15 Jun
Posted by: Haryo in: Career, Headhunter's Life
Hanya beberapa jam setelah mem-posting tulisan saya minggu lalu, saya dihubungi oleh Mas HP yang ingin berkonsultasi mengenai karirnya. Beliau menyambut undangan saya untuk berkonsultasi one-on-one secara gratis.
Disepakati bahwa kami akan bertemu di Cibubur Junction pada hari Jumat siang, tanggal 12 Juni 2009 yang lalu. Dari pembicaraan sekitar tiga jam tersebut ada beberapa hal yang mungkin cukup menarik untuk di-share dengan para pembaca blog saya lainnya sebagai berikut: Read the rest of this entry »
Pagi tadi ketika sarapan sambil sibuk “menyiksa” remote control televisi, secara tidak sengaja saya menyaksikan sebuah wawancara yang dilakukan di studio dalam acara Primetime Morning di Channel NewsAsia.
Wawancara berkutat pada kisah seorang warga negara Singapura keturunan India (kita sebut saja Mr. A) yang memiliki dua gelar master (di bidang bisnis dan IT kalau tidak salah) yang selama hampir tujuh bulan terakhir mengalami kesulitan mencari pekerjaan ketika krisis perekonomian global mulai terasa imbasnya di negara tetangga yang luasnya kurang lebih sama dengan kota Semarang tersebut.
I have been doing another experiment on my website since yesterday. Considering that I’m officially an independent recruiter now, I think it’s very important to let my website’s readers know what kind of jobs that I’m currently handling.
So I decided to (beta) launch the jobs section on my website, which will be called jobs@suryosumarto.com. I believe sooner or later it will make my job in serving my clients a bit easier, because now I could find the CVs of highly qualified candidates that matched with the job requirements right inside my email inbox.
The drawback is I didn’t have much time to put other job vacancies that I’m currently handling on that jobs section, so more improvements and more job vacancies will be listed there as soon as possible.
I hope it would be useful for all of you, and who knows that somewhere in the near future you might find your dream job through jobs@suryosumarto.com.
Satu hal yang sudah saya antisipasi dari awal ketika memutuskan untuk menjadi konsultan independen adalah tuntutan untuk bisa menjadi seorang multi tasker yang efisien. Membalas email klien, menelepon prospective client, merevisi kontrak (untung saya dulu kuliah di Fakultas Hukum!), menyiapkan proposal, berbicara dengan kandidat, membangun database kandidat, membaca berita-berita aktual seputar Pemilihan Presiden, mengikuti perkembangan berbagai isu baru di dunia HR, mengikuti berita playoff NBA, bermain Twitter, mengakses Facebook, menonton acara BBC Knowledge, bermain dengan kedua putri saya, menjemput istri pulang kantor, dan berusaha menaikkan berat badan adalah sebagian aktifitas rutin harian saya sekarang.
*kalau dibaca lagi, kok kegiatan yang tidak berkaitan justru lebih banyak ya?*
Saya sering menjumpai klien yang tidak mau berurusan dengan para kutu loncat. Kutu loncat atau sering juga disebut job hopper — yang dalam hal ini adalah profesional yang punya track record berpindah-pindah perusahaan dalam waktu relatif singkat — di mata para klien tersebut tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan bisa bertahan lama bekerja di satu tempat, termasuk bekerja di perusahaan mereka tentunya.
Tidak bisa dipungkiri kalau di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya masih banyak perusahaan yang menganggap bahwa loyalitas kepada si employer yang tercermin dari berapa lama seseorang bekerja di satu perusahaan tertentu sebagaimana yang tercantum dari CV-nya adalah salah satu faktor penting dalam menentukan apakah orang ini akan diproses lebih lanjut atau tidak pada sebuah proses rekrutmen.
Per tanggal 4 Mei 2009, saya secara resmi telah mengundurkan diri dari Monroe Consulting Group. Satu perusahaan multinasional di bidang jasa konsultasi rekrutmen yang telah banyak memberikan pengalaman kepada saya sebagai salah satu konsultan yang terlibat dalam penanganan proses rekrutmen berbagai posisi pada bermacam perusahaan, baik lokal maupun multinasional yang menjadi kliennya.
Sejujurnya harus diakui bahwa keputusan ini merupakan salah satu keputusan terberat yang pernah saya ambil selama hidup saya. Saya merasa senang bekerja di sana dan dengan unsur kekeluargaan yang sangat kental — tidak hanya dengan sesama karyawan di dalamnya, tapi juga keakraban saya dengan para karyawan pengelola gedung Wisma Kemang — membuat saya betul-betul merasa berat meninggalkan Monroe Consulting Group.
Beberapa tahun yang lalu sebelum menjadi konsultan di bidang rekrutmen, saya tidak terlalu peduli kalau ada rekan yang berkeluh-kesah ketika sedang menjalani proses rekrutmen di sebuah perusahaan.
Namun kini setelah saya berkecimpung di bidang rekrutmen dan mencoba mengingat-ingat kembali, ternyata kebanyakan rekan-rekan yang berkeluh kesah kala itu memiliki sebuah kesamaan, mereka rata-rata berharap dalam proses rekrutmen tersebut tidak ada tahapan psikotes yang mesti dilalui.