facebook memberikan kesempatan untuk memperluas professional network. Siapa tahu teman SD anda yang sudah belasan atau puluhan tahun tidak bertemu sekarang sudah menjadi HR Manager di perusahaan asing dan membutuhkan profesional dengan kualifikasi seperti yang anda miliki?

5. Five Steps Behind. Kesempatan untuk berbicara dengan banyak profesional di bidang HR ketika menghadiri HR Conference 2009 membuka mata saya bahwa ternyata masih banyak perusahaan diluar sana yang menganggap karyawan sebagai obyek atau sekedar alat pelengkap untuk menjalankan proses produksi, dan bukannya sebagai subyek atau aset penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

6. Promising Opportunity. Ada kesempatan bagus untuk anda yang menekuni karir di bidang perpajakan untuk menambah penghasilan. Menjelang akhir masa penyerahan SPT tanggal 31 Maret 2009 nanti saya yakin banyak profesional yang pusing dalam melakukan perhitungan dan pengisian form pajak. Biaya konsultasi Rp 250 ribu per orang saya pikir harga wajar untuk membantu orang lain yang masih sangat awam soal pajak.

7. Planning to Quit? Cobalah mengerjakan kuis ini untuk mengetahui apakah anda memang memiliki cukup alasan yang tepat untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat anda bekerja sekarang.

8. Different Perspective. Selama ini saya selalu melihat kualitas kandidat dengan urutan K-C-E-P (Knowledge, Competencies, Experience, Personality), tapi menjadi sangat menarik ketika ada beberapa perusahaan yang justru lebih suka melihat kualitas kandidat dengan urutan P-E-C-K (Personality, Experience, Competencies, Knowledge). Itu artinya karakter kepribadian anda yang paling diperhatikan diawal, biasanya untuk melihat apakah anda bisa masuk dan melebur kedalam kultur perusahaan yang bersangkutan.

9. Insider Information. Ada bocoran informasi dari orang dalam untuk anda yang ingin bekerja di salah satu anak perusahaan grup Astra (saya tidak akan menyebutkan yang mana). Ketika menyeleksi kandidat untuk dipekerjakan dengan serangkaian tes dan asesmen yang melelahkan, sebetulnya hanya tiga hal yang ingin mereka ketahui: Work Standard, Initiative, Analysis. Ketika seorang kandidat bisa mencapai skor tinggi di ketiga aspek tersebut, welcome aboard!

10. PDF or DOC. Ketika mengirimkan CV kemanapun, ingatlah selalu untuk hanya mengirimkannya dalam salah satu format yang berlaku universal: PDF atau DOC. Jangan dengan format yang lain. Kadang saya masih sering heran ketika menerima CV yang dengan format XLS. Kenapa juga harus membuat CV dengan MS Excel kalau ada MS Word?

11. Balanced Life. Masih berkaitan dengan poin nomor 3 diatas, beberapa hari yang lalu saya menemukan 10 tips menarik dari Forbes.com untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dan kehidupan personal. Meskipun tidak semuanya bisa diterapkan di Indonesia, tapi tidak ada salahnya juga untuk dibaca dan menjajaki untuk mengaplikasikannya dalam situasi dan kondisi anda sekarang.

12. Formal Dress. Saya masih sering tidak habis pikir, kenapa masih banyak profesional pria yang datang memenuhi panggilan interview hanya dengan mengenakan kemeja lengan panjang tanpa dasi? Kecuali anda datang memenuhi panggilan interview untuk posisi office boy, saya pikir kemeja lengan panjang + dasi + celana formal adalah standar etika berpakaian yang harus dipatuhi untuk menghormati calon employer anda sekaligus menunjukkan kesan profesional.

13. Breaking The Law. Harus diakui bahwa masih banyak perusahaan (baik lokal maupun multinasional) yang membuat perjanjian kerja dengan berbagai klausul yang tidak mengindahkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia. Padahal konsekuensinya fatal, perjanjian kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan tersebut dapat dimintakan pembatalan ke pengadilan atau malah batal demi hukum.

14. Reputation is Everything. Seandainya pun anda di-PHK dan sangat memerlukan uang, jangan sesekali mempertaruhkan reputasi profesional anda seperti para wanita di artikel ini. Saya yakin dalam kondisi sesulit apapun masih banyak cara mencari uang yang lebih terhormat.

15. Uncertain Times. Dalam kondisi perekonomian yang masih tidak menentu, saya sangat memaklumi bila makin banyak orang yang lebih memilih untuk bertahan bekerja di perusahaannya sekarang dengan status permanen dibandingkan pindah ke perusahaan lain dengan status kontrak, meskipun tawaran gajinya empat kali lipat dari gaji yang diterimanya saat ini.

16. Tax Avoidance. Anda menerima gaji limabelas juta rupiah per bulan, kira-kira apa yang anda lakukan ketika dalam slip gaji anda hanya tercantum jumlah empat juta rupiah meskipun yang masuk dalam rekening anda tetap limabelas juta rupiah? Sekedar informasi, ternyata banyak juga perusahaan di Indonesia yang menerapkan praktek seperti ini untuk menghindari membayar pajak penghasilan yang lebih tinggi.

17. Long Lasting. Apa kuncinya seseorang tahan bekerja sekitar 30 tahun di perusahaan yang sama? Kata kandidat saya, “Kuncinya hanya satu, Pak Haryo. Selalu bersyukur bahwa saya bisa menafkahi keluarga dengan bekerja di perusahaan multinasional ini, meskipun dengan latar belakang pendidikan hanya STM saya mesti merintis karir mulai dari bawah.”

18. Office Location. Berbicara dengan beberapa kawan yang berkantor di bilangan segitiga emas Jakarta, mereka tampaknya makin tidak tahan dengan kemacetan yang mesti dihadapi setiap hari. Mereka berandai-andai lokasi kantor mereka pindah ke bilangan TB Simatupang, entah di Gedung Talavera, Ratu Prabu 2 atau Beltway, dimana kemacetan tol JORR (menurut mereka) masih lebih bisa ditolerir dibandingkan kemacetan tol dalam kota. Lah, kalau semua pindah ke Simatupang, saya yang jadi kena macet dong?

19. Money Wasters. Dalam masa kampanye pemilihan umum ini, para calon anggota legislatif dan partai-partai peserta pemilu menghamburkan dana miliaran rupiah untuk merebut suara pemilih. Saya berpikir daripada uang sebanyak itu digunakan untuk memasang poster berbagai ukuran yang membuat pemandangan di seluruh penjuru kota makin kumuh atau digunakan untuk menanggap artis dangdut di panggung kampanye, alangkah baiknya kalau ada yang berinisiatif untuk memanfaatkan uang kampanye tersebut dengan menyelenggarakan workshop kewirausahaan untuk para korban PHK di berbagai daerah. Insya Allah akan jauh lebih bermanfaat dan efektif untuk merebut simpati masyarakat.

20. Always Connected. Perangkat Blackberry tampaknya makin populer saja, sampai-sampai Research in Motion selaku produsennya berniat untuk membuka cabang di Indonesia. Tapi dibalik kepopuleran Blackberry, ternyata alasan untuk membeli perangkat tersebut kadang kala kurang tepat juga. Katanya membeli Blackberry adalah sebuah upaya untuk tetap produktif bekerja dan agar bisa dihubungi melalui email kapan saja. Nah, kalau anda di kantor lebih banyak duduk di depan komputer, bukankah itu juga membuat anda bisa dihubungi melalui email kapan saja?

21. Bad Numbers. Anda mau tahu berapa banyak rasio CV yang saya shortlist untuk di-interview, berapa banyak CV yang saya masukkan database, dan berapa banyak CV yang langsung saya hapus dari hasil memasang iklan lowongan kerja di JobsDB.com minggu lalu? 1 : 1 : 18 — artinya dari setiap 20 CV yang saya terima hanya satu CV yang memenuhi job requirements.

22. Read Carefully. Masih berkaitan dengan nomor 21 diatas, penyebab terbesar kenapa rasionya bisa sangat buruk adalah karena banyak sekali orang yang seakan-akan tidak membaca job requirements yang sudah dicantumkan dengan sangat jelas. Kemudahan untuk mengirimkan CV melalui internet kadang membuat orang tidak peduli lagi apakah kualifikasinya memenuhi job requirements atau tidak. Kirim dulu, masalah ditolak itu urusan belakang. Well, I don’t think that’s a very good mindset for you to have.

23. Cutting Cost. Dalam situasi krisis finansial global seperti sekarang ini, saya berpikir kebijakan banyak perusahaan untuk menekan pengeluaran merupakan langkah wajar yang mesti diambil. Tapi yang saya masih tidak habis pikir, kenapa masih ada juga beberapa perusahaan yang ragu untuk segera mempekerjakan top performer yang mungkin justru bisa membawa perusahaan keluar dari kondisi krisis? It’s a very calculated risk they should have to take.

24. Professional PDF. Masih berkaitan dengan CV, beberapa hari lalu saya menemui sebuah CV dalam format PDF yang dibagian footer-nya tercantum watermark warna merah yang menyebutkan bahwa file PDF tersebut dibuat dengan web based converter gratisan yang ada di internet. Daripada terlihat kurang profesional, untuk anda yang ingin membuat file PDF dan menggunakan sistem operasi Windows, silakan install program gratisan yang selama ini saya pergunakan, namanya PrimoPDF. Alternatif lainnya bisa juga anda meng-install program OpenOffice yang memiliki fasilitas export to PDF.

25. Manpower Law. Untuk anda yang masih bekerja di tempat orang sebagai profesional, atau justru sudah mulai mempekerjakan orang sebagai pengusaha, tidak ada salahnya untuk mengunduh dan membaca UU No. 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan.

26. Only God Knows Best. Yang terakhir ini sebetulnya hanya selingan, terkait dengan karir saya. Tanggal 1 Maret 2009 lalu saya mengikuti ujian seleksi tahap 1 program S2 di Universitas Indonesia. Ketika pengumuman tanggal 14 Maret 2009, alhamdulillah, saya lulus ujian tahap 1. Setelah itu saya sudah menyerahkan seluruh berkas dokumen yang diperlukan untuk seleksi tahap 2 (pemeriksaan administrasi) dan sekarang tinggal menunggu hasil pengumuman tanggal 4 April 2009 yang akan datang. Mengingat saya dulu lulus S1 dengan predikat sangat mengenaskan alias lulus dengan IP jeblok, terus terang saya kok jadi agak pesimis bisa lolos dan diterima di program S2 ya? Pokoknya sekarang saya hanya pasrah saja, kalau nanti saya diterima Insya Allah bisa membawa barokah, kalau tidak diterima ya berarti uangnya bisa dipakai membeli susu untuk anak-anak saya, hehehehe…

Quote of the Day:

“You learn something every day if you pay attention.” by Ray LeBlond

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

11 thoughts on “25 Hal Berkaitan dengan Karir yang Saya Temui dalam 30 Hari Terakhir

  1. Plugie

    Tertarik dengan point dua di atas. Saya sekarang benar2 lagi bimbang. Dapat tawaran di perusahaan publik multinasional dengan jumlah karyawan puluhan ribu dan kesempatan mendapatkan ilmu dan teknologi yang lebih baik dari sekarang akan tetapi dengan salary per tahun lebih rendah dari sekarang.

    Perusahaan saat ini hanya perusahaan private dengan jumlah karyawan kurang dari 50. dan saya sudah benar2 jenuh dengan pekerjaan sekarang.

    TAPI:

    SALARY itu lho yang benar2 membuat bimbang, sehingga saya kurang setuju dengan point 2 di atas.

    [Reply]

    Reply
  2. Yayat Hidayat

    Untuk Point 26, saya setuju, Tuhanlah yang paling tahu apa yang terbaik buat hambanya.
    Nggak usah pesimis, saya ikut berdoa biar Mas Haryo diterima di Program S2 UI. Nanti ilmunya bagi-bagi ya

    [Reply]

    Reply
  3. Pingback: How tweet your way into unemployment « Sanggita

  4. Bundanya Dita

    Berkaitan dengan no 22, itu juga yang saya lakukan sewaktu masih fresh graduate dulu hehehe. Kalau membaca lowongan kerja di koran : Dibutuhkan Manager, berpengalaman sekian th dibidangnya dst…tetep saja sok yakin ngirim lamaran πŸ˜€ . Meski saat itu belum begitu populer ngirim CV lewat internet, ya ngirimnya lewat pos. Udah mahal, niat banget lagi, padahal ternyata cuma dibuang di tempat sampah sama HRD ya πŸ˜€ . Namanya juga usaha (konyol) πŸ™‚

    [Reply]

    Reply
  5. Haryo

    @ Pak Yayat : Ilmu pasti dibagi-bagi, Pak. Jangan kuatir!

    @ Plugie : Aplikasi yang sangat berguna untuk yang membutuhkan. Salut!

    @ Bundanya Dita : Hahahaha… padahal dulu waktu email belum populer, modalnya gede juga ya untuk beli kertas conqueror + perangko + amplop?

    [Reply]

    Reply
  6. Fajri

    Mas Haryo, thanks for the sharing.
    Komen:
    poin 12, kenapa harus lengan panjang dan dasi Pak? Tidak semua perusahaan khan dress codenya seformal itu. Justru yang saya sering lihat interview pake lengan panjang dan dasi adalah sales (no offense).
    justru saya tidak terlalu suka pakai lengan panjang, karena iklim di Indonesia yang terlalu panas dan kulit yang mudah berkeringat dan sensitif.

    poin 6, memang promising oportunity. namun ikut aturan lebih baik πŸ™‚ jadi sebaiknya jangan dikomersialkan jika belum lulus USKP A (untuk WP orang pribadi) atau USKP B/C untuk WP Badan.
    karena aturannya konsultan pajak harus lulus USKP dan beregister.
    (nyang udah lulus USKP A tapi lom register πŸ™‚ )

    [Reply]

    Reply
  7. Fajri

    poin 16, ini yang bikin “Gayus” nggak bisa dibrantas :angry:

    poin 18, saya juga nyarinya perusahaan nyang officenya di TB Simatupang, Jl Raya Bogor, or di Bogor sekalian πŸ™‚

    poin 16, yang penting khan berusaha Pak. Insya Allah, Allah lebih tahu apa yang baik bagi hamba-Nya.
    Semoga meneruskan belajar di jenjang S2 ini adalah yang baik bagi Bapak, dan Allah memberikan hal baik ini πŸ™‚

    [Reply]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *